Sabtu, 14 Mei 2016 20:32 WITA

Sosiolog UNM: 82 Kasus Bunuh Diri di Indonesia Dalam Sehari

Penulis: Vera Bahali
Editor: Sulaiman Abdul Karim
Sosiolog UNM: 82 Kasus Bunuh Diri di Indonesia Dalam Sehari

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Salah seorang Sosiolog dari Universitas Negeri Makassar (UNM), Andi Basti Tetteng menilai fenomena bunuh diri belakangan ini meningkat. Ia menyebutkan, di Indonesia diperkirakan ada 82 orang Indonesia yang bunuh diri setiap harinya.

"Fenomena ini merupakan gambaran kian merosotnya kesehatan mental masyarakat Indonesia. Menurut Data WHO Tahun 2005 sedikitnya 30 ribu kasus bunuh diri di Indonesia setiap tahunnya. Artinya rata-rata ada 82 orang Indonesia bunuh diri perharinya. Kelompok usia paling banyak bunuh diri adalah remaja dan dewasa muda usia 15 hingga 24 tahun," papar dia kepada Rakyatku.com (14/5/2016).

Dari segi jenis kelamin, kata Basti, laki-laki empat kali lebih banyak bunuh diri dari perempuan. Namun angka percobaan bunuh diri perempuan melakukan empat kali lebih banyak dari laki-laki. "Secara khusus mengapa laki-laki lebih banyak melakukannya karena laki-laki menganggap sebagai solusi mengakhiri hidup, laki-laki cenderung pantang atau malu menarik ucapannya jika terlanjur diucapkan atau direncanakan," jelas dia. 

Ia melanjutkan, tindakan bunuh diri yang dilakukan perempuan sebetulnya lebih sebagai upaya 'meminta dikasihani'. Sehingga ketika hendak bunuh diri ada yang kasihani, berempati, mengerti dan mampu memahaminya maka cenderung batal bunuh diri.

Saat ini, posisi Indonesia untuk kasus bunuh diri sudah mendekati Jepang yakni lebih dari 30 ribu pertahun. Sedangkan Cina mencapai 250 ribu pertahun. Basti memaparkan, ada empat faktor penyebab bunuh diri. Yakni gangguan mood seperti stress, konflik, depresi. 

Ini terjadi karena ketidakmampuan pelaku menanggung beban hidup yang dialami, putus asa dan kehilangan makna hidup. Selain itu juga karena faktor gangguan mental, terutama gangguan otak, gangguan panik, gangguan kepribadian, skizofrenia.
"Juga faktor  hubungan sosial atau merasa terisolasi, merasa kehilangan atau terputusnya  hubungan dengan orang terdekat atau orang yang disayangi," lanjutnya.

Faktor terakhir yakni karena meniru dari lingkungan sosial. Alasan ini disebabkan karena pelaku kurang keterampilan atau alternatif penyelesaian masalah secara baik yang dipelajari lingkungan sosial. "Untuk di Sulsel kurang lebih disebabkan oleh 4 faktor yang telah saya uraikan. Terutama faktor 1, 3 dan 4," pungkas dia.