Kamis, 12 Oktober 2017 10:58 WITA

Membumikan Indonesia dengan Pustaka dan Baca

Editor: Almaliki
Membumikan Indonesia dengan Pustaka dan Baca

Oleh ; Hikmawaty Sabar
Mahasiswa Pascasarjana Universitas Hasanuddin

Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas--Mohammad Hatta

Kutipan di atas menyalurkan pesan berharga tentang arti penting sebuah buku. Dengan buku, kita dapat melihat berbagai sisi kehidupan. Buku menjadi medium transformasi ilmu, wadah aktualisasi ide dan kreatifitas, serta menjadi area pengembangan wacana dan wawasan seputar kehidupan.

Buku dan membaca adalah dua hal yang hidup dalam satu konsep keterikatan. Buku akan bermakna dengan membaca, dan membaca adalah proses internalisasi ilmu dari buku menuju proses berpikir manusia. Namun, buku itu menjadi sia-sia semata, jika dalam kenyataannya, intensitas atas kebiasaan membaca tidak menunjukkan performa peningkatan.

Potret Terkini

Permasalahan masyarakat Indonesia dalam hal budaya baca memang patut direspons secara serius dan mendesak. Dalam kurun beberapa tahun terakhir, Indonesia masih menempati posisi rendah dalam hal minat membaca. Data yang dirilis oleh United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) pada tahun 2014
menyebutkan, minat baca masyarakat Indonesia adalah 0,001 persen, yang berarti bahwa dalam seribu masyarakat, hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca. (1. UNESCO. Understandings of Literacy. Education for All Global Monitoring Report. (Online). http://www.unesco.org/education/GMR2006/full/chapt6_eng.pdf)

Studi terbaru tentang Most Littered Nation In the World yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada tahun 2016 lalu, malah menempatkan Indonesia pada peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. (2. Gewati, Mikhael. 2016. Minat Baca Indonesia Ada di Urutan ke-60 Dunia. (Online). http://edukasi.kompas.com/read/2016/08/29/07175131/minat.baca.indonesia.ada.di.urutan.ke-60.dunia)

Fakta tersebut juga didukung oleh survei tiga tahunan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai minat membaca dan menonton anak-anak Indonesia, yang terakhir kali dilakukan pada tahun 2015, disebutkan bahwa hanya 13,11 persen penduduk berumur 10 tahun ke atas yang memiliki minat baca. Sementara, yang memiliki minat menonton
televisi mencapai 91,47 persen. (3. Badan Pusat Statistik. Indikator Sosial Budaya 2003, 2006, 2009, 2012, dan 2015. (Online). https:// www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1234)

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia sangat mempengaruhi kualitas bangsa Indonesia, sebab dengan rendahnya minat baca, kita tidak bisa mengetahui dan mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi di dunia, yang pada akhirnya akan berdampak pada ketertinggalan bangsa Indonesia. (4. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. 2015. Rendahnya Minat Baca Berpengaruh Terhadap Kualitas Bangsa. (Online). http://gpmb.perpusnas.go.id/index.php?module=artikel_kepustakaan&id=42)

Banyak faktor yang menyebabkan minat baca masyarakat Indonesia (anak-anak) rendah. Faktor tersebut antara lain sistem pembelajaran di Indonesia belum membuat anak-anak harus membaca buku; banyaknya jenis
hiburan, permainan (gim) dan tayangan TV yang mengalihkan perhatian anak-anak dari buku; sarana untuk memperoleh bacaan, seperti perpustakaan atau taman bacaan, masih merupakan barang yang sulit dan langka; minimnya koleksi buku di perpustakaan; kurangnya peran dan tanggungjawab orang tua terhadap anak dalam menanamkan kebiasaan membaca buku di lingkungan keluarga sejak dini.

Kebijakan Pemerintah

Upaya menumbuhkan minat baca bukannya tidak dilakukan. Pemerintah melalui lembaga yang relevan telah mencanangkan program minat baca. Hanya saja yang dilakukan oleh pemerintah maupun institusi swasta untuk menumbuhkan minat baca belum optimal. (5. Karyono, Hari. 2007. Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini. (Online). Perpustakaan Digital Universitas Negeri Malang. http://library.um.ac.id/index.php/Jurnal-Perpustakaan- Sekolah/menumbuhkan-minat- baca-sejak- usia-dini.html)

Makanya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia melakukan beberapa gerakan seperti Gerakan Literasi Sekolah, Gerakan Indonesia Membaca, Gerakan Literasi Bangsa, dan Guru Membaca Guru Menulis. Tidak hanya itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia juga menghadirkan program berupa Gerakan Nasional Gemar Membaca dan Kunjungan Perpustakaan, Mobil Perpustakaan Keliling, dan Perpustakaan Terapung.

Berbagai program dan gerakan tersebut seolah belum memberi banyak perubahan dalam memperbaiki kualitas minat baca anak-anak di Indonesia. Penerapan yang tidak konsisten terhadap rangkaian program tersebut bisa menjadi pemicu sulitnya minat baca tumbuh dan berkembang. Jika berlarut-larut, bukan tidak mungkin kebijakan yang dikeluarkan pemerintah hanya sebatas solusi di atas kertas.

Inovasi Sekolah

Menjaga minat agar tetap menyala, bersinar, dan membara juga bukanlah perkara gampang. Dibutuhkan solusi yang bersifat intens. Kreasi dan inovasi akan sangat diperlukan dalam menyikapi permasalahan minat baca pada anak-anak saat ini.

Inovasi sekolah yang dapat dilakukan antara lain; pertama, 15 menit yang menyenangkan. Sebelum proses belajar mengajar, guru dan siswa bersama-sama membaca sebuah cerita pendek dengan durasi 15 menit; kedua, Program Satu Anak Satu Buku. Setiap anak diwajibkan memiliki satu buku yang harus dibawa setiap hari ke sekolah. Tujuan dari program ini adalah mengenalkan anak pada buku dan melatih membacanya setiap hari.

Ketiga, Weekend Bersama Buku. Hari Sabtu yang biasa dijadikan sebagai hari beraktivitas bebas untuk anak, bisa dimanfaatkan dengan memaksimalkan waktu anak bersama buku; keempat, Dinding Harapan. Setiap anak diberi kebebasan menuliskan apa saja yang telah dibacanya atau yang telah dialaminya, baik tentang cita-cita, keinginan, maupun mimpi-mimpinya.

Kelima, Metamorfosa Perpustakaan. Metamorfosa perpustakaan dengan desain unik, peralatan seperti meja dan kursi yang menarik, ruangan yang sejuk, suasana yang menyenangkan, adalah beberapa teknik yang dapat dilakukan untuk menghidupkan perpustakaan.

Keenam, Kolaborasi Koleksi Buku. Penambahan koleksi berupa buku bacaan anak-anak yang mampu menarik minatnya untuk membaca, seperti buku cerita lengkap dengan visualisasinya, buku belajar berhitung, ensiklopedi anak, media auditori (kaset, CD), dan media digital.

Ketujuh, Kelasku Jendela Ilmuku. Jika kebanyakan hanya dipenuhi jadwal belajar dan sederet poster perhitungan dan foto pahlawan, maka perlu dilakukan variasi tambahan berupa rak-rak buku ukuran minimalis, kata-kata motivasi seputar dunia baca, dan karya-karya.

Kedelapan, Gotong Royong Budayakan Membaca. Poin ini menjadi titik komitmen seluruh pihak, dimulai dari keluarga, aparat sekolah, dan masyarakat. Semua elemen dalam setiap inovasi di atas diharapkan mampu menjadi pusat yang membumikan Indonesia dengan peradaban maju dan menjadi pelita yang menerangi sisi gelap minat baca pada anak-anak Indonesia. Kita tidak boleh lagi terlalu lama meratapi kemerosotan, apalagi membiarkannya terjerembab jatuh berkali-kali. Sekarang, mulai hari ini, revolusi budaya baca wajib kita lakukan bersama. ***

Tags