02 December 2016 19:14 WITA

Curhat Legislator Makassar Terbuai Rayuan Sales

Editor: Jumardin Akas
Curhat Legislator Makassar Terbuai Rayuan Sales
Fasruddin Rusli

RAKYATKU.COM, MAKASSAR - Fasruddin Rusli mencak-mencak. Anggota DPRD Makassar ini menumpahkan kekesalan di ruang Banggar DPRD, Jalan AP Pettarani, Jumat (2/12/2016).

Ceritanya panjang. Berawal saat ia bertemu seorang sales perumahan. Tepat, ketika ia akan membeli mobil saat pameran di sebuah pusat perbelanjaan, lima tahun silam.

Rayuan sales sukses membelokkan niat politisi PPP ini. Ia bulat ingin membeli hunian di Anging Mammiri Recidence, Jl Hertasning Baru, Kota Makassar. Rencana memiliki mobil ditundanya.

Harga Rp700 juta tak jadi soal. Meski Acil, sapaan akrab Fahruddin mesti menyicil Rp7,8 juta per bulan hingga saat ini.

Namun, justru rayuan itulah yang paling disesali Acil saat ini. Kolam renang, pusat keolahragaan dan sederet fasilitas yang dulu memikatnya, tak kunjung dibangun.

Bahkan, masjid yang sedianya wajib diadakan developer pun tak nampak. Warga lah yang harus urun-urunan membangun tempat ibadah.

"Saya beli bagian depan pak, walau mahal. Tapi sekarang, luar biasa sakit hati saya pak," sesal Acil, berkisah.

Tak adanya kejelasan dari developer membuat Kerukukunan Keluarga Anging Mammiri Residence menyeret persoalan ini ke DPRD Makassar. Para penghuni perumahan elite dipertemukan dengan developer pada Jumat (2/12/2016) sore.

Beberapa anggota DPRD Kota Makassar dari Komisi A dan Komisi C ikut hadir. Pertemuan ini dimaksdukan untuk mengurai persoalan. Begitu juga janji yang tak kunjung dipenuhi developer.

Direktur Pengembangan Anging Mammiri Residence, Ronny E Mongkar tak menampik kondisi itu. Pihaknya memang tak lagi mengikuti site plan awal yang dijanjikan kepada konsumen. 

Alasannya, pihak perumahan sedang dalam masa pengembangan. Dari rencana awal hanya 100 hingga 150 rumah, kini membengkak jadi 400 unit.

Ekspansi unit jadi dalih belum juga dibangunnya fasilitas umum (fasom) dan fasilitas sosial (fasos). "Dalam pengembangan tentu kami melakukan perubahan site plan atau pemindahan fasum dan fasos sesuai kebutuhan. Jadi belum dibangun," kilahnya.

Tak semua keluhan warga perumahan disebutnya karena kesalahan developer. Pemkot Makassar dimintanya juga harus bertanggung jawab dalam masalah ini. Lampu jalan dan air bersih yang tidak lancar, kata Ronny, adalah wilayah kerja pemkot.

Namun, penjelasan itu tak membuat Acil puas. Ia pun menimpali. Menurutnya, pihak perumahan minimal memprioritaskan masjid. "Menangis hati saya melihat bapak. Sebagai seorang muslim, mestinya bapak terpanggil hatinya," kata Acil.

Politis PPP ini mengaku akhirnya meninggalkan perumahan tersebut. "Saya tinggalkan perumahan di sana pak karena hati saya tidak senang. Saya kembalikan anak-anak saya ke rumah lama," curhatnya.

Persoalan tersebut kini bergulir dan mendapat perhatian dewan. Pihak perumahan dinilai telah merugikan konsumen lantaran tak memenuhi janji saat promosi penjualan.

Berita Terkait