08 September 2017 13:14 WITA

OPINI

Meraba Kekuatan Koalisi Golkar-NasDem

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Meraba Kekuatan Koalisi Golkar-NasDem

SPEKTRUM politik Sulsel jelang Pilgub 2018 sedikit terguncang. Itu semua karena rancangan bangunan koalisi Partai Golkar dan NasDem, semakin mendekati kata sepakat. Pertemuan maraton para dedengkot kedua parpol ini, menghasilkan konsensus yang menyimpulkan akan koalisi permanen keduanya.

Dan bersepakat mendorong pasangan Nurdin Halid-Aziz Qahhar Mudzakkar di Pilgub 2018. Guncangan terjadi karena bangunan koalisi kuning biru ini sebenarnya di luar prediksi dan bahkan mungkin bisa dikatakan hal yang tak mungkin. 

Pada beberapa pilkada di Sulsel, keduanya seperti air dan minyak yang sulit menyatu. Di Pilkada 2015 misalnya, Golkar menghantam NasDem pada beberapa pilkada. Seperti kekalahan calon NasDem di Soppeng. Tapi di Pilkada 2017, NasDem kemudian menghadiahkan luka dalam ke Golkar pada Pilkada Takalar. Dengan kemenangan mengejutkan Syamsari Kitta yang mereka dukung.

Penyatuan keduanya juga tak pernah dihitung karena faktor psikologis para pemimpinnya. Di level nasional, masih terdapat sedikit kerikil kecil yang mengganggu pasca kekalahan bos NasDem Surya Paloh pada Munas Golkar di Riau 2009. Surya yang disingkirkan Aburizal Bakrie kemudian memilih keluar dari beringin dan mendirikan NasDem. 

Di level Sulsel, hambatan psikologi juga terjadi karena Ketua NasDem Sulsel, Rusdi Masse, selama ini dekat dengan klan Yasin Limpo. Dengan berbagai hambatan itu, harus diakui penyatuan keduanya melahirkan sebuah kekuatan yang sulit tertahankan di Pilgub 2018. Hitung-hitungan di atas kertas memberikan penggambaran betapa koalisi ini bisa menghasilkan kekuatan dahsyat. 

Pertama, jika hitungannya adalah perolehan suara di Pemilu 2014, maka penyatuan keduanya menghimpun total 27 persen suara pemilih. Raihan suara dasar mereka mencapai 1,4 juta suara hasil dari sumbangan Golkar yang mencapai 864 ribu dukungan dan NasDem yang menghimpun 316 ribu dukungan. 

Kedua, faktor penguasaan wilayah yang ditandai dengan kontrol atas kepala daerah membawa koalisi ini sepenuhnya mengendalikan 20 kabupaten/kota di Sulsel dan hanya menyisakan Makassar, Gowa, Sinjai dan Luwu yang di luar kontrol mereka. 

Penguasaan wilayah mereka membentang dari Luwu Timur hingga jazirah paling selatan, Selayar. Penguasaan wilayah keduanya bahkan melewati kontrol pasangan Sayang Jilid 2 di Pilgub 2013 yang mengontrol 16 kepala daerah ketika itu. 

Ketiga, faktor finansial yang menjadi prasyarat utama dalam menjalankan kampanye politik nyaris tak bermasalah di koalisi ini. Golkar dan NasDem selama ini senantiasa menjadi parpol yang dikenal tak pernah mengeluhkan persoalan anggaran. Hal itu diperkuat dengan profil Nurdin Halid dan Rusdi Masse yang sukses sebagai pengusaha besar.

Maka, jika konsolidasi kekuatan dengan memanfaatkan kelebihan mereka selama ini berhasil dijalankan dengan baik, maka koalisi Golkar dan NasDem di Pilgub Sulsel 2018 sepertinya sulit tertahankan.

Oleh: Nurmal Idrus
(Direktur Nurani Strategic)