Sabtu, 07 Mei 2016 22:50 WITA

Opini

SituOrang di HMI

Editor: Mulyadi Abdillah
SituOrang di HMI
Arif Saleh (Kiri)

"MULUTMU Harimaumu". Peribahasa ini sangat pas dialamatkan ke Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Saut Situmorang yang dua hari terakhir namanya mendadak menjadi trending topik di media sosial.

Akibat pernyataannya di talk show di salah satu tv swasta, Saut langsung menjadi perbincangan hangat. Bukan tentang gebrakannya memimpin KPK menetapkan orang penting menjadi tersangka, atau berani meningkatkan status kasus RS Sumber Waras yang diduga melibatkan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Tapi tentang komentarnya yang menyebut kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) korup dan jahat saat menjadi pejabat.

Entah sudah direncanakan atau hanya keceplosan saja, pernyataan Saut itu menuai reaksi dari kader dan alumni HMI yang tersebar di Indonesia. Mereka tersinggung. Marah dan tidak menerima dituding adalah kader yang korup.

Saut seolah memancing di air keruh. Membangunkan harimau yang tertidur tanpa memikirkan dampaknya. Meski boleh jadi pernyataan Saut itu didasari atas banyaknya alumni hijau hitam yang terseret di kasus korupi.

Tapi apapun alasan Saut, tidak bisa kita benarkan. Menuding secara umum kader HMI dan alumninya adalah pernyataan yang sangat menyesatkan dan keliru. Memang ada alumni yang tersangkut kasus. Tapi itu oknum. Jangan dilupakan sepak terjang kader lain yang punya konstribusi besar memajukan bangsa ini diberbagai sendi kehidupan.

Sangat wajar jika kader dan alumni menunjukkan kemarahannya. Ada yang menyikapi lewat pernyataan sikap menuntut Saut meminta maaf. Menggalang dukungan atau petisi melengserkan Saut dari jabatannya hingga menjadikannya sebagai musuh bersama.

Saut yang memang tidak pernah merasakan pengkaderan HMI, seperti terdaftar sebagai peserta basic training (LK I), mungkin tidak tahu atau sengaja pura-pura lupa jika HMI itu adalah organisasi besar dan tidak bisa dipisahkan dengan perjalanan bangsa ini.

Sekarang Saut harus menerima konsekuensi dan berani mempertanggungjawabkan ucapannya. Apalagi, pasca-mengeluarkan pernyataan, sebagian besar kader dan alumni HMI menunjukkan sikap perlawanannya yang seakan membuat Saut menjadi "Caut" (kalah).

Saut harus membuka matanya lebar-lebar. Saut mesti menempatkan kupingnya baik-baik. Memfungsikan mulutnya secara benar, dan menunjukkan sikap orang terdidik. Saut harus sadar kalau HMI itu bukan sekadar lembaga. HMI adalah nama. Tentang "SituOrang" banyak yang tersebar hingga di pelosok desa.

Nasi sudah jadi bubur. Pernyataan Saut terlanjur melukai perasaan kader dan alumni HMI. Mereka bersatu, menunjukkan kebesarannya. Terpanggil bergerak melawan siapapun pihak yang mengganggu dan marwah dan martabat organisasinya.

Sebagai salah satu alumni, penulis merasakan betul ketersinggungan kader. Menjadi topik pembicaraan, serta menjadi bahan berita di sejumlah media adalah bukti jika HMI benar-benar tentang banyak orang. 

Saut harus siap menerima perlawanan dari kader HMI. Mengingat, Senin (9/5) mendatang, PB HMI sudah mengintruksikan kepada semua pengurus cabangnya untuk melaporkan Saut secara serentak di masing-masing kantor kepolisian.

Bukan hanya itu, Saut harus rela menghadapi aksi unjuk rasa besar-besaran yang akan dilakukan kader HMI se-Indonesia, awal pekan mendatang, setelah beberapa hari ini sudah melakukan pra kondisi di sejumlah cabang, termasuk di Makassar.

Loading...

Tentang aksi unjuk rasa, banyak alumni HMI juga siap turun ke jalan. Setidaknya itu yang penulis dengar dari perbincangan di kedai kopi di Jakarta, Sabtu (7/5). Sebagian diantara alumni, bahkan sudah memproduksi baju kaos yang siap ia kenakan dengan tulisan di depan,  "Saya Alumni HMI. Saya Anti-Korupsi".

Sebagai kader, penulis berkewajiban memberi sumbang saran. Selain ikut mengutuk pernyataan Saut, HMI dan alumninya juga mesti mengontrol reaksinya. Jangan sampai, isu tersebut justru dimanfaatkan pihak tertentu, dan malah membuat masyarakat umum antipati.

Kita boleh membuat petisi, melaporkan dan menggelar aksi unjuk rasa. Tapi cara-cara yang ditunjukkan harus mencerminkan sikap yang terdidik. Bukan mengganggu ketentraman masyarakat, apalagi melakukan cara anarkis.

Bila memang benar kader dan alumni HMI adalah kader terpelajar, maka sejatinya sikap kita harus membedakan antara pernyataan individu dan lembaga. Jangan sampai, ucapan Saut justru balik menyerang lembaga KPK.

Saut memang harus kita beri pelajaran. Namun kader dan alumni wajib tetap memberi dukungan, mensupport, dan mengkritik secara konstruktif lembaga anti-korupsi itu, agar nyalinya tidak ciut ketika berhadapan dengan penguasa dan para mafia besar yang mempermainkan republik kita.

KPK secara kelembagaan punya banyak pekerjaan rumah dan tantangan besar. Dan itu harus kita support dan awasi bersama. Jangan lantas ucapan Saut, membuat mereka lemah, apalagi larut mengikuti telunjuk penguasa dan para mafia.

Sekali lagi, kita boleh tuntut Saut meminta maaf dan mempertanggungjawabkan pernyataannya. Namun lebih dari itu, HMI dan alumninya harus hadir mengingatkan KPK agar tidak tumpul ke atas.

Banyak kasus besar yang butuh perhatian bersama. Butuh keberanian dan butuh kebersamaan melawannya. Dan KPK mesti meyakinkan kita, kalau mereka tidak sedang "masuk angin".

Selamat berjuang para kader dan alumni HMI. Yakin Usaha Sampai.

Jakarta, 7 Mei 2016

Penulis: Arif Saleh
(Mantan Ketua Umum LAPMI HMI Cabang Gowa Raya)

Tags
Loading...
Loading...