Jumat, 30 Desember 2016 16:54 WITA

Gerakan Salat Subuh dan Nawaitu Pemkab Lutra

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Gerakan Salat Subuh dan Nawaitu Pemkab Lutra

"Salat Subuh Sebagai Cermin Melawan Kemalasan".

PONSEL saya berdering. Layarnya menunjukkan pukul 04.45 subuh. Seketika itu, mata saya langsung terjaga. Semenit sejenak, badan saya luruskan. Berusaha melawan kantuk yang masih mendera. Bismillah, saya melangkah menuju kamar mandi. Mengambil air wudhu, setelah sebelumnya membaca doa. Alias nawaitu....

Usai dua rakaat, saya bersimpuh sejenak. Menengadahkan tangan ke atas, meminta banyak kepada-Nya. Subuh itu, saya sedang berada di luar Masamba, Luwu Utara. Sedang ada urusan di Ibu Kota. Tugas sebagai kepala daerah, kerap membuat saya berpindah-pindah. Dari satu kota ke kota lainnya.      

Pikiran saya menerawang. Sadar sedang di penghujung tahun 2016. Ada kebiasaan di setiap momen pergantian tahun. Kebiasaan itu adalah menyampaikan harapan-harapan. Saya berharap sesuatu yang akan datang, lebih baik daripada yang di belakang. Terutama untuk ribuan warga yang ada di Lutra.  

Berharap untuk sesuatu yang lebih baik, itu pasti. Dari sekian banyak harapan untuk lebih baik, hanya satu cara menggapainya. Kita harus lebih rajin. Saya, kita, kamu dan mereka. Lawan kemalasan. Tingkatkan kerajinan. Di 2017 nanti, jangan lagi ada pekerjaan hari kemarin dituntaskan esok. Pekerjaan esok, dituntaskan lusa. Kalau masih seperti itu bagaimana cara kita maju?

Soal melawan kemalasan, ada banyak caranya. Saya, kita, kamu dan mereka, pasti punya cara berbeda-beda. Sebagai sosok yang memeluk agama Islam, saya punya caranya. Cara yang disunnahkan Nabi Muhammad SAW, sang penuntun menuju jalan kebenaran. Resep Nabi Muhammad melawan kemalasan, adalah dengan menunaikan salat subuh. Tepat waktu tentunya. 

Apa korelasinya? Jelas ada. Orang malas, tentu tak rela meluangkan bangun sesaat di waktu subuh. Bayangkan ketika hari masih gelap, kadang dingin, kita harus meninggalkan empuknya kasur dan hangatnya selimut. Hanya orang-orang pilihan yang sanggup. Meratakan kepala dengan tanah untuk menyembah. Benar kan?  

Lebih hebat lagi ketika salat subuh itu dilaksanakan di mesjid-mesjid secara berjamaah. Ironinya, justru ini yang  masih terjadi. Berapa banyak yang rumahnya dekat masjid, bahkan tinggal melangkah, ketika subuh pun berat menyambut panggilan Allah. 

Salat subuh berjamaah adalah indikator kesadaran. Sadar akan kebaikan dan sadar akan persatuan. Beranjak dari kedahsyatan salat subuh inilah, Pemerintah Kabupaten Luwu Utara, punya rencana. Menggelar salat subuh berjamaah. Tepat di momen jelang pergantian tahun, Sabtu 31 Desember, subuh. 

Rencana ini melewati jejak perjalanan yang cukup jauh. Saya meniru seorang pemimpin karismatik, Racip Teyyep Erdogan. Presiden Turki itu mengkampanyekan salat subuh berjamaah, sebagai alat pemersatu. Demikian pula dengan saya, Indah Putri Indriani.  

Harapan saya, salat subuh ini menjadi sebuah energi baru. Energi untuk maju. Energi untuk bersatu. Energi untuk menjadi kabupaten nomor satu. Masyarakat khususnya di Lutra, kami minta partisipasimu!. Wassalam... 

Hormat saya, Indah Putri Indriani