11 July 2017 17:06 WITA

OPINI

Anda Pendukung Persib, Saya PSM; Kita Sama-sama Sensitif!

Editor: Almaliki
Anda Pendukung Persib, Saya PSM; Kita Sama-sama Sensitif!

Saya tidak akan marah, saya tidak akan marah jika dihina, saya tidak akan marah jika dihina soal hal-hal yang begitu sensitif. Setidaknya kata-kata itu terus mengaduk muara pikiran saya yang tadinya lancar jaya, mengarus pelan, dan tenang sekali.

Orang-orang menyekat orang lain. Jika gampang marah adalah langkah dini, langkah anak baru kemarin, langkah anak-anak yang belum dewasa. Maka kenapa begitu mudah sekali kita mengkotakkan sikap sebagai anti marah-marah klub?

Tunggu sebentar, saya akan ulas secara runut kenapa saya jadi manja begini. Awalnya tidak, sampai seseorang yang nun jauh di sana bahkan membentak orang-orang yang dengan sopan berbicara dengannya.

Tidak sampai di situ saja. Pembentak itu merasa benar karena dibela banyak orang. Kuasa populis dan kolektivitas tampaknya begitu berpengaruh di Indonesia kita ini. Saya lantas dituding sebagai anak-anak yang mudah baper (bawa perasaan) karena tak mengakomodir perbuatan itu.

Jauh sebelumnya, saat umur saya masih berkepala satu, saya sering marah-marah. Kadang-kadang menangis. Mengapa ibu saya tak mengajak saya pergi berbelanja ke pasar swalayan? "Hiks, hiks," begitu kira-kira sesengguk saya saat menangis kala itu. Entah, seingat saya begitu.

Ibuku lantas dengan bangga berujar begini, jika Kakakku membentakku karena cengeng sebab tak diboyong pergi bersama. "Namanya juga anak-anak. Biar. Ini ibu bawa cokelat Nak. Satu buat kamu, satu buat adik ya."

Ya, ibu tak melarangku merajuk, marah, atau apapun selama itu masuk dalam jangkauan rasionalitasnya. Ibu adalah tempat kita berekspresi tanpa takut dirisak. Pernah lihat, jika anak rantau ketemu orang tuanya atau kekasihnya? Pelukan, tangisan juga. Saya pernah lihat, di banyak film.

Manakala Zainuddin disambangi Hayati yang jemarinya sudah berinang dipersunting pemuda kota di Padang, ia menangis sejadi-jadinya. Makan tak tentu. Harapan pupus. Di sebelah saya saat itu--kebetulan saya nonton di bioskop--mengaduh, "Ah! Lebay!"

Lebay katamu? Jadi seluruh kesedihan itu kauanggap berlebihan jika ekspresinya tak sama denganmu? Duh!

Saya sedih. Sedih sekali. Kenapa anak-anak dan orang yang diamuk cinta tak boleh bersedih? Tak boleh berekspresi berlebihan? Haruskah semua orang di dunia ini dipukul rata dengan ekspresi datar dan tegar? Haruskah mereka diapresiasi?

Tampaknya akan banyak kajian yang akan dibahas jika menyangkut olah rasa.

Sudahlah, mari bergeser sejenak dari sikap saya yang mungkin aib bagi seseorang--yang saya alami di atas. Ayo kita bahas sepakbola antara PSM vs Persib Bandung. Sepertinya menarik.

Persib dan PSM Makassar memang laga yang panas. Apalagi saat Ketua PSSI merombak regulasi Liga 1. Pemain senior Persib jadi bisa bermain secara trengginas, ganas, penuh hasrat.

Sungguhlah saya benar-benar menikmatinya. Meskipun PSM Makassar kalah pada akhirnya. Sejauh mata memandang, memang ada beberapa kejanggalan. Hal ini tentunya subjektif pandangan saya. Toh tak masalah, ditolerir. Sepakbola memang tempatnya orang baper.

Tetapi yang saya sayangkan bagaimana tindak-tanduk oknum yang dengan hati ataupun tanpa, melempar botol ke arah pemain PSM Makassar. Mengapa? Katanya hal sepele, Hamka Hamzah memprovokasi Bobotoh--pendukung Persib Bandung.

Okelah. Masalah kita dudukkan sama-sama. Pembicaraan dengan bagian pendukung PSM dan Persib sudah selesai. Tak ada pertengkaran, mungkin sedikit ketersinggungan, namun semua cair. Sebuah kesia-siaan, bertengkar dan memutus persaudaraan karena sepakbola.

Kawan-kawan pendukung dari Persib pun dengan ikhlas dan murah hati menjamu kawan dan saudara-saudara saya yang pergi bertandang ke Bandung. Itulah sepakbola, jika dukunganmu berbeda, dalam lapangan Anda harus ambil diri, namun usai pertandingan, persaudaraan wajib di luar lapangan.

Masalah lalu berlanjut ke media sosial. Awalnya saya tak ambil pusing, toh semua masih wajar saja. Sisa-sisa emosi yang belum dilepas masih bergejolak. Namun yang membuat saya membaca dan memaknainya berkali-kali adalah sebuah kalimat, "PSM tak bisa berpesta tanpa penalti"

Kemudian warganet itu dengan entengnya menganggap jika terpelatuk dengan kata-katanya artinya harus memakluminya dan tak perlu sensitif. Bagus! Jadi kita bolehnya sensitif dalam ranah apa? Tak bisakah kita tersinggung dalam zaman yang mengabarkan serba pendek dan sumir ini?

Jadilah tulisan ini dibuat untuk bertanya hal itu saja. Media sosial terlalu pendek untuk menjelaskan sekelumit pikiran ini. paling tidak, pesan saya, rimba sepakbola adalah belantara yang isinya tidak cuman satu kepala. Ada pendukung yang klubnya kalah malah menangis, ada pendukung yang klubnya menang malah melempar, semua itu karena buah sensitivitas.

Teruslah menjadi anak-anak manis di lapangan, Bung! Bergembira ria dan patuhlah pada orang tua. Sebab, orang tua jugalah yang menanggung risikonya jika kita nakal di stadion dan di mana saja. Tak terkecuali jika orang tuamu pemilik liga.

PS: Film yang saya tonton itu berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.

 

Ditulis oleh Muhammad Almaliki, lelaki yang mencintai PSM, Makassar, dan semua orang yang bisa membuatnya tertawa.