10 August 2017 10:23 WITA

ESAI

Tangisan Najwa Shihab dan Empati Kita

Editor: Almaliki
Tangisan Najwa Shihab dan Empati Kita

Ditulis oleh: Muhammad Almaliki

Mata Najwa resmi akan berakhir. Najwa Shihab juga akan segera angkat kaki dari Metro TV. Dari mereka berdua, saya banyak belajar. Banyak sekali, terutama soal empati, rasa terenyuh pada narasumber, mana yang pantas diliput dan tidak.

Berkaca dari jurnalisme warga hari ini, begitu banyak kekeliruan. Sebenarnya, bukan jurnalisme warganya yang harus ditebang. Namun, media yang ditempatinya lah yang harus banyak belajar dari Najwa.

Mengapa begitu?

Begitu banyak informasi-informasi yang beredar di media sosial. Info kecelakaan, usikan rumah tangga yang mendera para selebriti, juga lainnya. Terkadang, beberapa media penampung berita atau sekadar informasi itu, memilah konten dan punya empati. Pun sebagian lagi, tidak sama sekali.

Ada gambar yang berdarah-darah, lalu diunggah dengan bebas. Sebagai jurnalis, kesan seperti itu sangatlah punya nilai. Masyarakat dengan seksama melihatnya sebagai sebuah maha karya, dan membawanya seperti di tempat kejadian. Itulah keuntungannya.

Lantas apa kerugiannya? Banyak dari kita, pekerja media, yang tidak tahu soal psikologi pembaca. Ada yang takut melihat darah, ada yang trauma. Bagaimana pun juga, keluarga dari beberapa kasus di atas, masih ada. Ia kemungkinan besar bisa melihat berita seperti itu.

Ada kasus saat peperangan yang terjadi di Ambon beberapa tahun silam.

"Kau masih trauma?" tanyaku pada seorang kawan yang berasal dari Ambon.

"Masihlah. Di depan mataku, darah seorang kawan mengucur. Tembak-menembak bersahut-sahut. Mencekam saat itu. Susah untuk dilupakan. Traumanya masih terbawa," bebernya.

Saya berdeham lalu sadar bahwa mengapa informasi yang tersaring dengan baik itu begitu penting.

Atau ada sebuah pemeo yang dibuat oleh kawan-kawan, bisa jurnalis pun tidak. Saat itu, di rumah duka, seorang pejabat ditinggalkan istrinya. Istrinya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Namun, seorang wartawan tiba-tiba bertanya dalam suasana duka.

"Apakah Bapak sedih ditinggal oleh istrinya?"

Alhasil, pejabat itu makin meraung dengan keras dan tak ingin menjawab pertanyaan tersebut.

 

Jurnalisme Empati A la Najwa

Pada 2004 silam, Indonesia bahkan sebagian masyarakat belahan dunia turut murung. Tsunami menghantam Aceh dengan ganas. Banyak yang jadi korban. Ada anak-anak, ada orang tua, tanpa terkecuali.

Saat itu, televisi yang ditempati Najwa bekerja menurunkan tim liputan untuk mengabadikan momen tersebut. Rumah-rumah yang rusak, kesedihan-kesedihan para warga, dan bantuan yang datang untuk mereka, tak luput direkam awak media.

Dari kutipan yang saya baca dari laman BBC Indonesia, Najwa bilang begini. "Karena itu mengubah saya, bukan saya sebagai wartawan, tetapi terlebih saya sebagai manusia," kata Najwa usai meliput di Aceh.

Momen apakah itu? Ternyata saat di Aceh, Najwa sempat menitikkan air mata saat meliput. Najwa pun mengaku tidak menyesal atas ekspresi yang ditimbulkannya, meskipun ia seorang jurnalis.

Ya, meskipun. Sebab dari ekspresi itulah begitu banyak pro dan kontra. Ada yang bilang, seharusnya wartawan tidak terlibat secara emosional sedemikian jauh sehingga dikhawatirkan mempengaruhi laporannya.

"Tapi sampai sekarang pun, ketika saya kilas balik, saya tidak pernah menyesal ketika melibatkan seluruh indra saya untuk melaporkan," tambah Najwa lagi.

Jurnalisme yang dipegang oleh Najwa, adalah di mana ketika melihat bencana, bukan hanya sekedar dahsyatnya dan dampaknya, tapi juga menempatkan diri menjadi bagian dari orang yang terkena dampak.

Apabila saat itu Najwa tidak menangis, barangkali, saya tidak mungkin berpikir dua kali untuk meliput seseorang. Paling, asal liput saja tanpa memperhatikan lebih jauh pada perasaannya.

"Karenanya saya menggunakan seluruh indera, termasuk saya menggunakan hati saya untuk melaporkan apa yang ketika itu saya lihat," kata Najwa, sebelum meraih penghargaan PWI Jaya Award atas liputannya selama di Aceh.

Kepada para juniornya di Metro TV, Najwa kini selalu menekankan pentingnya apa yang disebutnya "jurnalisme empati" ketika meliput di lokasi bencana.

"Yaitu jurnalisme di mana ketika melihat bukan hanya sekedar dahsyatnya bencana dan dampaknya, tapi juga menempatkan diri kita menjadi bagian dari orang yang terkena dampak," katanya.

Lalu, sudah sampai mana kita jadi jurnalis atau memegang prinsip jurnalisme warga? Paling tidak, sebelum Najwa benar-benar hengkang dari Metro TV, ambillah nilai yang baik dari Mata Najwa atau paling tidak pada Najwa Shihab sendiri.