Sabtu, 15 Juli 2017 08:00 WITA

KOLOM

Hujan dan Gerakan Politik Kita

Editor: Almaliki
Hujan dan Gerakan Politik Kita
Ilustrasi hujan / Fadel Maujud

Hujan masih lebat di luar sana. Berita politik masih tersiar di pelbagai media. Gaduh sekali. Ketua partai ada yang terjerat korupsi, orang 'tinggi' di gedung kura-kura ditentang oleh anak muda, dan masih banyak lagi.

Pohon-pohon sudah tak ada lagi di luar rumahku. Aku meringis, udara kian menusuk kulitku yang tipis. Air limpah dan jatuh ke dalam sumur dan bunyinya liris.

Aku masak air dan membikin kopi dengan sedikit gula di pagi yang sunyi hari ini. Sembari kutonton siaran ulang perdebatan-perdebatan yang kupikir takkan selesai dalam waktu dekat. Ini melulu soal kuasa.

Anak muda itu getol sekali menyerang senior yang ada di gedung kura-kura dengan kata yang manis. Katanya, ia membela komisi super bodi yang dibuat presiden tahun lalu itu. Masyarakat mungkin banyak mendukungnya. lagipula gincunya mengkilat untuk tampil di televisi. Apakah aku harus memikirkannya juga?

Kata anak muda itu, ia membawa pesan suci masyarakat untuk disampaikan pada bapak yang terhormat di gedung kura-kura. Di pundaknya, katanya, ada tanggung jawab. Aku bergidik.

Pernah kutonton film Mel Gibson berjudul Brave Heart. Peperangannya membuat aku kagum, apalagi strateginya. Muka Gibson saat itu mencolok di atas sebuah kuda, gagah sekali. Saat itu ia berputar mengitari lapangan palagan yang luas dan hijau dengan rumput-rumputnya.

Kata orang, temanku, politisi itu banyak strateginya seperti yang dilakukan Gibson. Kadang berakrobat dengan mengagumkan. Tapi ia gampang kecewa. Kalau kemauannya tak terakomodir, ia bisa 'bernyanyi' dan berkhianat meskipun dengan sahabatnya.

Soal politisi, memang ada banyak partai di luar rumah. Banyak sekali. Ada komplotan pencuri juga di luar sana, semua mau masuk berita. Kenapa tidak bersatu saja, seperti puisi Rendra 'Bersatulah Pelacur-pelacur Kota jakarta.' Bukankah mencuri jadi lebih mudah jika bersatu? Kenapa harus terpecah-pecah?

Omong-omong, rumahku bukannya tidak pernah dimasuki pencuri. Pernah. Namun mereka cuma nyaris saja. Dua pintu rumahku dijaga. Awalnya ia dengan sopan bertanya, dan temannya yang lain mencari celah di pintu sebelah. Akhirnya mereka lari, setelah parang dibuka dan nyaris bicara.

Aku berpesan pada kau, waspadai dengan orang yang sopan dan baik di mana saja. Maksudku, tetap waspada dan pelajari mereka. Bukankah banyak yang sopan, kemudian masuk penjara ujung-ujungnya?

Hujan masih deras di luar rumah. Kopiku sudah nyaris tandas. Dingin belum reda. Aku harus pergi kerja, meski hujan dan tanah depan jadi becek. Kata Gie, "Bagiku sendiri politik adalah barang yang paling kotor. Lumpur-lumpur yang kotor. Tapi suatu saat di mana kita tidak dapat menghindari diri lagi, maka terjunlah."

Sudahlah, aku tak ingin berpolitik seperti maksud Gie. Biarkan aku terjun ke lumpur kotor. Aku mau cari uang. Kebetulan, isi kulkasku tak ada lagi ikan.

 

Ditulis oleh Muhammad Almaliki