13 September 2017 15:57 WITA

Korsel Akan Bentuk Unit Pemenggal Kepala untuk Takuti Kim Jong-un

Editor: Suriawati
Korsel Akan Bentuk Unit Pemenggal Kepala untuk Takuti Kim Jong-un
Marinir Korea Selatan selama latihan militer di Pulau Baengnyeong, dekat perbatasan laut yang disengketakan dengan Korea Utara, pekan lalu.

RAKYATKU.COM - Berpuluh-puluh tahun yang lalu, Korea Selatan (Korsel) pernah merencanakan untuk membunuh pemimpin Korea Utara (Korut).

Pada akhir 1960-an, setelah komandan Korut mencoba menggeledah istana kepresidenan di Seoul, Korsel secara diam-diam melatih orang-orang yang diambil dari penjara atau di jalanan, untuk menyelinap ke Korea Utara dan menggorok leher Kim Il-sung.

BACA JUGA: Korea Utara Tidak Terima Sanksi Baru PBB

Namun, misi tersebut dibatalkan, yang menyebabkan orang-orang yang telah dilatih memberontak. Mereka membunuh pelatih mereka sebelum meledakkan diri mereka. Kisah ini dilansir dari New York Times, yang mengatakan bahwa itu telah disembunyikan pemerintah selama beberapa dekade.

Sekarang, saat cucu Il-sung, Kim Jong-un, mempercepat program nuklirnya, Korea Selatan dikabarkan kembali menargetkan kepemimpinan Korut.

Sehari setelah Korea Utara melakukan uji coba nuklir yang keenam, Menteri Pertahanan Korea Selatan, Song Young-moo mengatakan kepada anggota parlemen di Seoul bahwa mereka akan membentuk pasukan khusus yang dinamai “unit pemenggalan kepala.” Ini akan dimulai pada akhir tahun.

Pejabat pertahanan mengatakan bahwa unit tersebut dapat melakukan serangan lintas-perbatasan dengan helikopter dan pesawat transport retooled yang dapat menembus Korut pada malam hari.

Unit tersebut belum ditugaskan untuk secara harfiah memenggal kepala Kim Jong-un. Tapi itu jelas pesan penuh ancaman yang coba dikirim oleh Korsel.

Tentu, pemerintah sangat jarang mengumumkan sebuah strategi untuk membunuh seorang kepala negara. Namun Korea Selatan ingin membuat Korea Utara khawatir akan konsekuensi dari pengembangan senjata nuklirnya. Di satu sisi, sikap Selatan yang semakin agresif dimaksudkan untuk mendesak Utara menerima tawaran pembicaraan damai Presiden Moon Jae-in.

"Penangkal terbaik yang bisa kita miliki, di samping memiliki nuklir sendiri, adalah membuat Kim Jong-un takut akan hidupnya," kata Shin Won-sik, seorang jenderal bintang tiga yang merupakan ahli strategi operasional militer Korea Selatan sebelum dia pensiun pada tahun 2015.