Rabu, 01 Juli 2020 08:02 WITA

Bikin Gempar, Rekaman Rahasia Konspirasi Gulingkan Tahta Raja Arab Saudi Bocor

Editor: Nur Hidayat Said
Bikin Gempar, Rekaman Rahasia Konspirasi Gulingkan Tahta Raja Arab Saudi Bocor
Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud. (Foto: Ajelen)

RAKYATKU.COM - Seorang aktivis oposisi Qatar bernama Khalid al-Hail bikin gempar dunia karena membocorkan sebuah rekaman berisi rahasia besar. 

Isinya tentang konspirasi menggulingkan keluarga Kerajaan Arab Saudi.

Beberapa tokoh penting berbicara dalam rekaman konspirasi itu, di antaranya mantan Presiden Libya, Muammar Khadafi.

Selain itu, dua anggota parlemen Kuwait yakni Mubarak al-Duwailah, yang memiliki hubungan dengan Ikhwanul Muslimin, dan mantan anggota parlemen Kuwait lainnya, Fayez Hamed al-Baghili al-Rashidi.

Dalam rekaman itu, Khadafi mengatakan memilih jalan gerakan reformasi daripada perang bersenjata untuk meruntuhkan dinasti keluarga King Al Saud dari tahta tertinggi di Arab Saudi.

"Gerakan reformasi yang dipimpin oleh Sa'ad al-Faqih telah menyebabkan gempa bumi besar di Arab Saudi," kata Khadafi.

loading...

Juga ada rencana menggulingkan tahta Kerajaan Arab yang akan digerakan pria bernama Al-Faqih. 

Dia adalah pembangkang Arab Saudi dan berbasis di London, Inggris, yang menuduh Departemen Keuangan Amerika Serikat memiliki hubungan dengan al-Qaeda pada 2004. Dia telah berulang kali mengkritik Arab Saudi dan menyerukan jatuhnya keluarga Al Saud.

"Dia mulai banyak saluran visual yang mengutuk Al Saud dan rezim mereka dan menghasut orang untuk memberontak dan tidak taat. Saya telah melihat orang-orang dari Riyadh, dan kami tidak bermimpi bahwa suatu hari kami akan menggelar protes di Riyadh. Itu tidak mungkin, kata mereka. Tidak, mudah bagi kami untuk protes dan mereka tidak bisa memadamkan kami. Sekarang dunia terbuka dan semuanya ada di bawah mikroskop, mereka menangkap satu dan neraka akan terlepas, organisasi hak asasi manusia dan lainnya. Keluarga Al Saud telah menyerah pada segalanya, hanya ingin tetap berkuasa selama mungkin," kata Khadafi.

Loading...
Loading...