Senin, 17 Juli 2017 11:35 WITA

Warga Palestina Tolak Pengamanan Israel di Masjid Al-Aqsa

Editor: Suriawati
Warga Palestina Tolak Pengamanan Israel di Masjid Al-Aqsa
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara sepihak mengumumkan langkah-langkah keamanan tambahan pada hari Sabtu. (AFP)

RAKYATKU.COM - Kompleks Masjid Al-Aqsa dibuka kembali pada hari Minggu (16/07), dua hari setelah ditutup menyusul baku tembak yang menewaskan dua polisi Israel dan 3 warga Palestina.

Namun, otoritas Isrel memberlakukan langkah-langkah keamanan di situs suci tersebut, seperti memasang detektor logam dan CCTV.

Hal ini dilakukan setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara sepihak mengumumkan pengaman tambahan pada hari Sabtu. Ia mengatakan bahwa mereka memberi Israel kontrol atas apa yang terjadi di kompleks tersebut untuk mencegah serangan di masa depan. 

Tapi hal itu membuat marah warga Palestina. Sebagai bentuk protes, mereka menolak untuk beribadah di dalam masjid, sampai Israel melepaskan kontrol mereka.

"Apa yang terjadi tidak bisa dibenarkan. Ini masjid kami dan kami menolak masuk melalui gerbang elektronik, ini tidak akan pernah bisa diberlakukan pada kami," kata seorang jamaah bernama Abu Mohammed, dikutip dari Al Jazeera

Omar Kiswani, direktur Masjid Al-Aqsa mengatakan pada radio Voice of Palestine bahwa tindakan pengamanan tambahan "merupakan bagian dari langkah yang berbahaya dan belum pernah terjadi sebelumnya oleh pihak berwenang Israel untuk memberlakukan kontrol atas Masjid Al-Aqsa."

Warga Palestina Tolak Pengamanan Israel di Masjid Al-AqsaSeruan untuk mengubah langkah-langkah keamanan di kompleks tersebut telah memicu kontroversi di masa lalu. Warga Palestina telah lama khawatir akan pergerakan Israel untuk mengubah status quo di tempat suci tersebut.

Kompleks Al-Aqsa merupakan situs yang sama-sama disucikan oleh warga Palestina dan Israel. Masjid ini terletak di Kota Tua Yerussalem.

Setelah Israel menduduki Yerusalem Timur pada tahun 1967, pemerintah Israel telah mempertahankan sebuah kesepakatan dengan Islamic Endowment, yang mengelola kompleks masjid tersebut. Non-Muslim diijinkan untuk mengunjungi situs tersebut, namun tidak diperbolehkan untuk beribadah.