Kamis, 14 September 2017 17:56 WITA

Pemkab Soppeng Data Rumah yang Tak Miliki Jamban

Editor: Fathul Khair Akmal
Pemkab Soppeng Data Rumah yang Tak Miliki Jamban

RAKYATKU.COM, SOPPENG - Gerakan Soppeng Bebas Ancaman Tinja (SoBAT) yang telah dideklarasikan Bupati Soppeng tanggal 17 Agustus 2017 lalu terus berjalan. Salah satu tahapan penting yang dilakukan, yakni verifikasi data keluarga tanpa jamban. Data akurat dibutuhkan, agar penanganan keluarga yang masih melakukan buang air besar sembarangan (BABS) tepat sasaran. 

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Soppeng, Dipa mengatakan, pendataan merupakan tahapan yang sangat penting. Karena akan mempengaruhi jumlah keluarga yang akan ditangani. Ketersediaan data juga berpengaruh pada skenario penanganan dan penyediaan anggaran.

“Proses pendataan ini sangat penting, karena akan memunculkan fakta sebenarnya yang ada di lapangan. Data harus akurat karena akan berpengaruh pada penyediaan anggaran untuk penanganan jamban keluarga,” ujar Dipa, Kamis (14/9/2017).

Rapat kerja dilakukan Pokja Sanitasi dengan mengundang seluruh Kepala Desa dan Lurah, serta Sanitarian di Kabupaten Soppeng. Keterlibatan mereka diharapkan menghasilkan data yang akurat. Karena baik lurah/kades dan Sanitarian, adalah pihak yang langsung bersentuhan bersama masyarakat.

Dikatakan, sebagaimana Deklarasi SoBAT yang dibacakan Bupati, langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan verifikasi data keluarga tanpa jamban. Dan melakukan inspeksi tangki septik secara mandiri untuk keluarga yang telah memiliki jamban dan tangki septiknya. Dikatakan pula, sebagaimana disampaikan Bupati, Aparatur Sipil Negara (ASN) Pemkab Soppeng adalah target utama untuk pelaksanaan inspeksi mandiri jamban. 

Dalam Rapat Kerja muncul beberapa hal menarik terkait dengan langkah inovatif desa/kelurahan yang melakukan penanganan jamban warganya. Salah satu inovasi dilakukan Desa Marioritenga yang memiliki Peraturan Desa tentang kepemilikan jamban. Peraturan tersebut mengatur warga yang memerlukan layanan administrasi dari desa, memiliki syarat harus memiliki jamban terlebih dahulu sebelum dilayani Pemerintah Desa. 

Penanganan mandiri juga dilakukan desa lainnya, seperti Desa Tellulimpoe yang memberikan jamban gratis kepada warga miskin. Langkah inovasi tersebut, dengan sendirinya telah mengurangi jumlah rumah keluarga tanpa jamban.

Disampaikan Dipa, beberapa inovasi itu diyakini telah mengurangi jumlah keluarga tanpa jamban di Soppeng. Sebagaimana data yang ada, sampai tahun 2017 keluarga tanpa kepemilikan jamban di Kabupaten Soppeng berjumlah 4.750 keluarga. 

Gerakan SoBAT digagas dan dideklarasikan Bupati Soppeng, A Kaswadi Razak beserta jajaran, dilatari masih banyaknya keluarga di kabupaten tersebut yang masih melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS). Indonesia menargetkan bebas BABS tahun 2019, namun Bupati menegaskan akan menuntaskan angka BABS di SOppeng tahun 2018. Untuk merealisasikan tekad tersebut, Bupati mendeklarasikan Gerakan SoBAT. 

Gerakan SoBAT adalah kerja bersama seluruh elemen untuk membebaskan Soppeng dari ancaman tinja tahun 2018. Selain itu, SoBAT juga melaksanakan layanan sanitasi berkelanjutan dengan mengaktifkan penyedotan tinja terjadwal bagi tangki pribadi maupun perkantoran.