Senin, 25 September 2017 16:34 WITA

Opini

Menentukan "Slogan Politik"

Editor: Mulyadi Abdillah
Menentukan
Nursandy Syam

BANYAKNYA daerah yang menggelar Pilkada 2018 tentu menyajikan dan menawarkan pesan kampanye politik yang beragam dari masing-masing kandidat. Mengemas pesan kampanye dengan baik menjadi langkah yang wajib ditempuh oleh kandidat bersama tim suksesnya. 

Merumuskan pesan kampanye politik memang bukanlah perkara mudah. Menentukan kontennya membutuhkan analisis, kreatifitas dan tujuan yang jelas.

Seringkali kita menemui dan mendengar pesan politik yang tak jelas makna dan arahnya. Mungkin bagi sebagian pihak, pesan politik tidak begitu penting dalam pilkada. Padahal salah satu dosa utama dalam kampanye politik adalah gagalnya menentukan pesan dan mengarahkan pesan itu ke rumah para pemilih. Memilih dan berpegang pada pesan yang dipikirkan dengan baik adalah kunci kesuksesan berkontestasi.

Secara sederhana, pesan kampanye adalah konsep inti yang ingin kandidat sampaikan kepada para pemilih. Gagasan kandidat yang ingin diperdengarkan dan dipikirkan saat pemilih mendengar nama kandidat.

Setelah menentukan dan mengembangkan pesan kampanye politik, penting bahwa setiap komunikasi dengan para pemilih berpusat di sekitar pesan itu. Jika mengharapkan para pemilih mengetahui pesan politik dan langsung mengaitkannya dengan kandidat, perlu upaya terus menerus mengingatkan pemilih tentang pesan seorang kandidat.

Apapun bentuk kampanye yang dilakukan untuk berbicara dengan para pemilih, seorang kandidat harus menggunakan setiap kesempatan secara singkat guna mengirimkan pesan hingga lingkup terkecil dalam suatu wilayah.

Setiap kali kandidat membuat pidato, berpartisipasi dalam debat, atau melakukan wawancara, dia harus memusatkan pembicaraan pada pesan kampanyenya. Bahkan jika pertanyaan yang diajukan atau topik pembicaraan tidak terkait dengan pesan, kandidat harus berlatih cara untuk memberikan jawaban.

Demikian pula, setiap komunikasi yang keluar dari kampanye politik, apakah itu siaran pers, iklan radio atau TV, atau beberapa komunikasi lainnya harus berfokus untuk mengingatkan para pemilih siapa nama kandidat dan pesan kampanyenya apa.

Pemilih memiliki memori yang pendek. Sedikit pemilih yang bisa mengingat masing-masing nama kandidat, apa masalah dan biografi mereka, apa yang telah mereka lakukan dan apa yang akan mereka lakukan. Cukup sulit membuat pemilih mengingat nama seorang kandidat, apalagi diperhadapkan dengan wilayah pemilihan yang cukup luas. Sementara kandidat harus memiliki substansi dalam menyajikan pendapat kepada pemilih dan media, komunikasi harus berkisar pada pesan kampanye politik seorang kandidat. Tujuannya adalah agar para pemilih setidaknya mengingat nama dan pesan kandidat saat mereka masuk ke tempat pemungutan suara (TPS).

Salah satu cara terbaik agar pemilih dapat mengingat pesan politik kandidat yakni dengan merangkumnya dalam beberapa kata atau frasa singkat yang sering disebut "slogan politik".  Mengembangkan slogan yang baik adalah sebuah seni.

Menentukan slogan politik tidak harus kalimat yang puitis atau membuat orang tersenyum hingga tertawa. Yang harus dilakukan adalah menyampaikan pesan politik kandidat. Pastikan bahwa rata-rata pemilih mendengar slogan politik, tahu apa pesan kandidat hanya karena mendengar slogan tersebut.

Slogan tidak perlu kalimat yang panjang, apalagi hingga terlihat seperti kalimat koran. Sebaiknya tidak boleh lebih dari satu kalimat. Slogan yang paling bagus satu frase atau dua sampai tiga frase yang saling terkait.

Selama masa kampanye, para pemilih disuguhkan dan dibombardir dengan puluhan slogan dari kandidat yang berbeda. Agar mudah diingat, perlu ada diferensiasi, menggunakan kata-kata yang emosional sehingga memberi dampak psikologis bagi para pemilih dan menyebabkan mereka mengingat slogan dan pesan seorang kandidat.

Slogan politik harus konsisten, jika sering berganti maka kualitas pesan menjadi tidak terarah dan membingungkan pemilih. Olehnya itu, kemampuan tim kandidat dalam merumuskan dan merangkai kata menjadi hal yang sangat penting dimiliki dalam menghadapi proses kontestasi.

Penulis: Nursandy Syam
Konsultan Politik Jaringan Suara Indonesia