07 September 2017 11:23 WITA

OPINI

Pilgub Sulsel: Menunggu Titah Partai

Editor: Almaliki
Pilgub Sulsel: Menunggu Titah Partai

Oleh: Dr. Ilham Kadir, MA; Ketua Lembaga Penelitian dan Informasi Majelis Intelektual dan Ulama Muda (MIUMI) Sulsel.

DALAM dunia politik hanya ada satu kepastian yaitu 'ketidakpastian'. Demikian adanya sehingga politik tidak bisa dipandang secara hitam-putih, politik sangat lentur dan fleksibel.

Jika dikonversi dalam ilmu matematika, maka politik akan susah mencapai nilai yang tepat. Sebab dalam ilmu matematika dapat dipastikan jika satu kali satu sama dengan satu (1x1=1). 

Ilmu politik bukan eksakta, sehingga hitungan satu kali satu bisa hasilnya nol, bisa pula lebih dari satu. Karena itu, Anda tidak akan mudah menebak arah politik Indonesia, mulai dari tingkat Pilkada kabupaten/kota hingga provinsi, atau Pilpres.

Hari-hari terlahir pasca Hari Raya Iduladha, baik yaum an-nahr (Hari Lebaran Idul Adha), maupun yaum tasyriq (tiga hari setelah lebaran). Masyarakat Sulawesi Selatan, khususnya penggiat, pengamat, dan penyimak politik, kembali diramaikan dengan berita perjuangan para calon bakal gubernur untuk mendapatkan tiket menuju ring pertarungan para calon gubernur Sulawesi Selatan periode 2018-2023.

Ada beberapa nama yang terus mencuat, baik dalam survei maupun dalam statusnya sebagai calon gubernur sungguhan. Mereka adalah Nurdin Abdullah (NA), Nurdin Halid (NH), Ichsan Yasin Limpo (IYL), dan Agus Arifin Nu'mang (AAN). Keempat nama di atas kemungkinan besar maju sebagai calon gubernur Sulsel. 

Memang pada awalnya terlihat banyak calon memasang baliho yang bertebaran di mana-mana, tapi teriring berlalunya waktu, satu per satu gugur dan hanya menyisakan empat nama di atas. Itu pun belum pasti, masih ada kemungkinan salah satunya berubah bahkan tereliminasi.

Di antara empat kandidat di atas, hingga detik ini, baru satu calon gubernur yang dipastikan maju bertarung dalam Pilgub tahun 2018, yakin Nurdin Halid yang menggandeng Aziz Qahhar Muzakkar sebagai wakilnya.

Tiga kandidat lainnya masih mati-matian mengejar tiket dan pintu gelanggang. Akan semakin rumit, sebab waktu semakin suntuk, dan partai kian liar. Andai saja waktu bisa dikembalikan dua tahun lalu, mungkin akan ada yang berusaha lewat pintu independen, tapi semua sudah terlambat. Hanya menunggu kepastian dari partai-partai yang punya kursi di DPRD Provinsi alias menunggu titah partai.

Dua hari lalu (5/9/2017) sebuah media lokal menurunkan "headline news" bahwa NA dipastikan gugur sebagai calon gubernur Sulsel, sebab belum punya partai pengusung yang pasti.

Hanya berselang beberapa jam, berita tersebut diklarifikasi oleh Tim Media NA, Bunyamin Arsyad (Rakyatku.com, 5-9-2017), katanya, "KPU isyaratkan 17 kursi rekomendasi, yang kita pegang sudah 20 kursi. Dan masih berproses 20 kursi lagi untuk lengkapi 40 kursi."

Makna kursi dalam dunia politik baik Pilkada maupun Pilpres beda dengan arti kursi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, atau kursi dalam bahasa Arab, dan Portugal. Kursi dimaksud adalah anggota parlemen.

Artinya kalau punya 20 kursi, berarti punya 20 anggota parlemen di DPRD Sulsel, bukan kursi malas yang dipakai santai para politisi di hotel berbintang, atau kursi Jepara dari jati terbaik di dunia asal Enrekang, sebagaimana tempat duduk saya sekarang ini.

Wallahu A'lam.

Enrekang, 7 September 2017

Tags
Opini