25 December 2016 07:42 WITA

Kaum Muda sebagai Investasi

Editor: Andi Chaerul Fadli
Kaum Muda sebagai Investasi

Tengah malam kemarin menjelang larut, saya menerima kiriman ulasan melalui media sosial WhatshApp dari Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo. Padahal, saat yang sama, setahu saya beliau sedang perjalanan kunjungan kerja ke sejumlah negara di kawasan benua Eropa. Saya tidak tahu persisnya entah ia sedang berada di negara mana saat mengirim ulasan itu. Sebab itu saya pun tak tahu, entah jam berapakah di belahan dunia sana, saat ia mengirim ulasan.

Sebagai mitra kerja, antara dia di lembaga eksekutif, dan saya di lembaga legislatif di tingkat provinsi, saya hanya tahu jika ia tengah berkunjung ke negeri sang tokoh legendaris Perang Dunia II, Adolf Hitler. Sekaligus tanah lahir sang arsitektur sepakbola legendaris, Franz Anton Beckenbauer yang beribukota Berlin itu. Entah apa maksud kunjungan kerja beliau ke negeri nun jauh dibenua  Eropa sana, saya pun tak tahu. Tapi pasti untuk kepentingan rakyat Sulsel.

Kepentingan itu, sekurang-kurangnya seperti muatan isi ulasan yang ia kirimkan ke halaman Whatshapp saya. Bahwa di Jerman, bahkan sebagian negara di Eropa, pemerintahnya lebih berkonsentrasi untuk menjaminkan kesejahteraan keluarga rakyatnya. Sumber penjaminan itu diperoleh dari nilai pajak yang tinggi. Jika warga negaranya, dikenai pajak rendah sekitar 19 persen saja, sementara khusus pekerja imigran, nilainya cukup tinggi. Sekitar 42 persen.

Pengenaan nilai pajak 42 persen bagi pekerja imigran Jerman itu, nyaris mencapai setengah dari upah kerja yang diterima. Alangkah jauh berbeda nilainya disbanding pekerja imigran di Indonesia yang dikenakan hanya sekitar 3 persen saja. Sekilas, tentu saja tak adil. Tapi paling mengesankan atas pengenaan nilai pajak tinggi itu, ternyata diivestasikan untuk pembinaan generasi muda di negara mereka. Artinya, mereka melakukan investasi yang jangka panjang. 

Sebab itu, kita jangan heran dan juga cemburu, jika anak-anak muda di Jerman, serta sekian negara di Eropa, diberi uang sekitar dua hingga tiga juta rupiah perbulan, guna melanjutkan sekolah hingga usia 18 tahun. Selebihnya, dimanfaatkan guna merealisasikan program yang berorientasi kepada penguatan eksistensi kaum muda mereka agar lebih bermartabat, serta memiliki mental dan nasionalisme yang tinggi untuk menjaga kedaulatan negara mereka. 

Membaca ulasan yang dikirim Gubernur Sulsel ke halaman media sosial saya itu, tiada henti saya menggaruk-garuk kepala. Musababnya, perspektif seperti itu telah sekian lama melekat dalam benak saya. Tak semata karena saat ini saya sedang mengemban amanah di lembaga legislatif, tetapi jauh sebelumnya saat saya masih bergelut di sekian organisasi kepemudaan. Bahkan, sepekan lalupada  saat Musda KNPI Sulsel berlangsung, kembali saya teriakkan.

Tak sekadar teriak, tapi di beberapa tahun lalu saya pun pernah menulis buku “Menyiapkan Generasi Baru, Investasi Jangka Panjang Pembangunan Sulsel”. Tak lain karena saya sungguh menghayati kandungan makna adagium “Pemuda adalah Pewaris Masa Depan”. Bahwa soal mengurusi anak muda hari ini, bukan untuk hari ini, tapi untuk masa depan bangsa. Tapi kita tetap saja abai. Makanya, jangan marah jika kelak bangsa Eropa kembali menjajah negeri ini.

Palopo, 25 Desember 2016

Oleh Armin Mustamin Toputiri

Tags
Opini