Kamis, 03 Agustus 2017 16:45 WITA

Perubahan Iklim Bisa Picu Gelombang Panas Mematikan di Asia

Editor: Andi Chaerul Fadli
Perubahan Iklim Bisa Picu Gelombang Panas Mematikan di Asia
Seorang pria India berjalan melintasi tempat tidur kering Lake Ahmad Sar saat kondisi panas yang ekstrem terjadi di Ahmedabad SAM PANTHAKY / AFP / Getty Images

RAKYATKU.COM - Perubahan iklim bisa membawa gelombang panas yang mematikan di kawasan benua Asia bagian selatan pada akhir abad ini. Hal itu merupakan prediksi sejumlah ilmuwan.

Suhu yang melonjak dapat menyebabkan tingkat panas dan kelembaban yang tidak dapat diduga. Daerah yang kemungkinan akan terkena dampak paling parah, salah satunya adalah India utara, Bangladesh, dan Pakistan selatan, yang totalnya menampung 1,5 miliar orang.

Berdasarkan penelitian terbaru yang menunjukkan efek paling mematikan dari cuaca panas berasal dari kombinasi suhu tinggi dan kelembaban tinggi. Ini dicatat menggunakan ukuran yang dikenal sebagai "wet-bulb" temperature, yang mencerminkan kemampuan kelembaban untuk menguap.

Saat suhu wet-bulb mencapai 35C, tubuh manusia tidak bisa mendinginkan diri cukup untuk bertahan lebih dari beberapa jam.

Dalam iklim hari ini, suhu wet-bulb jarang terjadi di atas 31C di manapun di Bumi. Namun pada tahun 2015, batasnya hampir sampai di kawasan Teluk Persia, selama setahun ketika panas menewaskan sekitar 3.500 orang di Pakistan dan India.

Loading...

Penelitian baru tersebut menunjukkan bahwa tanpa pengurangan emisi gas rumah kaca yang serius, gelombang panas yang ekstrim dapat menaikkan suhu bohlam basah menjadi antara 31C dan 34.2C.

"Ini membawa kita mendekati ambang survivabilitas, dan apa pun di usia 30-an sangat parah," kata penulis studi Dr Elfatih Eltahir, dari Massachusetts Institute of Technology di AS.

Pada 2100, sekitar 70 persen populasi India diperkirakan akan mengalami eksposur sesekali pada suhu bola basah 32C, para peneliti menulis di jurnal Science Advances . Dan dua persen bisa menjadi sasaran panas yang mematikan di batas 35C.

Dr Eltahir menambahkan: "Dengan terganggunya produksi pertanian, tidak perlu gelombang panas itu sendiri yang membunuh manusia. Produksi akan turun, sehingga berpotensi setiap orang akan menderita."

Tags
Loading...
Loading...