Rabu, 04 Mei 2016 08:01 WITA

Kolom

Orang Kecil yang Besar

Editor: Mulyadi Abdillah
Orang Kecil yang Besar

Oleh: Muhammad Radjab
Legislator NasDem Sulsel

“SEPERTINYA sudah sulit menemukan orang seperti Anda. Jujur dalam menyampaikan sesuatu,”. Demikian kata seorang sopir taksi kepada temanku. 

Persoalannya sederhana saja. Ketika di dalam taksi, seorang menelpon pada temanku bahwa saat ini dia lagi sedang berada dimana. 

Lalu temanku menjawab, dia lagi sedang perjalanan menuju ke terminal, tepatnya dia sedang berada di depan Makassar Town Square. 

Namun lain bagi si sopir taksi itu. Dia sangat jarang menemukan orang demikian. Berbagai macam jenis manusia dan tipenya yang telah diantar dengan jasa taksinya, tapi seringkali soal tempat masih juga harus disampaikan dengan cara tidak jujur. 

Sopir taksi itu bercerita, pernah suatu waktu dia mengantar seorang penumpang menuju ke suatu tempat yang mungkin dia telah janjikan dengan seseorang. Lalu temannya itu bertanya, sekarang kamu sudah dimana? Jawabannya sangat berbeda dengan kenyataan dimana dia sedang berada. 

“Tunggu sebentar sudah dekat, ini sudah di Jalan Pettarani,” cerita sopir taksi yang paruh baya itu kepada temanku soal pengalamannya dengan penumpang lain. Walaupun saat itu tidak sedang berada di tempat itu. 
Seringkali saya menemukan seperti itu, dan bapak malam ini kedengarannya luar biasa karena menyampaikannya secara jujur, kata sopir itu dengan sedikit memuji. 

Jujur itu objektifikasi kita pada kenyataan. Jika kita sedang berjalan, lalu kita mengatakan bahwa saya sedang berjalan, maka itu menjadi objektifikasi kita pada kenyataan diri. objektifikasi itu dilakukan dari hal-hal tekhnis hingga pada hal-hal yang lebih tinggi dan rumit dalam kehidupan manusia. 

Misalnya, perilaku dan perbuatan kita. Apa yang menjadi kebiasaan kita akan menjadi karakter pada diri. Menyatakan soal tempat memang merupakan hal yang sepele, namun jika diulang berkali-kali maka akan menjadi karakter diri, sampai ketika kita menghadapi perkara yang lebih besar, dan karakter itu akan terbawa. 

Temanku melanjutkan ceritanya: Malam itu, taksi melaju menuju terminal antar kota. Dia mengantar saya ketika waktu itu jalanan lagi dilanda macet yang berkepanjangan. Sementara, waktu terhitung 30 menit dari sekarang saya sudah harus sampai di perwakilan bus antar kota. 

Saya memintanya untuk sedikit lebih tangkas melihat celah agar bisa keluar dari macet di jalan. Dia mengemudikan mobilnya dengan tenang dan saya sampai di terminal. Walaupun terlambat 20 menit tapi mobil masih menunggu hingga saya tiba di tempat. 

Dua jam perjalanan di dalam bus, saya baru sadar bahwa sebuah tas yang berisi dokumen penting tertinggal di taksi itu, cerita temanku. Saya gelisah, keringat tiba-tiba bengalir deras dari kepala dan badan. Saya tidak tahu harus berbuat apa. 

Saat itu bus lagi sedang berjalan melintas di malam dengan cahaya lampu, saya hanya bisa bersandar lalu melihat ke kanan dan ke kiri. Penumpang sudah tidur dengan tenang dan pulas. Aku gelisah, kalut dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ku tenangkan diriku, lalu kupasrahkan apapun yang akan terjadi atas barang-barang berharga itu. Bus melaju dengan kecepatan yang tinggi, tanpa harus memperdulikan perasaanku saat ini. Ceritanya padaku.  

Di atas bus itu, dia menghubungi aku dengan masalah yang sedang ia hadapi. Dia menyampaikan nama taksi yang ia tumpangi, nomer plat mobil dan nama sopirnya tidak diketahui. Malam itu juga, aku menghubungi kantor taksinya, melaporkan kejadian itu, lalu menitipkan nomor HPku padanya. Aku lalu meninggalkan kantor taksi itu. 

Keesokan harinya, sebuah nomor baru menelpon aku, menyampaikan bahwa tas yang tertinggal di salah satu taksi milik perusahaannya telah dilaporkan dan dibawa oleh sopir taksi ke kantor. Dan aku diminta untuk segera mengambil barang itu. Aku bergegas menuju ke kantor taksi itu mengurus administrasinya, lalu mengambil barang itu. 

“Untung saya diantar sama sopir taksi yang jujur itu” kata temanku dengan nada yang sedikit lega karena selamatlah barang-barang berharga miliknya. 

Kata Imam Ali : barang siapa yang dalam urusannya, berada pada posisi tidak memikirkan akibatnya, maka ia telah menghadapkan dirinya pada musibah yang besar. 

Tags