13 July 2017 11:21 WITA

OPINI

Surat Cintaku untuk Tsamara Amany

Editor: Almaliki
Surat Cintaku untuk Tsamara Amany
Tsamara Amany

Teruntuk Tsamara Amany, perempuan yang mendaku dirinya politisi. Saya bukan seorang apolitis kok. Meski begitu, saya sejujurnya tidak pernah turun ke gelanggang di tempat seseorang bisa berubah begitu cepat.

Sebab apa yang kita makan, dari Bertolt Brecht, dianggap barang politik transaksional bukan? O ya Tsamara, saya punya banyak hal yang bisa saya ceritakan padamu soal cinta, soal asmara, soal apa saja yang humanis.

Kamu pernah dengar atau sempat baca tidak, soal Soe Hok Gie? Itu, yang di Catatan Seorang Demonstran. Saya harap, Tsamara pernah membaca buku itu sampai tuntas. Dan bagaimana ia bersekat pikir dengan Presiden RI 1, Soekarno.

Gie secara tampak menyebut kedekatannya dengan Prabowo Subianto, anak dari pembesar Bank BRI, Sumitro Djojohadikusumo. Ayah Prabowo ini bahkan sering disebut dalam beberapa kesempatan.

Gie menulis di dalam catatan hariannya itu, kalau Bowo--panggilan akrab Prabowo--banyak menghabiskan waktunya untuk mengurus organisasi, sehingga tidak terlalu memikirkan urusan asmara seperti kebanyakan ABG pada umumnya.

“Dari pagi keluyuran dengan Prabowo ke rumah Atika, ngobrol dengan Rachma, dan membuat persiapan-persiapan untuk pendakian Gunung Ciremai.” Kejadian ini ditulis Gie dalam catatan pada hari Kamis 29 Mei 1969.

Saat itu, Pak Bowo masih berusia 18 tahun, belum punya Titiek, apalagi cucu-cucu yang lucu--maaf saya puitis, saya ingat Aan Mansyur karena kamu. Umur Gie juga lebih tua dari Bowo beberapa tahun. 

Meski terpaut umur yang jauh, Gie menganggap Bowo adalah teman diskusi dan berdebat soal kebangsaan. Mereka saat itu, sudah diasup dengan buku-buku bacaan yang menarik, kemudian didiskusikannya bersama-sama.

Gie tak jarang mengkritik pemikiran Prabowo. “Bagi saya Prabowo adalah seorang pemuda (atau kanak-kanak) yang kehilangan horison romantiknya. Ia cepat menangkap persoalan-persoalan dengan cerdas, tapi naif. Mungkin kalau ia berdiam 2-3 tahun dalam dunia yang nyata, ia akan berubah.” Ia menulis uneg-unegnya pada Minggu, 25 Mei 1969. 

Tsamara yang rupanya manis. Saya menulis catatan usang itu, bukan ingin pamer intelektualitas. Tetapi saya ingin menunjukkan, kalau kamu adalah seseorang yang gampang mengingatkanku pada masa lalu.

Masih bingungkah? Setelah komentarmu atau 'serangan' ke Fahri Hamzah, saya mengingat hal di atas. Kamu dianggap oleh sebagian warganet adalah orang yang masih terlalu dini untuk turun ke gelanggang yang Plautus mengistilahkannya dengan homo homini lupus--serigala bagi sesama manusia--dalam bukunya yang berjudul Asinaria.

Meski begitu, bukan berarti kamu tak bisa mencurahkan isi pikiranmu bukan?

Aku berada di sampingmu Mara, kamu tidak sendiri kok! Kamu tahu, ekspresi gugupmu di depan singa podium, Fahri Hamzah, terlalu tampak saat aku melihatmu sebentar saja di layar kaca. Aku jadi gugup juga karenamu.

Tetapi saya tak ingin mencurahkan isi hatiku kepadamu, Mara. Paling inti, kupesankan padamu kata-kata guru saya, Emha Ainun Najib dalam buku terbarunya, Daur II.

Anak, Cucu, dan Saudaraku...

Seberapa bencikah engkau kepada iblis? Yang selalu kaukutuk di sela doa-doamu. Yang selalu kau persalahkan ketika kegelapan menutupi hatimu. Apakah kalian benar-benar percaya jika hatimu hanya memiliki dua sisi yang berseberangan? Kebaikan di sisi malaikat dan keburukan di sisi iblis. 

Mampukah engkau membaca isi hati manusia-manusia ini: para pejuang yang lantang menolak korupsi, orang-orang yang menolak merampok harta rakyat? Jangan-jangan, mereka menolak justru karena tak dilibatkan, tidak menjadi bagian dari perampok? Bisa jadi, mereka adalah para penguasa yang tidak mau menjadi budak, karena mereka mengerti nikmatnya mencambuki punggung budak-budak.

Lalu menurutmu, itu ulah iblis atau kamuflase para manusia yang gagal akalnya?

Sungguh, aku takut kau, atau aku yang dimaksud Cak Nun, Sammy. Kalimat itu lalu mengingatkan lagi pada larik sajak Rendra Si Burung Merak, Pertemuan Mahasiwa, "Kita bertanya 'kenapa maksud baik tidak selalu berguna, kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga?' Orang berkata 'Kami punya maksud baik' Dan kita bertanya 'Maksud baik saudara untuk siapa?"

Lalu terdengar pekikan lagi, yang kuharap itu darimu. Kau harus menjawabnya, Sammy. Mau tidak mau. "Kita ini dididik untuk memihak yang mana? Ilmu–ilmu diajarkan di sini, akan menjadi alat pembebasan, ataukah akan menjadi alat penindasan? Kita menuntut jawaban."

Dan Sammy, mungkin sampai situ saja. Semoga kau selalu sehat wal afiat. Doaku dari jauh untukmu. Jika kau berminat, balaslah suratku. Paling tidak, biar aku tenang, mana tahu kita bisa bertukar pikiran.

 

Ditulis oleh Muhammad Almaliki