20 June 2017 14:17 WITA

OPINI

Puasa Mengangkat Elektabilitas Kekhalifahan

Editor: Almaliki
Puasa Mengangkat Elektabilitas Kekhalifahan
Rival

Pagelaran politik Pilkada serentak (Pilgub/Pilbub) yang dihelat 2018 mendatang, sambung menyambung akan melewati hajatan puasa, yakni Ramadan tahun ini dan Ramadan pada tahun berikutnya. Orang-orang bergegas, berpacu, dan bersiasat, untuk memenuhi hasrat yang sama dan tak terhingga, yakni panggung kekuasaan.

Citra pemimpin direngkuh lewat berbagai strategi manipulasi. Visualisasi bulan suci Ramadan oleh kandidat menjamur di beranda media sosial, spanduk dan baliho yang menampilkan foto para kandidat membanjiri jalan dan masjid-masjid, menyapa dengan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa.

Dalam terminologi Emha Ainun Nadjib, ulama yang akrab disapa Cak Nun puasa itu melatih "tidak" karena kehidupan sehari-hari kita adalah melampiaskan "ya". Sekurang-kurangnya mengendalikan "ya".

Mental manusia lebih berpihak pada "melampiaskan" dibanding "mengendalikan”. Padahal, keselamatan peradaban, keindahan kebudayaan, kepengurusan pemerintahan dan kemasyarakatan lebih mengacu pada pengendalian dari pada pelampiasan. Maka puasa menjadi sangat penting untuk melatih "tidak" itu.

Puasa adalah media menempah diri berkuasa, untuk jadi pemimpin bagi diri masing-masing dan lingkungan sosial. Kekuasaan dan kepemimpinan atas diri sendiri dan lingkungan sosial hanya dapat diraih melalui kesederhanaan, ketulusan, pengendalian sahwat dan kejujuran berpuasa.

Relasinya pun menjadi vertikal dan horizontal. Puasa juga merupakan perjalanan memasuki kesunyian, menghayatinya, merenunginya, kemudian menemukan nikmatnya dan makna kekhalifahan di muka bumi. Secara vertikal, kualitas puasa akan mengangkat elektabilitas kekhalifahan seseorang di mata Tuhan.

“Aku tidak dapat membiarkan perutku kenyang,” ujar Nabi Yusuf. “Ketika perutku kenyang, aku tidak dapat mendengar suara perut rakyatku yang lapar.” Inilah politik puasa, ikhtiar meraih predikat  orang terpilih (the chosen people) dan pemimpin agung di mata Tuhan (great leader in the eyes of god).

Capaian prestasi vertikal itu akan menemukan tempat tumbuh di dalam perjalanan kehidupan. Secara horizontal, kesederhanaan, ketulusan, pengendalian sahwat, dan kejujuran berpuasa menjadi derajat kenaikan predikat kekhalifahan yang kembali ke kehidupan nyata melalui skenario ilahi yang penuh misteri.

Selain itu puasa tidak juga sebatas menahan haus, lapar dan hal-hal yang membatalkan puasa. Puasa adalah kewajiban yang seharusnya manusia beriman lakukan sebagai wujud kehambaannya kepada Tuhan dan perenungan kekhalifahannya di muka bumi sebagai mahkluk Tuhan yang sanggup menerima beban khalifah di muka bumi dibandingkan makhluk ciptaan tuhan lainnya.

Puasa harus dimaknai secara sosial. Dengan berpuasa di bulan yang suci ini bukan hanya memetik hikmah sebatas ritual degan berbagai visualisasi. Menahan diri dari hal yang membatalkan puasa dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Puasa semestinya dimaknai sebagai pengungkapan empati terhadap lingkungan sosial.

Puasa menjadi momentum untuk menghasilkan pemimpin yang berpuasa. Menahan diri dari sikap korupsi dan zalim, yakni mengendalikan sahwat kuasa menyantap dengan lahap potongan tubuh populasi politik rakyat dengan janji musiman yang tak kunjung ditepati.

Pemimpin yang tidak pernah menyadari bahwasanya ia adalah seorang pemimpin, selalu menggunakan jabatan untuk berbuka dengan kekuasaan yang diamanahkan kepadanya. Seperti kata Milan Kundera, melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa

Para kandidat pesta lima tahunan harus menjadikan puasa sebagai ranah pendidikan mental. Saat mendapatkan jabatan jangan melantunkan Allaahumma Lakasumtu, sehingga tidak sanggup berpuasa jabatan, akhirnya memilih berbuka korupsi, bersetubuh dengan pemodal dan jabatan. Puasa harus menjadi media filter yang diarahkan secara  positif bukan bentuk politisasi.

Hubungan puasa dan kepemimpinan ini misalnya dapat kita lihat pada pribadi Nabi Dzulkifli ‘alaihissalam, pribadi Nabi Daud ‘alaihissalam , dan pribadi Nabi Muhammad Sallalahu Alaihi Wasallam yang menjadikan puasa sebagai ladang membentuk derajat kekhalifahan.

Teladan nabi ini diikuti oleh para sahabat, khususnya khulafaur rasyidin seperti Abubakar, Umar, Utsman, dan Ali Bin Abi Thalib. Mereka menjadikan puasa sebagai atribut dan lambang kepemimpinan, sehingga rakyatnya hidup makmur dalam kesejahteraan dan keadilan.

Pemimpin yang tidak memaknai  puasa, tidak akan mampu mengendalikan jiwa dan perilakunya. Tidak dapat bertahan dalam kehidupan yang sulit. Tidak bisa tegas menentukan keputusan, karena jiwa dan pikirannya masih digantungkan pada banyak kepentingan. Tidak mampu melihat jernih persoalan, karena hatinya diselimuti sahwat kuasa.

Puasa bagi para kandidat pemimpin di Sulawesi Selatan dapat menjadi ladang mengangkat manusia politik dari lembah kotor kebinatangan, dengan membangun kembali sifat-sifat keutamaan dan kemuliaan manusia politik.

Inilah program “rehumanisasi politik” untuk mengangkat elektabilitas kekhalifahan dalam memaknai puasa, yaitu melepaskan manusia politik dari kawanan “serigala politik”, yang tak saja memangsa sesama manusia, tetapi menjarah nilai luhur kemanusiaan itu sendiri.

Sirah para nabi dan kisah para pemimpin agung di setiap lapis masa menyebutkan hal itu. Bagi kita, pemimpin yang sederhana, merakyat, tulus, dan jujur serta mampu mengendalikan sahwat kuasa demi kepentingan rakyatnya adalah mereka yang dirindui di bilik suara pada 27 Juni 2018 nanti.

Oleh : Rival Pasau (Mahasiswa Ilmu Politik Pasca Sarjana UNHAS & Pengurus KNPI Sulsel)

Tags