05 December 2016 16:10 WITA

Penangkapan 11 Aktivis Terduga Makar, Ini Penjelasan Kapolri

Editor: Vkar Sammana
Penangkapan 11 Aktivis Terduga Makar, Ini Penjelasan Kapolri

RAKYATKU.COM - 11 orang aktivis terduga makar alias penggulingan terhadap pemerintahan yang sah ditangkap aparat kepolisian menjelang pelaksanaan aksi damai, Jumat (2/12/2016). Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian penangkapan tersebut dilakukan sesuai strategi yang dilakukan jajarannya.

Hal itu dikatakan Tito dalam rapat kerja dengan Komisi III DPR, di kompleks DPR RI, Senin (5/12/2016). “Kenapa pas hari itu, saat dini hari kita tangkap? Kalau kami tangkap sehari sebelumnya, akan dipelintir media sosial,” kata Tito.

“Kalau penangkapan dilakukan sehari sebelumnya, nanti disebut upaya penggembosan. Ini sangat rawan kalau seperti ini. Jadi kami putuskan menangkap pada hari aksi 212. Kita tangkap subuh. Jadi tidak ada waktu menggoreng hal itu,” sambung Tito.

Selain itu, kepolisian menganggap penangkapan ini upaya menjaga agenda suci para peserta aksi 212. Supaya tidak disusupi kehendak politik tertentu.

“Pengangkapan ini juga, kita tidak ingin agenda suci yang disepakati untuk ibadah betul-betul dan tujuannya satu penahanan kepada Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, jadi karena itu mereka beribadah,” tagas Tito.

Diberitakan, 11 aktivis yang ditangkap pihak kepolisian pada Jumat (2/12/2016) kemarin. Masing-masing terjerat dugaan kasus berbeda, mulai dari penghinaan terhadap simbol negara, ujaran kebencian hingga tindak pidana pemufakatan makar.

Usai penangkapan, mereka langsung ditetapkan sebagai tersangka oleh kepolisian pada hari yang sama. Delapan orang terjerat kasus dugaan makar yakni, Rachmawati Soekarnoputri, Kivlan Zein, Eko, Adityawarman, Firza Husein, Ratna Sarumpaet, Sri Bintang Pamungkas, dan Alvin Indra.

Sedangkan dua orang ditangkap atas dugaan kasus hate speech, Jamran dan Rizal Kobar. Dan yang terjerat dugaan kasus penodaan atas simbol negara adalah Ahmad Dhani.