31 August 2017 13:37 WITA

ESAI

Cak Nun, Sastrawi, dan Batas

Editor: Almaliki
Cak Nun, Sastrawi, dan Batas

Ditulis oleh Muhammad Almaliki

Assalamualaikum. Apakah Anda berpuasa hari ini? Makan dan minum apa tadi subuh? Apa yang Anda baca hari ini? Berita soal polwan cantik atau permainan nomor di judul yang seperti 'nomor 3 bikin Anda Melongo'? Kalau keduanya dilakukan, tidak ada kata yang tepat diucapkan selain Alhamdulillah.

Kukasih pintu gerbang ya. Baru-baru ini Emha Ainun Nadjib ulang tahun, baru saja. Saya jadi merasa jadi lelaki gagal karena tak membawakan beliau kue, lilin, topi segitiga, dan terompet. Meski begitu, merasa perlu dan memang perlu, saya mengubek-ubek orasinya. Ceramahnya juga, tapi sedikit.

Dalam orasi yang saya temukan di youtube itu, ia berujar di hadapan Taufiq Ismail, Neno Warisman, dan penyair-penyair lain soal Horison Online dan sastrawi. Tahu kamu soal Horison? Kalau tidak, selidik di mesin pencari!

Di sana ia bilang kalau Allah itu bisa dikenali lewat apa saja. Lewat sastra terutama. Cak Nun saat itu meminta para hadirin yang hadir untuk menukilkan satu ayat kalam.

"Apakah di ayat Alquran yang tidak ada nilai sastranya?"

Saya manggut-manggut depan gawai elektronik. Hadirin tak juga ada yang menjawab. Secara epistemologi dalam ilmu komunikasi, jika kondisi seperti itu bisa disimpulkan kalau penonton terkesima. Bisa juga paham apa yang disampaikan. Masukkan juga kebenaran obyektif, subyektif, absolute, atau relative.

Atau apa lagi yang ada di kepala Anda? Bagi dan pilahlah sekiranya. Tidak bisa saya cabar satu per satu. Ribet, Bung!

Cak Nun memberi contoh. Allah Mahabesar jika diartikan serampangan hanya sebatas gunung mungkin, sebatas angkasa mungkin, atau kiraan lain dari kita yang besar. Sangkaan itulah yang membuat kita mengenal sastra.

Allah itu muasal ilmu pula, dan padanya kita berhenti mencari. Kalau Anda ingat kisah Musa di bukit Sinai, barangkali Anda mengerti maksud saya. Dan semua tercipta mempunyai batas bukan?

**

Pernah dalam satu diskusi. Teman-teman saat itu sedang ujian laporan akhir perkuliahan. Saya duduk berdua bersama seorang junior yang kebetulan sama-sama ingin menyelesaikan kuliah. Kami berdua duduk di bangku belakang. Beberapa kawan, di depan, menyimak pemaparan satu per satu mahasiswa.

Teman saya itu masuk organisasi Islam dan bukan main kritis dan ditolaknya Marx dan gembong komunisme. Jalan pikiran saya banyak didebatnya. Hingga pada akhirnya, ia bilang kalau saya seharusnya tak mengerti sastra terlalu jauh. Bisa menggelincirkan akidah katanya. Adapula sastra yang dimaksud adalah karangan fiksi dan puisi.

Pada intinya ia alergi dengan estetika kesusastraan.

Begitulah sastra berbicara. Manusia kekinian kemungkinan takkan mengenal Salman Rushdie ataukah Nawal El Saadawi. Mereka begitu keras dalam tulisannya. Bahkan Salman sudah pernah diancam hukuman mati di Iran karena karyanya yang berjudul Ayat-ayat Setan atau Satanic Verses.

Hari itu saya berpikir keras. Hari itu juga. Lantas bagaimana perjalanan kita yang sudah sejauh ini? Memangnya kita ini tak hidup dengan estetika? Bahkan chat whatsapp 'erotis' yang marak dibahas orang hari ini bisa dipandang sebuah estetika lo. Itupun jika mengacu seperti ragam bentuk patung-patung, lukisan vulgar yang diambil dari sudut pandang seniman atau perupa.

Dalam buku Ayu Utami dan Erik Prasetya berjudul Estetika Banal dan Spritualisme Kritis, termaktub sebuah foto dan tulisan. Pengandaian Erik lewat fotonya benar-benar mengagumkan, ia membandingkan kota-kota lain di dunia, dengan Kota Jakarta. Ya hanya Kota Jakarta sebagai pengandaian, bagaimana kemajuan Negara ini sekarang.

Semisal di kota-kota besar di beberapa negara. Orang-orang banyak bersepeda. Pajak kendaraan dipermahal berikut parkirnya. Tak lain gunanya adalah untuk mengurai kemacetan. Itulah kota. Sementara menurut hemat saya, di Jakarta malah sebaliknya. Kan sama-sama kota? Lagi-lagi kita disodori kata 'terbatas' untuk memecahkan masalah ini. Anggaran terbatas, dan lainnya. 

Begitu pula sistem keagamaan kita sekarang. Seperti kota di Indonesia dan di luar negeri, fokus di penampilan adalah hal yang paling penting, tanpa mementingkan isi. Tentunya masih bisa diperdebatkan bukan?

**

Dan ya, teman. Tanpa kita sadari, dalam tangga doa-doa yang kita panjati dan akan diserahkan pada Allah atau Tuhan bahasa umumnya, kita menyepelekan komunikasi, selalu mengecap mentah apa saja bahasa yang kita terima. Bahasa non-verbal dan sastrawi kita sendiri--mohon lupakan kata 'dibohongi pakai' dalam hal ini.

Mau lihat contohnya? Selalu kita kira Allah itu adalah pesuruh kita. Kita ini bahasanya agak keras kalau sama Allah. Mintanya juga muluk-muluk. Minta uang, rezeki, kesehatan di luar nalar.

"Sehat terus ya!"

"Ya Allah berikan rezeki yang melimpah dan muluskan jalan hidupku!"

Hidup kok mau sehat terus? Tak ada manusia yang bisa sehat terus. Muluskan jalan hidup? Jadi tak mau diuji lagi begitu? Duh! Kalau hidup mulus dan tak ada liku dan kerikil, apa nikmatnya?

Berdoa juga sekiranya harus logis dan paham bahasa dan ke mana arah kalimat juga, saya kira. Lebih tepatnya ke pemahaman sastra juga sekenanya.

Dan dari tulisan ini, dari ingatan ini juga. Kita pasti bertanya kepada apa angin berembus. Mengapa tanah bisa gembur dan tandus. Paling banter mengapa nyamuk diciptakan dan menyerang Raja Namrud.

Lagi-lagi, sudahkah Anda menyiapkan menu berbuka hari ini? Jujur saya sudah. Rezeki dari menulis, kupakai untuk mengunyah ayam goreng. Maka tanyakanlah lebih dalam lagi. Sastra akan bekerja dengan intim. Dan pikiran-pikiran kita seumpama pesta, akan berhenti juga pada akhirnya. Selamat istirahat.

*Tulisan yang sepotong ini diihami dari Cak Nun dan teman sebangku. Juga sublim gelisah. Kini pikiran saya tandas.