31 December 2016 15:04 WITA

Catatan Armin Mustamin Toputiri

Pesan di Penghujung Tahun

Editor: Mulyadi Abdillah
Pesan di Penghujung Tahun
Armin Mustamin Toputiri

SEJUJURNYA, saya paling tak suka menonton siaran TV yang berbau sadis. Itu sebab saya ikut menghindar untuk menonton siaran berita pembunuhan sadis yang terjadi di sebuah rumah mewah, milik Dodi Triono, yang terletak di Jalan Pulomas Utara No. 7-A Jakarta Timur. 

Sejak Selasa, 27 Desember 2016, mula terungkapnya peristiwa mengenaskan itu, pemberitaannya memenuhi siaran seluruh stasiun tivi di tanah air. Termasuk berita media online, juga cetak.

Tapi siang, di hari libur ini, entah musabab apa, ini kali saya bisa betah duduk di depan layar TV menyaksikan seutuhnya kronologi perbuatan sadis yang dilakukan sekawanan perampok di rumah pebisnis properti itu. 

Bulu kuduk saya merinding. Bagaimana tidak, perampok yang tak berprikemanusiaan itu, menyekap 11 orang selama sehari semalam dalam sebuah kamar mandi yang sangat sempit. Berada di bawah tangga pula. Hanya seukuran 150 x 150 cm saja. 

Bisa dibayangkan bagaimana nasib, sesaknya 11 orang yang disekap itu. Terlebih lagi, desain kamar mandi itu, tanpa ventilasi. Pantas saja, jika esok hari ketika ditemukan, 11 orang yang disekap itu, sudah saling tumpuk satu diantara yang lain. Ada 5 orang yang sudah meninggal dunia akibat kehabisan oksigen, seorang lagi menghembuskan nafas terakhir saat perjalanan ke rumah sakit. Dan syukurlah, sebab diantara 11 orang itu, ditemukan 5 orang masih hidup.

Sang pemilik rumah, Dodi Triono, serta dua putrinya, juga seorang teman dari putrinya, dan seorang sopirnya, ditemukan telah meninggal dunia saat masih berada dalam kamar mandi. Seorang lagi sopirnya, meninggal dunia saat perjalanan ke rumah sakit. Masih ada seorang lagi putrinya, serta ada empat orang pembantu rumah tangganya, ditemukan masih hidup. Artinya, siapapun yang berada di rumah saat perampokan terjadi, seluruhnya ikut disekap.

Menyaksikan siaran perbuatan sadisme itu, mata saya tetap tertuju ke layar TV, tapi benak saya menerka, bahwa dalam takaran diri saya sendiri, almarhum Dodi Triono, bukan sekadar kaya, tapi kaya raya. 

Benak saya menerka seperti itu, sebab diantara yang meninggal dunia, ada dua orang sopirnya, lalu ada empat orang pembantu rumah tangganya masih hidup. Itu artinya, ia memiliki mobil lebih dari satu, rumahnya luas karena dirawat oleh empat orang. 

Namun sungguh sangatlah paradoks. Kita ikut merasakan duka cita yang mendalam, ternyata Allah SWT, menentukan lain nasib dirinya. Ia menghembuskan nafasnya yang terakhir justru di atas tumpukan harta yang ia raih dengan jerih payah. 

Bahkan, berakhir di sebuah ruangan kecil. Kamar mandi di bawah tangga, ukuran 150 x 150 cm saja. Padahal rumahnya sangatlah luas. Malah meninggal dunia di atas tumpukan empat pembantu rumahnya yang selamat.
 
Seperti itulah kenyataan sudah terjadi. Benak saya makin sesak. Tanpa terasa, air mata saya menetes. Apalagi setelah tahu, jika yang menyekap mereka, tak lain adalah orang yang justru berkehendak merampok hartanya. 

Naudzubillahi min salik. Tuhanku, jauhkanlah hambamu ini dari nasib seperti itu. Saya akhirnya tersadar, bahwa di penghujung tahun 2016 ini, Sang Maha Kuasa ingin menyampaikan pesan-Nya lewat kisah tragis di sebuah rumah mewah itu.

Makassar, 31 Desember 2016

Penulis: Armin Mustamin Toputiri