16 July 2017 01:00 WITA

Kisah Masa Lalu NH Soal Ibunya Nangis Gara-gara PPP

Editor: Andi Chaerul Fadli
Kisah Masa Lalu NH Soal Ibunya Nangis Gara-gara PPP

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Ketua DPD I Golkar Sulsel, Nurdin Halid punya kisah tersendiri dengan PPP. Dulunya, NH merupakan simpatisan dari partai berlambang Ka'bah tersebut.

Cerita NH dibeberkan kala sejumlah elite PPP Sulsel menyambangi kediamannya di Jalan Mapala, Makassar, Sabtu (15/7/2017) siang. Kunjungan PPP itu untuk mendalami programnya sebagai bakal calon gubernur Sulsel.

Ia mengawali ceritanya pada tahun 1977 silam. Kala itu dirinya masih berstatus mahasiswa semester satu yang didaulat menjadi pemimpin rombongan PPP untuk memilih Presiden RI. 

Sekitar 1000-an kendaraan bermotor, katanya, dimobilisasi untuk diajak memilih pemimpin negara saat itu dari Makassar menuju kampung halamannya, Bone. Dan rombongannya dibiayai oleh Haji Kalla.

Pemilu saat itu merupakan momentum pertama Nurdin sebagai pemilik suara sah. Nahas, niatan Nurdin tak sesuai harapan saat tiba di bumi Arung Palakka, tepatnya di Masjid Raya Bone. 

"Kita digiring masuk ke dalam, dikurung selama 18 jam. Tidak bisa makan, tidak bisa minum yang membuat saya kelaparan," ujar Nurdin yang disambut gelak tawa.

Dia saat itu disekap oleh orang-orang Golkar, yang merupakan partai penguasa di seantero nusantara, di bawah kendali Presiden Soeharto. 

Ibu dan bapaknya yang mengetahui Nurdin dalam situasi terkungkung, berupaya untuk menjenguk Nurdin bersama sejumlah rekannya. Ia dibawakan nasi bungkus. 

"Tapi tidak bisa masuk. Nangis lah ibu saya karena anaknya di dalam kelaparan, tidak bisa minum, tidak bisa makan," lanjutnya yang kembali memantik tawa disertai riuh tepuk tangan para pengurus PPP dan Golkar yang ada saat itu.

Atas kejadian itu pula, katanya, bapaknya yang merupakan kepala sekolah di Bone dipindah-tugaskan. Saat hari pencoblosan, dirinya mengaku digiring hingga ke bilik suara oleh para fungsionaris Golkar agar tidak memilih kandidat yang bukan jagoan 'beringin'.

"Jadi saat itu tidak ada itu istilah jurdil (jujur dan adil). Tidak ada," tegasnya.

Tidak cukup sampai di situ, usai pencoblosan, Nurdin juga dipaksa untuk berhenti mengampanyekan PPP. Sebab, orangtuanya terancam dicopot dari status PNS. Dan akhirnya, Nurdin mengamini permintaan ibunya.

Cerita berlanjut, kisah Nurdin dengan PPP kembali tercatat. Tepatnya di momentum pemilu berikutnya di tahun 1982. Meski, saat itu Nurdin telah berganti jaket dan berstatus anggota AMPI Satgas Mahasiswa Golkar. 

"Ketika ada massa Golkar ingin menyerang markas PPP Sulsel di Jalan Sungai Saddang, maka saya tampil membela PPP saat itu. Tidak boleh diserang PPP, kata saya saat itu," ungkapnya.

Dari dua kasus itu, Nurdin merasa punya kedekatan sejarah dan emosional dengan PPP. Makanya dia hingga kini masih merasa begitu dekat dengan PPP.

"Dan saat itu juga, akhirnya saya tahu bagaimana politik itu bekerja," demikian mantan ketua umum PSSI tersebut.