Kamis, 18 Mei 2017 14:07 WITA

Pati, Nenek 80 Tahun yang Miskin dan Sebatang Kara di Pangkep

Editor: Mulyadi Abdillah
Pati, Nenek 80 Tahun yang Miskin dan Sebatang Kara di Pangkep
Pati saat berada di gubuknya, Kelurahan Marang, Kecamatan Marang, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. 

RAKYATKU.COM, PANGKEP - Namanya Pati, usia 80 tahun. Ia bertahan hidup sebatang kara di tengah keterbatasan ekonomi di Kelurahan Marang, Kecamatan Marang, Kabupaten Pangkep, Provinsi Sulawesi Selatan. 

Sejak suami dan anak semata wayangnya meninggal pada puluhan tahun lalu, Pati hidup berpindah-pindah. Kadang menumpang di rumah saudara, tetangga dan tempat kosong. Hingga akhirnya tetangga dan keluarga Pati membuatkan gubuk berukuran 2 x 2 meter yang terbuat dari gamacca (dinding pelepah pohon???).

Saat jurnalis Rakyatku.com mengunjungi kediaman Pati, perempuan ini nampak tegar hidup sendiri di usia senjanya. "Tidur, salat, mandi dan buang air ya di sini, mak. Saya suka jalan-jalan, numpang di rumah orang, nanti saya di kasih makan di situ," ujar Pati terbata-bata, Kamis (18/5/2017).

Pati, Nenek 80 Tahun yang Miskin dan Sebatang Kara di Pangkep

Walupun begitu, Pati mengaku sudah terbiasa memasak sendiri walupun raskin jatahnya tidak turun sejak empat bulan lalu. Gubuk miliknya pun dibuatkan keluarganya di atas tanah orang lain. 

Stigma 'gila' pun kerap dilekatkan kepada dirinya sejak dia sering jalan dan numpang di rumah orang. Terlebih karena sering bicara dan menyebut nama anaknya yang telah tiada. "Biasa ka dibilangi gila, dalam hatiku, dia ji sendiri yang gila," ungkap Pati, tersenyum.

Muliyana, keponakan Pati mengaku, salah satu yang membuat Pati terpukul adalah kematian Hawiyah, anak satu-satunya yang merantau ke Malaysia puluhan tahun yang lalu. Kabar kematian Hawiyah pun disampaikan cucunya dari Malaysia melalui surat yang diterima Pati sekitar 15 tahun lalu. 

"Sejak saat itu dia semakin merasa kehilangan, setelah sebelumnya suaminya juga telah meninggal, itu mi kadang dia bicara sendiri seperti orang gila sebut sebut nama anaknya," jelas Muliyana.

Pati, Nenek 80 Tahun yang Miskin dan Sebatang Kara di Pangkep

Jatah raskin Pati pun kata Muliyana tidak turun sejak empat bulan terakhir. Di tengah keterbatasannya, Pati kata Mulyana selalu aktif dan lebih sering jalan mencari tempat tidur yang disukainya.

"Baru kemarin dia tiba di rumah, sebelumnya di tempat kosong bekas tempat jualan jeruk di pinggir poros, kurang lebih satu minggu di sana," ungkap Muli, sapaan akrab Muliyana.

Pati kata Mulyana belum sama sekali tersentuh bantuan pemerintah. Baik Kelurahan, maupun Kecamatan. Bahkan KTP milik Pati pun salah tulis, dari seharusnya perempuan tertulis berjenis kelamin laki-laki. Dari umur 80 an, di KTP tertulis umur 68 tahun.

"Entah apa maksudnya, tapi yang tertera di KTP tidak sesuai. Adeknya saja, Ibu saya sudah umur 70 an," jelas Muliyana.

Tak muluk-muluk harapan tetangga dan keluarga Pati, sedianya nenek seperti Pati,  apalagi tanpa warisan, tanpa keluarga, tanpa sandang dan pangan yang jelas, semestinya negara mengambil peran, memberikan perlindungan.

Tags