Minggu, 16 Juli 2017 21:16 WITA

Banjir di Sidrap dan Wajo Tenggelamkan 8.973 Hektar Sawah

Editor: Ibnu Kasir Amahoru
Banjir di Sidrap dan Wajo Tenggelamkan 8.973 Hektar Sawah

RAKYATKU.COM, SIDRAP - Seluas 8.973 hektar lahan pertanian di Kabupaten Sidrap dan Kabupaten Wajo dipastikan gagal panen, dengan estimasi kerugian mencapai miliaran rupiah akibat banjir sejak Juni lalu yahingga kini belum surut.

Khusus di Kabupaten Sidrap, luas tanaman padi milik petani yang terkena puso (gagal panen) dan tidak bisa diselamatkan lagi sekitar 1.214 hektar lebih, sisanya 7.758 berada di daerah Wajo. 

Mayoritas lahan pertanian yang padinya rusak di Sidrap ini berada di kawasan pesisir Danau Sidenreng di empat kecamatan yakni Pancalautang, Tellulimpoe, Watang Sidenreng, dan Maritengngae.

Umumnya, kerusakan padi petani ini lantaran terendam banjir akibat terjadinya pendangkalan di Danau Sidenreng. "Sawah-sawah kami sudah berubah menjadi lautan sejak sebulan terakhir karena banjir," kata Bakri, salah seorang petani dari Kecamatan Tellulimpoe, Minggu (16/7/2017).

Menurutnya, untuk menyelamatkan tanaman padi miliknya itu sudah tidak ada harapan lagi karena lahan pertaniannya tersapu air dengan ketinggian jauh melewati batas pematang sawah. "Kami sudah tiga kali menanam padi, tapi selalu tergenang air dan tidak berhasil dipanen," keluh Bakri.

Meski begitu, petani yang mengalami kegagalan panen di Sidrap tidak semuanya merugi total. Pasalnya, pihak PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) akan memberikan santunan kliem asuransi bagi sejumlah petani di empat kecamatan daerah ini yang tanaman padinya terkena puso.

Kepala Dinas Pertanian Ketahanan Pangan Peternakan dan Perikanan Sidrap, Amiruddin Syam mengatakan, pihak Jasindo yang merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang perusahaan asuransi pertanian akan memberikan ganti rugi kepada para petani tersebut.

"Jadi, petani di empat kecamatan yang gagal panen tersebut dan sebelumnya terdaftar sebagai peserta asuransi di PT Jasindo akan mendapat santunan sebesar Rp6 juta per hektare," ungkap Amiruddin.