09 September 2017 11:47 WITA

Terancam Didenda, Warga Australia Serahkan 26.000 Senjata

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Terancam Didenda, Warga Australia Serahkan 26.000 Senjata
Seorang pejabat kepolisian, Wayne Hoffman.

RAKYATKU.COM - Warga Australia telah menyerahkan 26.000 pucuk senjata dalam program amnesti pertama di negara itu selama lebih dari 20 tahun terakhir.

Amnesti atau pengampunan diberlakukan sejak 1 Juli 2017, sebagai salah satu upaya untuk menangkal ancaman teror yang meningkat dan penyelundupan senjata ke Australia.

Setelah masa amnesti berakhir pada akhir September, warga yang tertangkap membawa atau mempunyai senjata ilegal terancam dikenai denda A$280.000 atau sekitar Rp3 miliar dan hukuman penjara maksimal 14 tahun.

Program amnesti ini memungkinkan warga Australia menyerahkan senjata api tak terdaftar dan senjata-senjata lain yang dilarang tanpa diliputi ketakutan menghadapi tuntutan.

Pihak berwenang memperkirakan jumlah senjata api ilegal di negara itu mencapai 260.000, sebagian di antaranya digunakan dalam tindak kejahatan terorganisasi dan juga dalam peristiwa-peristiwa terorisme baru-baru ini.

Dilansir laman BCC, Menteri Kehakiman, Michael Keenan mengatakan, 'keberhasilan besar' sejauh ini akan membuat bangsa itu lebih aman.

Ia mencontohkan kasus Man Haron Monis, pelaku serangan di sebuah kafe di Sydney pada 2014, yang menggunakan senapan tembak tak terdaftar yang masuk ke Australia pada 1950-an.

Pada tahun 1996 dan 1997, warga Australia menyerahkan 643.726 senjata api menyusul pembunuhan 35 orang di kota Port Arthur, Tasmania. Peristiwa itu tercatat sebagai pembunuhan massal terburuk dan terbaru di Australia. Menyusul peristiwa tersebut, pihak berwenang juga melarang senjata semiotomatis dan senjata otomatis.