24 December 2016 17:06 WITA

OPINI

Membaca Pesan SYL: "Saya Ingin Berbuat, Bukan Kejar Jabatan"

Editor: Sulaiman Abdul Karim
Membaca Pesan SYL:
Syahrul Yasin Limpo (dok)

SALAH satu media online, memuat pernyataan seorang ketua partai. Ia mewacanakan paket Hutomo Mandala Putra (Tommy Soeharto) dan Syahrul Yasin Limpo (SYL) di Pilpres 2019. Pernyataan itu, di mata penulis, tidak memiliki basis faktual. 

Sosok SYL bukanlah gambaran yang terwakili secara otentik. Karena substasinya maupun faktualnya, SYL justru saat ini lebih menjaga jarak dengan ranah politik, termasuk partai politik.

Apalagi kontestasi kandidat politik. Jika membaca latar pikiran dan sikap SYL saat ini, dimana terkait berita seperti dimuat media online tersebut, tidaklah berkorelasi dengan "suasana batin" SYL. Apalagi dengan orientasi sikap kepemimpian SYL yang matang.

Membaca SYL saat ini, ada perihal yang mungkin tak dicermati publik kebanyakan. Dalam berbagai pernyataan di media, SYL menyatakan: "Saya sekarang ingin fokus dalam menyelesaikan tugas. Terutama dalam periode kedua saya sebagai gubernur. Soal politik biarlah berjalan sendiri, politik banyak yang (meng) urus".

Pernyataan tersebut, dari segi teks dan konteks tak pelak menguntaikan pesan nurani seorang SYL. Sang Komandan ingin konsen untuk amanah yang diemban. Tentu dalam posisi pemerintahan pilihan rakyat Sulawesi Selatan. 

Tiada hari tanpa aktivitas dan ajakan untuk semua pihak. SYL ingin memperbaiki bangsa. Lebih daripada kepentingan sempit individualitas maupun kelompok. 

Tiada henti SYL mengajak publik untuk tidak hanya memahami. Namun juga membantu terlibat bersama menggapai amanah, membangun Indonesia, mulai dari Sulawesi Selatan

Pun ketika merespons soal politik, SYL menjawab "Saat ini saya tetap happy". 

Harus diakui, kini tak ada beban yang menggelayut SYL untuk kepentingan politik. Ada semacam katarsis yang mungkin sekaligus dilakukannya. Meski partai beringin tempat karier politiknya berjalan panjang masih mengharapkannya. Juga setelah tak lagi menjadi nakhoda di beringin rimbun, sejumlah partai datang menggoda.  

Tapi SYL  tetap berkomitmen. Sebagaimana berbagai upaya selama ini telah dijalankan dengan ikhlas dan amanah, membaktikan diri dalam ranah politik.

Dalam filosofi seorang pemimpin yang ideal, jabatan bukan tujuan. Jabatan hanya titipan. Seorang pemimpin sejati adalah berbuat bukan untuk mengejar kepentingan sempit pada jabatan atau memburu secara artifisilal suatu penghargaan. 

Sebagaimana seorang mantan Presiden AS Richard Nixon mengatakan: "Pemimpin yang baik seharusnya berbuat pun bukan karena ingin dikenang. Tapi, untuk memberikan makna pada rakyat yang memberinya amanah".

Setiap orang seharusnya percaya dengan harapan ke depan yang terbaik. Semua ingin mengalir. Membaca SYL setelah tidak lagi dalam ranah kepemimpinan partai politik, adalah keinginan untuk konsen pada tanggungjawab pemerintahan. 

Meskipun masalah kepartaian merupakan hal yang tentu saja penting. Tapi, tidak kurang nilai dan maknanya secara bermartabat, adalah tanggung jawab selaku gubernur yang juga butuh fokus.

Adakah publik memahami pesan SYL, setelah melepas dengan ranah politik saat ini? Mungkin tak banyak yang memahami. Khususnya terhadap kalangan pamong atau aparat birokrasi, sepatutnya menjaga "nurani pemerintahan" yang bersemi pada sosok SYL lebih dari karier politiknya. 

Secara publik, politik biarlah mengalir sendiri. Tapi pemerintahan harus tetap berjalan secara konsen bersama aparatnya. Membaca SYL dalam langkahnya, dalam periode kedua pemerintahannya selaku kepala daerah, membersitkan harapan agar seluruh aparat pemerintahan secara berjajar dan berjenjang bekerja untuk Sulsel lebih baik. 

Tidak terjerembab dinamika politik, apalagi ikut bermain api. Fokus untuk mewujudkan amanah yang diemban, bekerja untuk rakyat, bangsa dan negara.

(Penulis: Sutrisno Zulkifli)