01 September 2017 20:45 WITA

Musim Patah Hati Para Politisi

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Musim Patah Hati Para Politisi
Nurmal Idrus.

INILAH mungkin musim patah hati bagi banyak politisi di negeri ini. Jelang Pilkada serentak 2018 dan Pileg 2019, dipastikan akan banyak yang mengalami kondisi tak mengenakkan itu. Menjadi kader bukan berarti bisa melenggang dengan mulus ke pemilihan. 

Partai politik adalah sarana untuk meraih kekuasaan untuk pengaturan bernegara. Tentu, tak ada parpol yang mau kalah seperti dalam kontestasi pemilihan kepala daerah. 

Jika kemudian seorang figur terhitung sulit untuk menang karena keterpilihan yang rendah, maka cukup wajar jika kemudian parpol memilih jalan memutar dengan mencalonkan figur internal. Tentu, itu harus diterima.

Seperti itulah demokratisasi ala parpol kita di Indonesia. Hari ini, jangan pernah berharap ada demokratisasi paripurna di partai politik. Maka, ketika anda mendambakan sebuah proses demokratis itu dalam suksesi kepemimpinan parpol dan proses pencalonan, maka itu bisa jadi "kasih tak sampai".

Negara dan konstitusi kita pun mendukung akan hal itu. Lihatlah bagaimana dominannya keinginan DPP ketika penentuan calon kepala daerah. UU tentang pilkada memerintahkan kepada KPU hanya bisa menerima pencalonan pasangan kepala daerah jika disertai dengan rekomendasi persetujuan DPP. 

Maka, jika kamu menginginkan demokratisasi dalam parpol maka sebaiknya menempuh jalan sesuai keinginan pimpinan parpol. Sebab, menjadi anggota parpol harus memahami dan menerima banyak konsekuensi atas pengaturan terhadap hati nurani dan pilihan hati. 

Anda akan banyak diperhadapkan pada kenyataan melawan kata hati dan juga pilihan hati. Ya.. inilah politik. Pada setiap kezaliman, pengkhianatan dan segala macam tipu daya merupakan hal yang tak bisa ditepikan. 

Itulah jalan politik. Itulah sunnatullah politik. Pada banyak orang yang punya komitmen untuk membangun pondasi dan rumah politik bermartabat pada akhirnya harus tunduk pada jalan politik yang menyakitkan. 

Maka, jika tak mau mengingkari kata hati, tak ingin melawan nurani, dan selalu pakai hati dalam menyelesaikan masalah, maka jauhilah politik. 

Hal itu pulalah yang mengharuskan kita yang memilih jalan politik untuk banyak menerima dan memahami. 
Jika kemapanan atas demokratisasi paripurna yang dicari maka tak usah berpindah jika kecewa dengan partai. Menunggulah!  Bandul politik itu terus bergerak. Suatu waktu jika bandul bergerak ke arahmu maka saat itulah waktumu untuk bergerak dan membalas. 

Ini persoalan kepentingan dan siapa dapat apa... politik itu dinamis dan untuk itu tak perlu pergi ke lain hati ketika marah menguasai hati.. 

Oleh: Nurmal Idrus
(Direktur Nurani Strategic)