Jumat, 27 Mei 2016 09:11 WITA

Mimbar Jumat

Perdamaian dan Rasa Cinta

Editor: Andi Chaerul Fadli
Perdamaian dan Rasa Cinta

Sesungguhnya perdamaian termasuk diantara sebab munculnya rasa cinta dan perekat keretakan. Terkadang perdamaian itu lebih baik daripada hukum yang diputuskan hakim. 

Dalam perdamaian, ada pahala dari Allah SWT dan ada dosa yang dihapuskan. Termasuk di dalamnya, pertikaian dalam rumah tangga. 

Namun untuk kita sadar bersama, semua upaya damai itu tidak akan terwujud kecuali dibarengi keinginan kuat yang nyata serta niat tulus dari semua pihak, antara juru damai dan yang didamaikan. 

Karena Allah SWT mengaitkan perdamaian itu dengan adanya kemauan yang baik dari semua pihak. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

"Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu," (An-Nisa: 35) 

Suatu ketika, Imam Hasan al-Bashri rahimahullah didatangi oleh dua orang yang bertikai dari Tsaqif. Lalu sang Imam berkata, "Kalian berdua masih satu kelompok dan satu kerabat, (kenapa) masih saja bertikai?" 

Mereka menjawab, "Wahai Abu Sa'id, kami hanya ingin damai. "Beliau rahimahullah berkata, "Ya. Kalau begitu kalian bicaralah!" 

Loading...

Akan tetapi keduanya malah saling melempar tuduhan dusta ke lawannya. Melihat ini, sang Imam menjawab, "Demi Allah! Kalian dusta! Bukan perdamaian yang kalian inginkan, karena Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman yang artinya: "Jika kedua orang hakim itu bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi taufiq kepada suami-istri itu," (An-Nisa: 35) 

Sudahi dan hentikanlah pertengkaran dan pertikaian, terutama yang disebabkan hal-hal remeh. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, 

"Maka barangsiapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zhalim. (asy-Syura: 40) 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberkahi saya dan anda semuanya dengan al-Qur'an dan mencurahkan manfaat dari isinya berupa ayat-ayat dan hikmahNya yang Maha Bijak. 

Itulah yang aku ucapkan, jika itu benar maka kebenaran dari Allah. Jika ada yang salah maka dari diri saya sendiri dan dari syetan. Dan aku beristighfar kepada Allah, sesungguhnya Ia Maha Pengampun. 

Sumber: Al Sofwah

Loading...
Loading...