12 August 2017 09:30 WITA

OPINI

None dan Revolusi Pendidikan Sulsel

Editor: Mulyadi Abdillah
None dan Revolusi Pendidikan Sulsel
Muhammad Ramli Rahim

PAGI itu, saya menyempatkan diri mengunjungi kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel. Saya melihat perubahan besar. Di kantor ini jauh berubah lebih baik, hal ini mengirimkan sinyal keseriusan pemerintah Sulsel dalam mengelola pendidikan yang baru saja dilimpahkan dari kabupaten kota ke provinsi.

Disambut front office Dinas Pendidikan, saya langsung dipersilakan masuk dan disambut Kepala Dinas Pendidikan Sulsel, Irman Yasin Limpo yang biasa kami panggil Kak None. 

Saya memang tak sempat hadir saat Wapres Jusuf Kalla meresmikan sesuatu di kantor Dinas Pendidikan Provinsi Sulsel. Bukannya mengajak saya masuk ke ruangannya, Kak None malah mengajak saya langsung belok kiri, ke sebuah ruangan yang telah diubah sedemikian rupa. 

Puluhan televisi membuat saya menjadi takjub, seluruh aktivitas pendidikan terpantau dari ruangan ini. Kak None kemudian mulai memperlihatkan satu persatu dan meminta operator memperlihatkan ke saya tentang E-Panrita. 

Dari ruangan itu, terlihat ruang-ruang kelas di berbagai SMA dan SMK di Sulsel, langsung terpantau seluruh aktivitasnya. 

Kak None kemudian meminta operator membuka aplikasi E-Panrita dan membuka salah satu file guru yang memang tergolong malas. Dalam rekaman data yang bersangkutan sedang berada lebih dari 400 KM dari sekolahnya. 
Ditelusuri lebih jauh, guru ini terbilang cukup unik, sangat sering terlambat dan sering pulang cepat. Dalam catatannya terkadang ketika tak pulang cepat, sang guru bisa berada di sekolah hingga pukul 19.30 malam. 

Kak None juga menunjukkan bagaimana guru-guru di Sulsel harus membuktikan keberadaannya di sekolah dengan foto selfie sebelum pukul 07.00 di sekolah.

Kak None kemudian mengajak saya melakukan teleconference kepada salah satu kepala sekolah di Makassar. Komunikasi pun berjalan lancar karena terfasilitasi oleh fiber optik. 

Setelah itu, kami bergeser ke sebuah ruang kecil di mana dalam ruangan itu, keberadaan siswa dan guru dapat terdeteksi, ruangan itu menjadi pusat koordinasi dan fasilitasi ujian Masuk Sekolah berbasis komputer, semua peserta didik dapat langsung melihat hasil seleksi mereka "real time".

Dampak E-Panrita

Setelah melihat langsung apa yang dilakukan Kak None sebagai Kadis Dinas Pendidikan Sulsel, saya kemudian berkesimpulan bahwa ini adalah awal dari sebuah revolusi besar dunia pendidikan di Sulsel.  Namun hanya dengan satu syarat, sistem ini terus terjaga secara konsisten dan berkelanjutan.

Mengapa saya menyebutnya sebagai revolusi? Setidaknya ada beberapa hal yang akan terjadi . 

Pertama, Kawan-kawan saya guru kemungkinan besar akan protes, marah bahkan mungkin begitu jengkel dengan sistem ini. Bagaimana tidak, keberadaan seorang guru di ruang-ruang kelas akan dengan mudah terdeteksi dan karenanya Kadis Pendidikan Sulsel harus betul-betul kuat agar sistem ini bisa bertahan dan terus bertahan.

Bukan cerita baru bahwa ada yang di sebut guru "stuntmen", guru yang menggantikan guru aslinya mengajar, guru ini lebih tepat disebut guru palsu. Dengan sistem E-Panrita, guru-guru seperti ini akan mudah dideteksi. Guru seperti ini jumlahnya memang tidak begitu banyak tapi sangat berpengaruh terhadap kinerja guru lainnya. 

Jika merujuk pada keinginan Mendikbud agar 5 hari sekolah tak lagi menganut sistem 24 jam mengajar minimal dan menggunakan sistem guru 8 jam di sekolah, maka sistem ini akan sangat maksimal jika bekerja dengan baik. Guru tak hanya mengajar tetapi mendidik. 

Pantauan CCTV di ruang-ruang kelas sesungguhnya juga bisa menjadi sarana buat dinas pendidikan mendeteksi guru-guru kreatif dan inovatif dalam pembelajaran. 

Sayang sekali, CCTV ini banyak dipasang di belakang meja guru sehingga guru tak terdeteksi, saya pun sudah menyarankan Kak None agar memerintahkan sekolah memindahkan posisi kamera agar tak hanya menyorot siswa tetapi juga menyorot guru. Masih begitu banyak kawan-kawan saya guru yang mengajar dengan pola konvensional yang membosankan dan kadang menjengkelkan. 

Apa yang dilakukan IGI dalam setiap upaya peningkatan kompetensi guru adalah cara mengurangi guru-guru konvensional yang membosankan dan kadang menjengkelkan ini. Melihat ruang teleconference yang sangat baik, saya teringat gerakan pembelajaran IGI berbasis online yang setiap rabu malam berjalan dalam "Sarasehan dalam Jaringan" atau di IGI dikenal dengan Sadar. 

Saya berbisik ke Kak None bahwa ruang ini akan sangat baik untuk melatih guru-guru di seluruh SMA/SMK di Sulsel dengan biaya minim, pelatih IGI bisa tampil dari ruang itu untuk selanjutnya melatih guru di satu sekolah atau banyak sekolah secara rutin dan berkelanjutan. 57 pelatih IGI dengan kemampuan yang sudah level nasional tinggal diatur jadwalnya saja untuk melatih kawan-kawan melalui telecon.

Melihat sistem Ujian Online dengan sistem acak membuat saya menyambungkan dengan tim-tim IGI yang mampu menyusun soal-soal dengan sangat baik, jika mereka diajak menyusun soal dengan baik maka Sulsel akan memiliki bank soal yang anti kecurangan karena sistem acaknya akan sangat luar biasa.

Sistem ini karena mampu mendeteksi keberadaan siswa, maka hal itu akan mampu mendeteksi potensi perkelahian pelajar yang selama ini marak terjadi. Potensi itu bahkan dapat diidentifikasi lebih awal sehingga dapat ditindaklanjuti kepolisian sebelum terjadi tawuran.

Sistem ini menurut saya memang belum sempurna tetapi apa yg dilakukan Kak None adalah sebuah trrobosan baru yang menurut saya dapat menjadi cikal bakal revolusi pendidikan di Sulsel untuk pendidikan yang lebih baik.

Teruslah berkarya Kak None, tulisan ini saya buat bukan sebagai bentuk dukungan saya menjelang Pilwalkot tetapi sebagai bentuk pengakuan saya sebagai pimpinan organisasi guru tingkat nasional yang melihat sebuah hasil dari kreativitas dan kerja cerdas seorang kepala dinas.

Harapannya, akan semakin banyak kepala dinas baik di provinsi maupun di kabupaten/kota yang melakukan kerja-kerja cerdas dalam meningkatkan kinerja guru dan tenaga kependidikan agar anak-anak kita dapat menjadi harapan di masa depan, IGI di seluruh Indonsia selalu siap bersinergi dengan siapapun yang memiliki tekad kuat memajukan pendidikan terutama peningkatkan kompetensi guru.

Jakarta, 12 Agustus 2017

Penulis: Muhammad Ramli Rahim (Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Guru Indonesia 2016-2021)