Rabu, 13 September 2017 08:26 WITA

Tanggapan Polisi Soal Sulsel Jadi Pusat Peredaran Narkotika di KTI

Editor: Mulyadi Abdillah
Tanggapan Polisi Soal Sulsel Jadi Pusat Peredaran Narkotika di KTI
Ilustrasi

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kasat Narkoba Polrestabes Makassar, Kompol Diari mengakui peredaran narkotika di Kota Makassar tergolong masih tinggi. 

Pengakuan ini pasca BNN Sulsel menyebut Makassar menjadi salah satu pusat peredaran narkotika di Kawasan Timur Indonesia (KTI). 

"Memang masih ada. Upaya yang kita lakukan adalah memburu para bandar dan para pengedarnya," ungkap Diari, Rabu (13/9/2017).

Diari menyebut, meski fokus melakukan pengejaran bandar dan pengedar, pemberantasan narkotika bukan menjadi perkara yang mudah. Sistem jaringan yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan semakin canggih untuk lepas dari hukum dan terhindar dari penangkapan petugas.

"Memang kita gencar tetapi penyelesaian kasus narkotika tidak segampang yang dipikirkan. Kita melakukannya secara pelan-pelan namun tetap fokus," tambahnya.

Diari menyebut, penyelesaian kasus peredaran narkotika di Kota Makassar tetap menjadi hal utama. Meski demikian, pihaknya juga berusaha untuk melakukan pencegahan terhadap penculnya pengguna atau pengedar baru.

"Bagaimanapun juga kasus narkotika adalah kejahatan luar biasa, harus diberantas. Aka tetapi kita juga berusaha untuk mencegah munculnya pemakai, pengedar ataupun bandar yang baru," demikian Diari.

Sebelumnya Kepala BNN Sulsel, Brigjen Pol Mardi Rukmianto mengatakan, saat ini Sulawesi Selatan termasuk Makassar menjadi pusat peredaran narkotika di Kawasan Timur Indonesia (KTI)

"Dari laporan yang kita terima, seluruh daerah di Kawasan Indonesia Timur termasuk Papua, Sulawesi. Semua narkoba se-KTI berasal dari Sulsel," kata Mardi Rukmianto.

Mardi Rukmianto menyebutkan, pada tahun 2016 ada sebanyak 131.000 pemakai narkoba di Sulsel. Sementara ada 1.428 yang telah direhabilitasi, baik dari isntansi pemerintah maupun swasata. Dengan angka peredaran dan pemakai yang ada di Sulsel, Rukmianto mengaku pihaknya akan berusaha menurunkan angka peredaran narkoba di Sulsel.

"Sementara untuk pecandu berat 40 persen, sedangkan yang menggunakan jarum suntik 15 persen. Rata-rata pemakai di Sulsel mengonsumsi narkoba 3 kali sehari. Peredarannya sangat cepat di masyarakat, artinya kita mengejar dengan berjalan, sementara peredarannya bekerja dengan cara berlari," bebernya.

Berita Terkait