Minggu, 08 Januari 2017 15:54 WITA

Peran Pendidikan dan Pengalaman

Editor: Vkar Sammana
Peran Pendidikan dan Pengalaman

Kita semua memahami bahwa orang tua dan generasi penerusnya selalu merindukan bagaimana mendapatkan hidup bahagia dan cemerlang untuk dirinya dan sesamanya. Tidak heran jika lembaga-lembaga pendidikan “Kebanjiran” para penuntut ilmu (siswa dan mahasiswa). Telah tumbuh dan berkembang berbagai lembaga pendidikan, mulai taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi negeri/swasta (PTN/PTS) di seluruh tanah air.

Setiap tahun terdapat jutaan orang muda membanjiri PTN/PTS. Telah menjadi berita rutin tentang wisuda lulusan perguruan, mulai dari TK sampai lulusan PTN/PTS. Belakangan ini di antara lulusan PTN dan PTS itu ada yang mencapai tingkat Magister (S2) dan Doktor (S3). Andai saja ada jenjang pendidikan pasca doktor, mungkin akan dikejar terus oleh para pecinta ilmu.

Dewasa ini telah terjadi gejala baru di tengah-tengah masyarakat ilmuwan, yaitu sangat besar jumlah pencari kerja atau penganggur baik dari kalangan yang kurang terdidik sampai lulusan perguruan tinggi. Kebanyakan dari para penganggur terdidik itu lulusan fakultas dari ilmu sosial bahkan dari lulusan ilmu eksakta.

Banyaknya pengangguran dari kalangan putus sekolah, lulusan SD-SMA, fakultas-fakultas sosial-keguruan, sudah menjadi berita biasa. Realita di atas merupakan salah satu faktor yang membuat orang muda kehilangan semangat dan motivasi dalam menempa diri, dengan nada sinis “Untuk apa capek-capek belajar dengan serius, pada akhirnya hanya untuk menambah kuantitas pengangguran intelektual saja".

Ungkapan hati di atas sepintas ada benarnya juga untuk saat ini, tetapi tidak selamanya akan selalu benar di masa yang akan datang. Mengapa begitu? Sebagai penganut agama yang baik, kita mesti yakin bahwa: “Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya” (Lihat QS. Huud/11:6).

Dengan jaminan Tuhan tersebut kita jangan hanya menunggu saja, namun kita harus berusaha keras bagaimana mendapatkan peluang kerja atau menciptakan ruang kerja baru untuk dirinya dan jika mungkin menciptakan kerja untuk orang lain. Dalam bagian lain Allah berfirman dalam al-Qur’an : "Allah tidak berubah nasib suatu kaum apabila mereka tidak berusaha mengubah nasibnya sendiri" (Lihat QS. Al-Ra’d/13:11).

Hal itu berarti, bahwa walaupun gelar sarjana, atau keahlian tertentu telah kita miliki, namun kita mesti berusaha mendapatkan pekerjaan yang cocok, jika belum diperoleh maka jangan jenuh apa lagi putus asa, terus berusaha dengan cara; pertama, agar sebanyak mungkin orang lain dapat mengetahui kebolehan atau keahlian yang kita miliki; kedua, membina diri agar menjadi insan yang berkualitas sehingga dapat menciptakan pekerjaan untuk diri sendiri dan jika mungkin untuk orang lain.

Dengan kata lain, kita mesti optimis, kreatif dan rajin berkomunikasi dengan siapa saja yang pada gilirannya akan dapat membantu atau membuka jalan yang pada gilirannya seseorang mendapatkan pekerjaan atau karier yang menjadi lahan memperoleh rezeki di muka bumi ini.

Belajar dari negara-negara maju seperti Amerika Serikat pada tahun 1978-1980 yang lalu sangat banyak ditumbuhkembangkan oleh Community College atau semacam Pendidikan Politeknik yang ada di Indonesia seperti yang kita kenal sekarang ini. Para lulusan Community College di Amerika Serikat pada umumnya dapat langsung bekerja ke perusahaan yang telah menjalin kerjasama dengan college tersebut.

Boleh jadi ada sejumlah lembaga mengirimkan orang-orangnya ke lembaga pendidikan/pelatihan itu. Walaupun demikian kendati telah lulus dari lembaga yang seperti di atas, tidak merupakan jaminan bahwa lulusan tersebut 100 persen siap kerja. Mereka itu masih perlu dilatih atau menyesuaikan diri lagi dalam perusahaan yang merekrutnya, mengikuti latihan khusus dalam waktu yang relatif singkat.

Persyaratan utama dalam menempa diri, terutama dalam belajar di perguruan tinggi, tidak hanya tergantung pada faktor dana dan intelektualitas saja, masih banyak faktor-faktor lain yang turut berperan.

Tidak sedikit mereka yang mempunyai dana yang melimpah ruah dan tidak didukung oleh kadar intelektualitas dan lain-lain yang baik mereka gagal dalam mencapai sukses, pada akhir studinya. Kegagalan itu terjadi karena orang-orang itu lebih banyak menggunakan waktunya untuk kegiatan di luar objek studinya atau ia terperosok pada kelompok orang-orang yang salah arah antara lain: kelompok penggemar minuman/makanan yang berbahaya seperti narkoba dan semacamnya.

Ada pula yang gagal karena terlibat dalam berbagai kejahatan yang makin merebak di mana saja. Dan memang tanpa adanya faktor intelektualitas yang memadai dapat dikatakan lebih baik tak usah belajar ke perguruan tinggi karena biaya untuk studi lanjut yang bermutu, memang cukup mahal, di samping faktor-faktor lain yang akan diulas pada giliran selanjutnya.

Dalam situasi yang serba sulit akhir-akhir ini terutama sangat lemahnya kehidupan ekonomi bangsa kita, usaha-usaha dari semua pihak sangat diharapkan. Dari pihak pemerintah, utamanya sekarang ini, tampak jelas bagaimana upaya mengatasi kesulitan ekonomi terutama pengadaan bahan-bahan keperluan pokok menjadi tumpuan utama.

Pengirim:

Andi Muhammad Asbar

Dosen STAI Al-Gazali Bulukumba

Tags