07 June 2017 20:15 WITA

Musim Muslim

Di Mana Allah?

Editor: Almaliki
Di Mana Allah?

Sebenarnya bertanya itu tidak salah. Tetapi orang-orang yang jauh lebih dulu hidup dari kau, sudah pernah kesal karena ditanya. Memang ada pertanyaan yang dari dulu belum diketahui jawabannya. Maksud Bani isi pertanyaannya.

Kau tahu kan kalau orang sering ditanyai macam-macam? Ia bisa menudingmu cerewet atau bahkan lebih buruk dari itu.

Tetapi tulisan hanya sekadar membahas Bani dan Bahar. Siapa lagi kalau bukan mereka? Bani tadi berdiskusi dengan Bahar di warung Bu Sulis. Ia makan dua risol isi daging ayam dengan bihun. Satu nasi hangat, ditemani sup kacang merah dengan kaki ayam rebus.

Bahar langsung menenggak kopi hitam. Kopi sasetan seribuan. Mencecap beberapa kali, rokok ketengan lalu diisapnya dalam-dalam. Asapnya benar-benar dinikmati. Mulutnya mencong saking menikmati.

Ia berdua berbicara soal pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. "Tidak selalu pertanyaan itu ada jawabannya. Akal itu bisa melenakan Saudara," kata Bani mengingatkan.

Tetapi. Ya, tetapi selalu masuk dalam kelit. Muasal relatif itulah yang membuat Bahar bersikeras terus memberondong Bani tentang pertanyaan, soal di mana Allah salah satunya.

"Tapi masa dalam literer yang kaubaca tidak ada yang menjelaskan itu. Saya kira jawabannya itu di Arsy. Tapi belumpika yakin, Saudara."

Bani kemudian mengajaknya berputar dalam lintas berpikirnya sendiri. Sebuah metodologi untuk menjawab pertanyaan memang perlu, tidak asal dijawab begitu saja.

Dan dikisahilah tulisan-tulisan Buya Hamka ihwal tanya-jawab kala dia masih hidup. Seseorang pernah bertanya padanya, apakah kaum Muslim nanti bisa menjejakkan kakinya di bulan?

Tidak sampai di situ saja, ditanyai pula Buya ke arah mana kiblat jika di bulan, sedangkan Kakbah berada di bumi. Paling tidak, intinya orang itu bertanya bagaimana cara seorang Muslim beribadah di bulan. Penting sekali, bukan?

"Kau tahu apa yang dijawab oleh Buya, Bahar?"

"Ya, apa itu Saudara?"

"Pegang teguhlah firman Allah--Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu (al-Baqarah: 185)--Bahar. Jangan menyusahkan pikiranmu," ujar Bani.

Lalu ditanyalah lagi orang itu, soal bagaimana caranya mau salat, kalau orang Islam sendiri belum ada yang menjejakkan kakinya di sana. Lebih tepatnya, bahan diskusi harus dipikirkan matang-matang lebih dulu.

Ihwal salat, selama diniatkan menghadap kiblat, insyaallah akan diterima jua salatnya--tentunya di tempat yang tidak jelas arah kiblatnya.

"Khalifah Umar bin Khathtab pada akhirnya melarang umat Islam menghabiskan waktu membincangkan perkara yang belum terjadi, Saudara." Akhirnya Bahar terdiam lagi.

"Soal Allah di mana, biarlah Ia yang tahu sendiri jawabannya. Jangan sampai pikiran kita membendakan Allah, tempatnya kita bendakan. Wallahualam jawabannya," Bani berujar lagi.

Bahar akhirnya mafhum. Ia memesan risol karena melihat Bani begitu lahap memakannya. Kopinya juga belum tandas. Asap rokoknya masih membubung di warung Bu Sulis.