Minggu, 20 November 2016 01:00 WITA

Personel Brimob Wajib Hafal Asmaul Husna

Editor: Vkar Sammana
Personel Brimob Wajib Hafal Asmaul Husna

BRIMOB!!!.. sebuah sebutan satuan polisi yang identik dengan kekuatan pemukul, kekuatan yang menonjolkan atau mengkedepankan kemampuan fisik,  sangar, kasar, dan hal-hal lain yang bersifat mendekati kekerasan dan pemaksaan.  Persepsi tersebut tidak sepenuhnya salah, karena keberadaan satuan Brimob sejatinya difungsikan sebagai kekuatan bantuan taktis kepolisian dalam menghadapi persoalan pengamanan fisik, kerusuhan, konflik sosial, dan konflik bersenjata.

Apalagi mengingat, cikal bakal kelahiran Brimob apabila ditelisir dari sejarah panjang kelahiran kepolisian di Indonesia, berakar dari Pasukan Polisi Istimewa yang peran dan tugasnya sudah bersentuhan dengan masalah-masalah yang dekat dengan kekerasan, menggunakan senjata dan pengamanan fisik.

Polisi Istimewa terlibat langsung dalam baku tembak perjuangan mempertahankan kemerdekaan, baik pada masa akhir pendudukan Jepang maupun pada masa upaya kolonialisasi kembali Belanda yang membonceng NICA, sebagai kekuatan yang awalnya bertujuan melucuti senjata tentara Jepang di Indonesia, yang menyerah kalah kepada Sekutu pasca pengeboman Hirosima dan Nagasaki oleh Amerika Serikat.  Polisi istimewa juga dilibatkan langsung dalam semua konflik bersenjata di seluruh Indonesia yang merongrong kewibawaan NKRI.

Runtutan sejarah perjalanan Brimob, dikuatkan dengan eksistensi Brimob dalam menjalankan fungsi kepolisian hingga kini, semakin menegaskan wajah Brimob di mata internal Kepolisian, maupun menurut persepsi masyarakat.  Namun yang tidak disadari adalah Brimob bagian dari Polri tentu saja turut mengalami pergeseran paradigma seiring sejalan dengan bergesernya paradigma perpolisian di Indonesia.

Polri pasca reformasi telah merubah wajahnya menjadi polisi sipil, yang konsekuensinya kultur, struktur dan instrumentasinya mengalami pergeseran, termasuk pendekatan-pendekatan fungsi kepolisian yang mengkedepankan fungsi preemptif dan preventif dibanding represif sebagai muara akhir penyelesaian masalah harkamtibmas.

Polri lebih mengkedepankan tampilan yang humanis, proaktif dan responsif.  Tuntutan dan realitas pergeseran paradigma dan perilaku inilah yang sedikit banyak mempengaruhi bagaimana Brimob melakukan pendekatan dalam menjalankan segala fungsi dan tugasnya sejalan dengan semangat baru, perubahan midset dan reformasi birokrasi Polri.

Khusus bagi Satuan Brimob Polda Jabar, pendekatan perpolisian yang baru tersebut, salah satunya diterjemahkan dengan membangun olah rasa personel Brimob yang sejalan dengan suasana kebatinan masyarakatnya.  Masyarakat Jabar yang dikenal religius dan dekat dengan nilai-nilai agama, harus seiring sejalan dengan satuan pengamanan yang memiliki keyakinan dan kedalaman religiusitas yang sama, sehingga terjadi kohesivitas yang tinggi dan kokoh antara satuan Brimob dengan masyarakatnya.

Salah satu ide gagasan penting dan brilian dalam mewujudkan  konteks ini adalah membentuk pasukan Asmaul Husna, yang pada hakikatnya bertujuan membentuk satuan Brimob yang mampu menyelami dan menyatu dengan ide religiusitas masyarakat dimana Brimob bertugas.

Masyarakat religius Jawa Barat yang meyakini bahwa Asmaul Husna adalah nama-nama mulia Tuhan, dimana melalui asma-asma tersebut diyakini segala doa akan dikabulkan, pertolongan Tuhan diharapkan akan datang, pengamalnya dijanjikan masuk surga dan yang terpenting adalah asma-asma tersebut mengandung nilai filosofis yang tinggi tentang nilai-nilai keutamaan ketuhanan.  Barang siapa memahami makna filosofi ini, maka sesungguhnya segala kemuliaan sikap, sifat dan perilaku akan menyatu dengan dirinya. Ar-Rahman, yang bermakna Dzat yang Maha Pengasih, tentu saja diharapkan pengamalnya akan memiliki sifat pengasih, yang mengasihi sesama dan segala sesuatu yang berinteraksi dengannya. Demikian juga terhadap 98 Asmaul Husna lainnya.

Secara internal, khususnya di satuan Brimob Polda Jabar, kultur melafadzkan Asmaul Husna sudah menjadi bagian inhern dari setiap personel Brimob.  Brimob TMZ Asmaul Husna membangun kebiasaan sehari-hari, dalam setiap Tausiah, makna dan hakikat Asmaul Husna senantiasa dijabarkan, dalam setiap Munajat kepada Allah baik dalam kesempitan maupun kelapangan, Asmaul Husna sebagai bagian penting yang tidak pernah terlupakan, demikian juga pada saat Zikir kapan pun termasuk setelah sholat, Asmaul Husna senantiasa dilantunkan menusuk kalbu dan memberikan ketenangan hati.

Amalan Asmaul Husna juga dilantunkan menjelang subuh oleh para taruna Akpol yang muslim.  Singkatnya, Asmaul Husna sudah lama menjadi bagian terpenting dalam membangun religiusitas dan mental personel Polri dalam pembinaan di lembaga pendidikan maupun pada masa kedinasan. Realitas inilah tampaknya yang sampai saat ini masih relevan dan seiring sejalan dengan visi revolusi mental Presiden Joko Widodo.

Harapan hadirnya kepolisian yang humanis, menjunjung tinggi HAM dan demokratis tampaknya tidak bertepuk sebelah tangan.  Semua khalayak  menyaksikan sendiri melalui media atau bahkan sebagian menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana pasukan Brimob Asmaul Husna mampu mengendalikan gelombang unjuk rasa yang pesertanya di luar perkiraan dan bahkan dapat dikatakan dengan massa sangat besar. Kendatipun keberadaannya perlu dioptimalkan lagi secara lebih aktif ditempatkan di kantong-kantong demonstasi.

Ke depan, ide dan gagasan kreatif seperti pembentukan pasukan Brimob Asmaul Husna dapat dijadikan role model untuk memunculkan ide-ide kreatif lainnya yang bersesuaian dengan keragaman dan kearifan lokal, seperti misalnya pembentukan Brimob Kebaktian di kantung-kantung wilayah masyarakat nasrani, atau Brimob pecalang yang serupa dengan satuan keamanan tradisional yang disebut pecalang di Bali.  Sehingga, motto Brimob “Jiwa ragaku demi Kemanusian” harus disandarkan dengan prinsip-prinsip ketuhanan yang memuliakan kehidupan manusia dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian.

Dirgahayu Korps Brimob yang ke-71 tanggal 14 Nopember 2016, semoga di usia yang semakin matang ini, Brimob senantiasa menjadi kebanggaan masyarakat, bangsa dan Negara, tetap setia kepada Negara dan pimpinannya, serta berkomitmen menjaga stabilitas kamtibmas dan keutuhan NKRI.

Penulis:

Brigjen Pol Dr. Bambang Usadi MM

Penggagas Brimob Dzikir Asmaul Husna

Tags