Minggu, 17 September 2017 17:13 WITA

OPINI

Pilkada Enrekang; Skenario Kawin Paksa

Editor: Almaliki
Pilkada Enrekang; Skenario Kawin Paksa

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA
(pengamat Politik Enrekang)

ANGIN sepoi-sepoi menyusuri bukit Gunung Nona, menyasar aur dan tebing di kiri dan kanannya, menerpa pohon-pohon berakar, hitam, seperti rambut keriting kokoh tak bergerak.

Pada hilir gunung penuh pesona itu, air Sungai Mata Allo mengalir deras mengular, meliuk, membelah lembah Kota Enrekang, menyapa Gedung Putih, tempat Bapak Bupati menetap, hingga bertaut dengan Sungai Saddan lalu meluncur deras di Lekkong, tempat produksi danke, sebelum akhirnya turun memberi kehidupan para petani padi di Pinrang.

Gunung Nona adalah terjemahan dari Buttu Kabobong. Dan 'kabobong' dalam bahasa Enrekang adalah alat kelamin wanita. Sedangkan dangke dalam bahasa Jerman adalah 'terima kasih', konon katanya ada orang barat yang diberi keju olahan dari susu sapi khas Enrekang, lalu bule itu mengucapkan, 'dangke!' atau 'terima kasih'. Dari sini asal mula kata 'dangke' secara istilah.

Dangke sekarang dicetak menggunakan batok kelapa yang telah dipotong, persis [sekali lagi maaf] payudara wanita.

Cukuplah dalam tulisan ini saya angkat dua ikon Enrekang dari sekian banyak. Gunung Nona dan Dangke. Sebab keduanya ada relasi dengan pernikahan. Semoga Anda paham.

***

Kabarnya, beberapa daerah di Enrekang, khususnya pedalaman, seperti Ranga, Kaluppini  atau Kaluppang masih ada istilah kawin paksa.

Alurnya secara mainstream begini: Para perantau yang terdiri dari para lelaki itu, telah dianggap berhasil di rantau. Dibuktikan dengan uang segepok dalam genggaman. Si Perantau datang memantau anak gadis sekitar desa, setelah memperhitungkan, menimbang, dan melihat dengan teliti, jatuhlah pilihan pada gadis tercantik yang umumnya masih duduk di sekolah menengah pertama. Si anak dilamar, orang tua setuju, anak menolak, akad nikah tetap jalan.

Malam pertama memberontak, malam kedua belum jinak, malam ketiga setelah 'kabobong' dan 'dankenya' ditelusuri, kedua mempelai akur, dan pasangan nikah paksa itu hijrah ke seberang laut. Di sana ia hidup tenteram jika bernasib baik, atau sedikit menderita, lalu kembali jika kurang baik nasibnya.

***

Hiruk-pikuk Pilkada Enrekang mulai adem-ayem. Teka-teki politik, dan gaya tiki-taka politikus kian terbaca. Skenario head to head dan kawin paksa semakin jelas. 

Head to head dimaksud adalah Bupati versus Wakil Bupati. Muslimin Bando (MB) lawan Amiruddin (AMR). Keduanya besar kemungkinan saling berhadapan pada pemilihan bupati tahun 2018 mendatang.

Di lain pihak, pemilihan wakil baik MB maupun AMR besar kemungkinan terjadi kawin paksa. Artinya calon yang diharapkan atau digadang-gadang MB, belum tentu itu yang dilamar. Atau nama-nama yang bertebaran selama ini, justru tidak diperhitungkan dengan alasan-alasan tertentu, atau karena desakan partai pengusungnya. Akan ada yang gigit jari.

Itu pula yang kemungkinan terjadi pada AMR, yang sejatinya jika ia mencari calon, harus mempertimbangkan geopolitik, bukan egopolitik. Artinya, karena beliau berasal dari daerah pemilihan (Dapil) Enrekang, Cendana, Maiwa, Bungin, maka idealnya harus mengambil pendamping dari area Duri. Baik Dapil dua, atau pun Dapil tiga.

Jika skenario Amiruddin pasangan dengan Masrur Makmur Latanro terjadi, maka ini juga bagian dari kawin paksa sebab berada pada gelanggang yang sama, sementara massa lebih banyak pada dua gelanggang lainnya.

Baik terpaksa maupun suka rela, itu tidak ada masalah dalam sebuah perkawinan selama memenuhi rukun dan syaratnya. Demikian pula dalam pilkada. Saya selaku rakyat jelata hanya menunggu dan melihat, just wait and see!