Jumat, 13 Mei 2016 09:02 WITA

Mimbar Jumat

Bijak Memperbaiki Aib

Editor: Andi Chaerul Fadli
Bijak Memperbaiki Aib
ilustrasi

Ada suatu kalimat yang sangat berharga, yaitu "Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan kepadaku kesalahanku." 

Ungkapan agung yang memiliki banyak makna mulia ini diucapkan oleh Umar bin Abdul Aziz. Sebuah ungkapan yang mudah diucap namun sulit untuk dipraktikkan kecuali oleh mereka yang memiliki jiwa besar, kokoh, hati yang suci, dan tawadhu', yang mampu dan siap menerima serta menyadari aib yang ada pada dirinya, menghadapinya dengan tegar. Dan kemudian fokus pada usaha untuk selalu memperbaikinya. 

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: 

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (QS. Fushshilat/41:35)

Tidak ada seorangpun di dunia yang luput dari aib. Namun terkadang kita tidak jujur terhadap diri kita. Kita tidak siap mental menerima aib kita. Sering terkesan membela-bela diri dan tidak mau menerima aib kita yang terungkap. 

Seandainya energi yang kita pergunakan untuk membela diri itu kita alihkan untuk melaksanakan ketaatan, maka perlahan namun pasti, aib-aib kita itu akan terlihat oleh kita. Kita akan bisa mengetahui aib yang kita miliki.

Apalagi jika kita memiliki teman yang baik, yang selalu mengingatkan kita kepada dzikrullah dan mengingatkan kita terhadap aib kita, tanpa bermaksud mencela ataupun menyebarkannya kepada khalayak ramai. 

Seorang Ulama Salaf menyatakan, "Saudaramu yang selalu mengingatkanmu kepada Allah, memberitahukan aib-aibmu itu lebih baik bagimu daripada yang menaruh beberapa uang dinar di tanganmu."

Terbongkarnya aib seseorang, baik lewat pemberitahuan seorang teman yang baik kepadanya ataupun melalui proses evaluasi diri, bisa jadi merupakan tanda kebaikan yang Allah Subhanahu wa Ta'ala inginkan pada diri orang tersebut. Karena orang yang mengetahui dan menyadari aibnya, akan bisa melakukan perbaikan-perbaikan di masa-masa yang akan datang. 

Semakin banyak aib yang terlihat, semakin besar usaha yang dilakukannya. Oleh karena itu, mestinya kita berterima kasih kepada orang yang mengingatkan kita terhadap aib kita. Karena dengan itu, kita jadi tersadar dan akhirnya berkesempatan memperbaiki diri. Namun sekarang sering terbalik, mestinya kita berterima kasih, malah kita marahi dan kita benci dengan berbagai alasan. 

Dalam islam, ada adab-adab yang harus diperhatikan saat hendak menyampaikan aib ke orangnya. Yaitu hendaklah dilakukan dengan cara bijaksana, menjunjung tinggi adab kesantunan, cara yang baik, kalimat yang indah, menenangkan dan bisa melapangkan dada, dengan lemah-lembut tanpa kekerasan, nasihat secara diam-diam, sindiran dan bukan dengan cara terang-terangan. 

Demikian ini akan lebih mudah diterima; karena adab dalam menyampaikan, ungkapan cinta dan pujian memiliki pengaruh yang sangat kuat. 

Demikian juga orang yang menerima pemberitahuan tentang aib dirinya, hendaklah lebih mendahulukan prasangka baik dalam responnya, sehingga dia lebih mudah berlapang dada dengannya. 

Dalam syariat, terdapat aturan dalam menyikapi aib diri kita juga aib orang lain yaitu hendaknya kita menutupinya, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala menutupi aib kita tersebut juga aib orang lain. Karena Allah Maha Penutup dan mencintai orang yang menutupi aib. 

Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala Maha Pemurah, kekal, dan Maha Penutup, Dia mencintai rasa malu dan sikap sitru (menyembunykan aib). (Riwayat Abu Dawud dan Nasa'i) 

Loading...

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap umatku diampuni kecuali Mujahir (orang yang membuka aib sendiri), dan termasuk perbuatan membuka aib, seperti seorang hamba yang melakukan sebuah perbuatan pada malam hari kemudian keesokan harinya ia berkata, 'Wahai fulan! Tadi malam aku telah melakukan ini dan itu, padahal malam harinya Allah menutupi perbuatannya, akan tetapi keesokan harinya ia membuka penutup yang Allah telah berikan". (HR. Muslim) 

Jika seorang hamba tergelincir dalam perbuatan maksiat, lalu ia bertaubat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala lalu Allah menutupi aibnya tersebut di dunia, maka dia juga harus menutupi aibnya tersebut. Barangsiapa menutup aibnya, maka ia akan selamat dari celaan manusia dan terhindar dari murka Allah Subhanahu wa Ta'ala . 

Larangan menyebarkan aib akan membantu pelaku aib itu sendiri untuk bertaubat. Karena, jika aib itu disebarkan, maka bisa jadi perbuatan itu akan merusak dan bisa jadi akan membuat pelakunya semakin nekat dan berani berbuat dosa. 

Sebaliknya, manutupi aib bisa menjadi terapi dengan tetap menjaga harga diri dan kesucian, juga bisa semakin menguatkan ikatan cinta dan kasih sayang serta membangun sebuah pondasi yang agung, yaitu husnudzan di antara orang-orang mukmin. 

Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata, "Sesungguhnya seorang mukmin itu akan senantiasa menutupi aib dan menasehati; sedangkan orang munafik dan pendosa senantiasa akan membuka aib serta mencela." 

Sungguh sangat beda antara orang yang menunjukkan aib sebagai nasehat yang dilandasi kecintaan dengan orang sibuk dan senang mencari-cari kesalahan orang lain, siang dan malam. Ini adalah penyakit tercela, manakala seseorang melepaskan lisannya kemudian memata-matai manusia. 

Dia akan semakin lemah badannya, usianya terus bertambah, hatinya semakin sakit, waktunya tersia-sia, sementara dia tidak menyadari aibnya sendiri. 

Mestinya kita berhati-hati dan selalu menjaga diri kita. Salah seorang salaf berkata, "Saya terkadang melihat sesuatu (yakni aib orang lain) yang tidak aku sukai, namun aku tidak berani mengucapkannya karena aku takut akan tertimpa dengan semisalnya.

"Yang lain berkata, "Kami telah diberitahu bahwa orang yang paling banyak kesalahannya adalah yang paling sering menyebut kesalahan manusia." 

Diriwayatkan dari Abi Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu , ia berkata, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 

"Hai orang-orang yang beriman dengan lisannya namun imannya tidak sampai ke hatinya ! janganlah kalian menggunjing kaum Muslimin ! jangan pula kalian mencari-cari kesalahan mereka. sesungguhnya, orang yang mencari-cari aib Muslimin, maka Allah akan mencari kesalahannya. Barangsiapa yang Allah cari kesalahannya, maka Allah akan membuka keburukannya di dalam rumahnya." (HR. Abu Dawud) 

Hendaklah hadits ini menjadi renugan bagi kita. Sehingga kita akan semakin bijak dalam menyikapi aib kita dan orang lain, karena tidak seorangpun yang bersih dari aib. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala senantiasa membimbing kita dan semua kaum muslimin dalam memperbaiki aib masing-masing kita.

Sumber: Al Sofwah

Loading...
Loading...