18 July 2017 14:35 WITA

Kakanwil Kemenag Sulsel Lakukan Peletakan Batu Pertama Pesantren UIN Alauddin

Editor: Fathul Khair Akmal
Kakanwil Kemenag Sulsel Lakukan Peletakan Batu Pertama Pesantren UIN Alauddin

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kemenag Sulsel, Abdul Wahid Thahir, didampingi Kepala Bidang Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kanwil Kemenag Sulsel Fathurrahman, serta jajarannya mengunjungi pesantren binaan Fakultas Tarbiyah dan Pendidikan UIN Alauddin Makassar, Selasa (18/7/2017).

Kunjungan tersebut, untuk menghadiri acara peletakan batu pertama pembangunan asrama santri di pesantren tersebut.

Saat tiba dilokasi, Abdul Wahid bersama rombongan langsung disambut antusias oleh ratusan santri Pondok Pesantren Madani UIN Alauddin Makassar dengan prosesi adat Angngaru' dan Tari Padduppa.

Direktur Pesantren Madani UIN Alauddin Makassar, Andi Ahru Pasinringi menceritakan, pesantren tersebut telah berdiri sejak tahun 2002, dan sudah menamatkan alumni yang kesembilan. Ia melanjutkan, pesantren ini membina tingkatan RA, MI, MTs, MA dengan jumlah santri saat ini sebanyak 721 orang, dengan ruang belajar yang tersedia 17 ruang kelas baru, di atas lokasi seluas lebih dari 5 hektar.

"Ini dibangun sejak tahun 2002. Animo masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di pesantren ini sangat besar, karena prestasi demi prestasi santri sangat bagus terbukti dengan juara di sejumlah even nasional bahkan internasional," ungkapnya.

Tak lupa, Andi Ahru mengucapkan rasa terima kasihnya atas perhatian Kementrian Agama Sulsel terhadap pesantren Madani, dengan memberikan bentuan asrama santri senilai Rp166 juta, yang dimulai dengan peletakan batu pertama oleh Abdul Wahid Thahir.

Sementara itu, Kakanwil Abdul Wahid dalam arahannya menegaskan bahwa, dari enam pondok pesantren yang mendapatkan bantuan tahun ini, salah satunya adalah Ponpes Madani UIN Alauddin yang berada di wilayah Gowa tersebut.

"Negara Indonesia saat ini terkenal dengan tiga laboratorium di dunia. Yaitu kerukunan, pengelolaan haji dan pendidikan. Termasuk pondok pesantren yang terkenal sebagai model pendidikan terbaik di dunia. Karena, di pesantren itu bukan saja tempat Jamiyyatul Diniyah tapi juga jamiyyatul ilmiah," jelasnya.

Abdul Wahid berharap, agar guru atau tenaga pengajar yang ada di pesantren terus meningkatkan kapasitas dan kapabilitas-nya dalam mengajar. Menurut dia, generasi yang cerdas dan terbaik bisa lahir dari guru yang cerdas dan unggul.