02 June 2017 20:10 WITA

Musim Muslim

Filosofi Puasa dan PSM Makassar

Editor: Almaliki
Filosofi Puasa dan PSM Makassar

Bani benar-benar mengangumi Emha makanya tulisan ini dimulai. Ini soal sepakbola dan puasa. Klub andalan Bani tak lain dan tak bukan adalah PSM Makassar.

Awalnya ia sekadar membaca satu tulisan pendek mirip pesan singkat dari Emha. Itupun secara tak sengaja lewat media sosial. Tulisan Emha apik benar.

Judulnya itu Syarat Nasionalisme

Jangankan dalam berkeluarga, bermasyarakat dan ber-Negara, sedangkan teamwork dalam bermain sepakbola saja memerlukan prinsip syahadat, salat, zakat, puasa agar 'mabrur' mencapai keindahan gol. Gol di gawang lawan yang letaknya tidak di 'sana' melainkan di 'sini'. Gawang lawan itu berada dalam diri kita sendiri, di lapangan nafsu, egosentrisme, subjektivisme golongan-golongan dalam politik, yang merusak 'syariat' nasionalisme.

Bagaimana tidak kagum si Bani, Emha menghubungkan bola dan filosofi puasa lewat tulisannya itu. Makanya keburu tulisan ini dibuat.

Kata Emha puasa itu adalah cara untuk menahan diri sendiri. Melawan nafsu yang ada dalam diri kita. Melawan kebiasaan konsumtif kita. Semua harus ditekan.

Orang-orang banyak yang salah kaprah soal puasa. Katanya puasa itu adalah kembali buas ketika berbuka. Padahal Rasulullah berpesan, meski tidak berpuasa, tekanlah kebuasan kita. Harus pandai menahan diri.

Sebab puisi adalah puasa itu sendiri. Tulisan ini juga adalah puasa. Daripada Bani ribut-ribut dan misuh karena di luar sedang tidak baik-baik saja, makanya ia menulis dan meredam emosinya.

Emosi tentang apa? Ya emosi tentang PSM Makassar. Tunggu dulu, emosi jangan langsung diseragamkan dan diserampangkan artinya tentang saling gebuk atau saling silat kata dan kalimat.

Emosi kan banyak macamnya toh. Jadilah PSM kemarin bermain tidak pada tataran kesabaran. Setidaknya Bani melihat itu. Jauh lebih dalam berbicara tentang tekanan.

Kala itu bersua PS TNI. Juku Eja dibungkam 2-1, sekaligus mengakhiri tren kemenangan yang dikepalnya secara kurang keras. PSM lengah karena terlalu sibuk menyerang sampai beknya meninggalkan pos yang seharusnya dijaga.

Itu untuk gol kedua. Alangkah sedih hati Bani saat itu. Tapi pelatih kan punya cara yang jitu. Taruhlah isi hati Bani ini adalah guratan orang-orang resah soal PSM yang kadang lupa soal puasa dan melawan diri, menekan nafsu menyerang yang bisa membahayakan jiwa dan raganya sendiri.

Tetapi Bani jadi ingat, Guardiola berpesan kalau pertahanan terbaik adaah menyerang. Jadi Bani juga punya pesan, semoga PSM bisa memahami filosofi puasa saat melawan Persipura pada laga kesembilan Gojek Traveloka Liga 1 di Stadion Mattoanging. Sebab padanya, kebanggaannya digantungkan. Semua ini hanya untuk PSM.

 

Ditulis oleh Muhammad Almaliki.

Tulisan ini akan dibuat berseri selama bulan Ramadan 2017 (7-30).