Selasa, 18 Juli 2017 15:51 WITA

Roots, Kurangi Bullying di Sekolah Melalui Agen Berpengaruh

Editor: Al Khoriah Etiek Nugraha
Roots, Kurangi Bullying di Sekolah Melalui Agen Berpengaruh
ilustrasi. int.

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - UNICEF bersama Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Sulsel, dan Yayasan Indonesia Mengabdi (YIM) dari Universitas Negeri Makassar (UNM), saat ini sedang mengembangkan program riset-aksi terkait pencegahan kekerasan antar teman sebaya yang mengadaptasi program bernama Roots. 

Kepala DPPPA Sulsel, Andi Murlina menjelaskan, Roots merupakan program global pencegahan kekerasan di kalangan teman sebaya, yang berfokus pada upaya membangun iklim yang aman di sekolah. Program ini dijalankan dengan mengaktivasi peran siswa sebagai Agen Berpengaruh atau Agen Perubahan. 

"Sekolah yang dilibatkan untuk uji coba serta penelitian aksi pertama kali adalah SMPN 37 Makassar dan SMPN 5 Pallangga untuk semester pertama, serta SMPN 10 Makassar dan SMPN 3 Sungguminasa untuk semester kedua," ujarnya, Selasa (18/7/2017). 

Sementara itu, Kepala Bidang Data dan Informasi Gender dan Anak DPPPA Sulsel, Suciati mengatakan,  secara teknis Roots ini difasilitasi oleh Pengurus Forum Anak, yang merupakan hasil binaan DPPPA sebagai fasilitator program di sekolah model. 

Mereka adalah Muh. Auzan Haq dari Forum Anak Makassar untuk roots di SMPN 37 Makassar dan SMPN 10 Makassar, dan Firda Amalia H dari Forum Anak Kabupaten Gowa untuk roots di SMPN 5 Palangga dan SMPN 3 Sungguminasa. 

"Apa itu Roots? Bagaimana Roots bisa mengurangi bullying di sekolah? Nah, tujuan utama dari program intervensi ini ialah meningkatkan hubungan antar sebaya dan mengurangi bullying serta kekerasan di antara siswa SMP," tambah Murlina.

Metode pelaksanaannya, yakni dengan memilih beberapa anak yang memiliki pengaruh kuat di kalangan siswa sebagai agen perubahan. Caranya, meminta seluruh anak di sekolah  setiap angkatan untuk menominasikan 10 siswa di angkatan mereka yang menghabiskan waktu paling sering dengan mereka, baik di dalam maupun di luar sekolah, secara tatap muka maupun online. 

"Menggunakan data ini, fasilitator kemudian memetakan jaringan sosial pada masing-masing sekolah. Sebanyak 22-30 siswa di setiap satu sekolah intervensi akan dipilih untuk berpartisipasi dalam program Roots," tuturnya 

"Beberapa siswa yang dipilih/terpilih bisa jadi adalah siswa yang sering terlibat konflik, tidak harus anak-anak yang baik dan berprestasi," sambungnya. 

Setelah siswa dipilih, mereka akan diajak untuk menghadiri sesi bersama fasilitator Roots, yang diselenggarakan pada jam sekolah atau  saat jam ekstra kurikuler. 

"Fasilitator memberikan panduan untuk menyusun materi kampanye, baik print maupun online, yang dapat digunakan oleh siswa sebagai bentuk prakarya. Siswa juga dilatih untuk menghadapi konflik antar-siswa," tutupnya