Kamis, 13 April 2017 12:47 WITA

Taksi Daring dan Konvensional, Lebih dari Sekadar Pertarungan Ide

Editor: Almaliki
Taksi Daring dan Konvensional, Lebih dari Sekadar Pertarungan Ide

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Ribut-ribut soal disahkannya aturan mengaspal taksi daring atau online di beberapa kota, membawa dampak begitu besar. Adu kuat lantas menjadi jalan keluar, tak pelak saling teror terjadi.

Seperti yang terjadi di Kota Makassar. Beberapa waktu belakangan ini, tercatat beberapa kasus taksi daring melawan taksi konvensional. Hal itu dimulai saat demo besar-besaran yang terjadi di kolong jalan layang Makassar atau flyover.

Para sopir angkutan kota atau petepete bersama sopir taksi konvensional, berteriak lantang dan menolak adanya angkutan yang bisa dipesan via daring.

Alasannya sepele, rezeki mereka dipastikan pelan-pelan berkurang karena adanya pesaing yang mengakomodir semua yang dimiliki angkutan konvensional dan memanfaatkan kekurangan mereka baik itu murah, praktis, aman, dan nyaman.

Taksi Daring dan Konvensional, Lebih dari Sekadar Pertarungan Ide

Seperti kata Ketua Apetaksi Sulsel, Iskandar. Secara gamblang, ia menjelaskan kalau angkutan daring haruslah terlebih dahulu berbadan hukum.

"Taksi online ini tidak terikat aturan Permenhub Nomor 32 Tahun 2016, tentang penyelenggaraan angkutan umum berbasis teknologi informasi," kata Iskandar, dalam Rapat Dengar Pendapat, beberapa waktu lalu di DPRD Sulsel.

"Tiga bulan yang lalu masih bisa kita bersaing dengan taksi online, sekarang ini susah. Pertama masalah argo, kita terikat. Sedangkan mereka [taksi online] mengatur sendiri. Dan kedua, saya melihat ini persaingan tidak sehat di bidang transportasi," tambahnya.

Bukti kerugian yang dirasakan sebelum adanya taksi daring, jumlah armada taksi konvensional yang beroperasi sebanyak 1400 lebih. Setelah angkutan daring ada, jumlahnya menurun. Saat ini lebih banyak angkutan online yang beroperasi, jumlahnya sekira 3000 lebih.

"Bagaimana pengemudi ini mau turun bekerja, kalau penumpang kita rasa sudah kurang. Waktu habis di jalan, tetapi setoran sudah berkurang," ujarnya.

Melihat hal itu, pemerintah lalu mengambil jalan pintas. Dinas Perhubungan Sulsel dan Dirlantas Polda Sulsel lalu merazia taksi daring pada Jumat, 7 April lalu lalu memberikan surat edaran terkait pemberhentian taksi daring.

Taksi Daring dan Konvensional, Lebih dari Sekadar Pertarungan Ide

Atas hal itu, Korlap Forkom Driver Grab Car Makassar, Ilyas Nyarrang mengemukakan, ia sangat tidak sepaham dengan tindakan Dishub Sulsel. "Kami ini sudah seperti penjahat yang meresahkan masyarakat. Kenyataanya saja, banyak kok yang mendukung keberadaan kami," kata Ilyas.

loading...

Ilyas justru menyoroti aktivas taksi liar yang kerap beroperasi di Makassar. Banyak di antaranya, kata Ilyas, bermunculan taksi-taksi ilegal yang tak jelas asal usulnya.
 
"Kita lihat saja di Mal Panakkukang, ada banyak mobil plat kuning yang tidak jelas, ada yang tidak ada nomor pengaduan, ada juga yang tidak ditahu sopirnya."

Olehnya ia berharap, taksi yang meresahkan tersebut lebih dulu diurus ketimbang transportasi berbasis online yang harus menjadi tumbal. "Masyarakat senang dengan kehadiran kami, kenapa kami dilarang? Tapi sebaliknya, masyarakat banyak mengeluh dengan taksi ilegal, kenapa tidak diurus," demikian dia.

Keputusan-keputusan inilah, lalu membuat angkutan konvensional dan angkutan daring lalu memanas. Paling anyar, seorang pengemudi grab car nyaris saja diamuk beberapa oknum sopir taksi konvensional, sesaat setelah menaikkan penumpang ke mobil Honda Brio miliknya.

Adalah Wawan, pengemudi taksi daring. Ia menuturkan, kejadian tersebut berlangsung sangat singkat. Setelah ia menaikkan penumpang dari lobi Mal Panakkukang, tiga orang sopir taksi kemudian menghampirinya.

"Dia paksa saya turunkan penumpang, tapi saya ngotot soalnya dia juga tidak jelas dari mana," kata Wawan. Setelah terjadi cekcok yang alot antara dirinya dan sopir taksi, ia pun memilih mengalah dan meminta penumpangnya untuk turun.

"Saya masih berpikir panjang, rezeki itu tidak lari kemana. Saya turunkan penumpangku, tapi sopir taksi itu masih ngotot sampai mau memukul," tukasnya.

Karena tindakan-tindakan oknum yang menjurus kasar kepada pengemudi taksi daring, lalu membuat Jufran alias Noval yang juga menjadi sopir taksi daring, mencak-mencak di depan Mal Panakkukang. Dengan tegas, ia menantang siapa saja yang berani menggangu pengemudi taksi daring, bisa berhadapan dengannya.

Dari kejadian itu semua, Soraya, masyarakat yang juga menjadi penumpang grab car mengeluhkan pelbagai macam insiden yang terjadi.

"Aneh-aneh saja, kami dimudahkan dengan adanya grab, tapi ada segelintir orang yang tak mau kalah bersaing menyusahkan kami," terang Soraya.

 Warga Jalan Daeng Tata 1 itu menambahkan, seharusnya pemerintah lebih becus mengurus keberadaan taksi ilegal, yang sopirnya pun tak jelas asal-usulnya.

"Grab itu belum ada sampai pengemudinya, kita sudah tahu orangnya yang mana, mobilnya apa. Pemerintah seharusnya bisa mendengar apa yang diinginkan masyarakat," tukasnya.

Loading...
Loading...