Sabtu, 30 April 2016 07:05 WITA

Opini

Sweet Seventeen Luwu Utara

Editor: Andi Chaerul Fadli
Sweet Seventeen Luwu Utara
Muhammad Rajab

Manusialah yang memberi batasan atas segala sesuatu. Dikarenakan potensinya, manusia mampu memberi nama-nama atas segala sesuatu sesuai dengan kehendak dan kesepakatannya. Ini “ruang” dan ini “waktu” adalah satu bentuk batasan yang diberikan. Ini juga sudah menjadi fitrah, karena setiap manusia akan bertanya tentang segala sesuatu dari segi keAPAannya. Soal kemarin, hari ini dan esok, ini ukuran waktu relatif. Mengapa relatif? Karena sangat tergantung pada saat mana kita memandangnya.

Tetapi karena keterbatan manusia dengan ruang dan waktu itu, sehingga menjadi paten bahwa yang telah dilalui itu adalah kemarin karena selalu dihubungkan dengan keadaan dia hari ini. padahal kemari itu juga adalah hari ini saat kita melihatnya kemarin. Dan hari ini menjadi kemarin ketika kita melihatnya esok. Begitu dan seterusnya. Tapi, itulah manusia yang seringkali membuat batasan dan tidak jarang hanya berhenti dibatasan yang dibuatnya sendiri tanpa berusaha menerobos sesuatu yang lebih besar dibalik batasan itu.

“Hari ini Kabupaten Luwu Utara telah menginjakkan usianya yang ke tujuhbelas. Dalam ukuran usia manusia ada istilah sweetseventeen. Ini menunjukkan bahwa Luwu Utara dalam usianya yang demikian harus lebih mampu menunjukkan kemajuannya yang lebih berarti. Dan usia tujuhbelas ini bertepatan dengan Bupati perempuan pertama di Sulawesi Selatan, Indah Putri Indriani,” kata Pak Gubernur SYL dalam sambutannya dihadapan ribuan peserta upacara peringatan.

Momentum HUT Luwu Utara yang ketujuh belas ini menjadi yang pertama bagi Bupati perempuan pertama di Sulsel ini dalam mengemban amanah sebagai Bupati. Banyak hal yang berbeda dari peringatan tahun-tahun sebelumnya. Kemeriahan dan partisipasi masyarakat yang begitu antusias dalam menyambut ulang tahun kabupatennya begitu semarak. Berbagai kegiatan lomba diadakan, kegiatan seni dipertunjukkan bahkan turut meramaikan kedatangan artis ibu kota yang membuat kemeriahan menjadi begitu tinggi.

Pada puncak peringatan HUT Luwu Utara pada 27 april 2016, dalam konteks Sulawesi Selatan kelihatan begitu lengkap. Setidaknya puncak kegiatan tersebut dihadiri oleh Gubernur Sulsel tanpa mewakilkannya pada yang lain, Ketua DPRD Sulsel, dan tak lupa yang menjadi sorotan adalah mantan Bupati Luwu Utara Bapak H. Arifin Junaedi. Kehadiran beliau menambah kesempurnaan puncak acara tersebut. Sebagai mantan Bupati, apalagi memiliki histori politik yang dalam rekaan sebagaian orang sebagai yang dikalahkan, tidak mudah secara kejiwaan untuk menghadiri hal itu. Dari sisi ini saya angkat dua tangan dan memberi hormat kepada beliau yang telah menunjukkan kamatangan dan kebijaksanaan dalam berkompetisi dan bersosialisasi dalam kehidupan masyarakat. Hormat saya pada beliau. Dalam posisi sebagai beliau tidak mudah untuk bisa menghadiri itu.

Pada kesempatan itu juga, Ibu Indah sebagai Bupati Luwu Utara, melontarkan beberapa kalimat yang bisa menyejukkan. Ketika beliau menyatakan penghormatan, beliau juga menyebut nama Bapak Arifin Junaedi sekaligus menambahkan ungkapan rasa terima kasih pada beliau yang turut hadir di acara itu, lalu disambut dengan aplaus yang meriah dari hadirin. Sebuah kedewasaan dan kematangan dalam bermasyarakat ditunjukkan oleh keduanya. Matang karena tidak membawa dendam dalam berkompetisi dan berbeda dalam pilihan politiknya. Ini sangat positif dalam memandu dan menuntun masyarakat yang terpimpin. Sangat berbeda dengan sikap beberap petinggi yang terkadang lebih mengedapkan aspek-aspek emosional dalam berbeda ketimbang kebijaksanaan.

Bahkan, di awal sambutannya, Ibu indah memulai dengan kalimat : ambil tanganku, ku ambil tangan mu. Ini isyarat kepada mereka yang selama ini berbeda, bukan hanya berbeda bahkan cenderung sudah saling mencederai, bahwa setelah proses politik formal selesai, maka selesailah seluruh perbedaan itu, selanjutnya adalah saling merangkul dan berkompetisi dalam kompetensi dan sumberdaya manusia.

Luwu utara tidak boleh dikelola dengan pendekatan dendam, juga bukan pendekatan nepotisme. Tetapi, harus konsisten dengan semangat perubahan yang digalakkan dari awal untuk luwu utara yang lebih baik. Masih banyak masalah yang menjadi pekerjaan rumah di Luwu Utara. Seperti banjir, pembangunan infrastruktur, kemiskinan, pengangguran, narkoba dan masalah sosial lainnya menjadi hal yang harus mendapatkan perhatian. Bahkan disaat kemeriahan HUT Luwu Utara dilaksanakan, pada waktu yang bersamaan pemukiman warga direndam banjir.

“Semoga tujuhbelasmanis ini menjadi tonggak bagi Luwu Utara untuk menjadi lebih indah seindah Bupatinya," seloroh Pak Gubernur SYL di sela-sela sambutannya dan disambut aplaus semua hadirin.

Pengirim: Muhammad Rajab

Tags