05 October 2017 23:47 WITA

Opini

Khitbah Dalam Politik Vs Khitbah Dalam Pertunangan

Editor: Adil Patawai Anar
Khitbah Dalam Politik Vs Khitbah Dalam Pertunangan

 Khitbah adalah peminangan yang dilakukan oleh seorang laki-laki kepada seorang perempuan. Dalam pandangan Islam, ada beberapa persyaratan penting yang harus dilakukan dalam proses peminangan. Pertama, laki-laki harus mengenal wanita yang dipinangnya, kedua, wanita yang dipinangnya tidak dalam proses dipinang oleh laki-laki lain dan ketiga, tidak meminang perempuan dalam masa iddah.

Inilah etika peminangan dalam islam yang telah menjadi tradisi, adat istiadat sepanjang perjalanan umat manusia sejak empat belas abad lamanya. Bahkan tradisi ini tumbuh subur sejak zaman jahiliyah.
 
Mengenang masa-masa SMA dulu, ada etika dari sesama teman ketika diketahui bahwa si fulan sudah berpacaran dengan si anu, maka timbul rasa segan dari sesama teman untuk mengkhitbahnya (memacarinya)m dalam istilah gaulnya ketika itu tidak boleh saling melacci. Meskipun calon mertua sekalipun menawarinya.

Itulah tata krama yang tumbuh subur dikalangan remaja atau pemuda orang Bugis Makassar. Dalam dunia politik, agaknya tata krama khitbah ini terkubur dalam-dalam. Padahal menurut saya jika tradisi khitbah ini tumbuh dalam politik akan memberikan angin segar bagi politisi muda di Sulsel.

Selain itu, akan tumbuh tunas-tunas muda politik yang menjunjung tinggi nilai-nilai sipakatau, sipakalabbiri. Dalam sebuah diskusi saya pernah mencoba menganalogikan khitbah terhadap tunangan dengan khitbah dalam politik. Salah seorang teman diskusi menyanggahnya dan mengatakan bahwa dunia politik dengan dunia pertunangan adalah dunia yang berbeda sehingga etikanya juga berbeda.

Katanya, dunia pertunangan adalah dunia yang suci dan sakral sementara dunia politik adalah dunia kotor yang penuh dengan intrik. Saya cuma tersenyum, bahwa mahar dalam perkawinan sudah dianalogikan juga dengan mahar parpol, sembari saya memberikan penjelasan bahwa kalau saudara tidak mau menyamakan, atau setidak-tidaknya tidak pas dengan analogi pinangan untuk jadi istri.

Pinangan parpol untuk kendaraan politik, setidak-tidaknya ada beberapa titik persamaan kenapa secara etika tidak boleh meminang perempuan jika ada laki laki lain yang sedang meminangnya. Antara lain yaitu, pertama, mengganggu suasana psikologis yang akan berujung pada putusnya silaturrahim. Kedua, meminimalisir kemungkinan berkembangnya fitnah di tengah-tengah masyarakat, dan ketiga, tumbuhnya persaingan tidak sehat yang akan melahirkan berbagai macam konflik.

Inilah antara lain dampak larangan mengkhitbah perempuan yang sedang dalam pinangan seorang pria dan dampak ini juga akan terjadi dalam politik, sehingga analogi ini patut menjadi renungan bagi siapa pun yang mengarungi bahtera politik, wallahu A'lambisshawab.

Oleh: Wakil Ketua DPW PAN Sulsel, Usman Lonta.

Tags