Minggu, 30 Juli 2017 22:45 WITA

Angka Kekerasan Perempuan dan Anak di Sulteng Meningkat

Penulis: M. Qadri
Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Angka Kekerasan Perempuan dan Anak di Sulteng Meningkat

RAKYATKU.COM, PALU - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Yohana Susana Yembise mengakui, secara umum angka kasus kekerasan perempuan dan anak di Indonesia masih cukup tinggi, tidak hanya di Sulteng.

Jika angka kekerasan anak di Sulteng cukup tinggi, Yohana meminta kepada pemerintah setempat dan instansi terkait agar memperhatikan isu pemenuhan hak anak dan tumbuh kembangnya.

"Saya melihat secara umum anak-anak di Kota Palu, Sulawesi Tengah ini sudah cukup berkembang. Artinya mereka sudah memenuhi tingkat pendidikannya. Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah setempat cukup konsen dan peduli terhadap anak-anak di daerahnya," Yohana Yambise di halaman Masjid Agung Darussalam Kota Palu, (30/7/2017).

Untuk meneka masalah kekerasan anak di Sulteng, Yohana Yambise mendeklarasikan kabupaten/kota menuju Kota Layak Anak.

Angka Kekerasan Perempuan dan Anak di Sulteng MeningkatSementara itu, Gubernur Sulteng, Longki Djanggola mengatakan, kekerasan terhadap perempuan dan anak sejak empat tahun terakhir dari Pusat Pemberdayaan Terpadu Pelayanan Perempuan dan Anak Provinsi Sulteng, adalah pada tahun 2013 sebanyak 49 kasus, tahun 2014 29 kasus, tahun 2015 67 kasus, dan tahun 2016 hingga 30 Juni 2017 sebanyak 92 kasus.

Sedangkan data dari Badan Narkotika Nasional Provinsi Sulteng, korban akibat penggunaan narkoba, tiap tahunnya mengalami peningkatan, yaitu pada tahun 2008 sebanyak 10.900 kasus, tahun 2011 sebanyak 11.049 kasus, tahun 2014 sebanyak 24.370 kasus, dan tahun 2016 sebanyak 39.810 kasus.

“Dalam kasus ini, Provinsi Sulteng menempati peringkat ke 15 dari 34 provinsi di Indonesia, dan untuk kasus penggunaan narkoba di Kota Palu sampai tahun 2016 tercatat 4.414 kasus, dengan korban pengguna narkoba yang terbanyak adalah pelajar dan anak di bawah umur,” kata Longki Djanggola.