Kamis, 28 Mei 2020 11:02 WITA

Malu Putrinya yang Berusia 14 Tahun Kawin Lari, Ayah Terancam Penjara 10 Tahun 

Editor: Abu Asyraf
Malu Putrinya yang Berusia 14 Tahun Kawin Lari, Ayah Terancam Penjara 10 Tahun 
ILUSTRASI

RAKYATKU.COM - Reza Ashrafi kini mendekam di ruang sempit yang menggerahkan. Dia juga banjir kecaman usai memenggal kepala putrinya yang baru berusia 14 tahun.

Reza memenggal kepala putrinya dengan sabit tani saat sedang tertidur. Itu terjadi pada Kamis pekan lalu.

Dia emosi setelah korban melarikan diri bersama Bahamn Khavari yang berusia 34 tahun di Talesh. Sekitar 320 kilometer barat laut dari Teheran, ibu kota Iran.

Dalam masyarakat tradisional, kawin lari adalah aib bagi keluarga. Pelaku perempuan dianggap telah menginjak-injak kehormatan keluarganya.

Korban ditemukan lima hari setelah meninggalkan rumah dan dibawa ke kantor polisi. Ayahnya membawanya pulang. Gadis itu dilaporkan mengatakan kepada polisi bahwa ia takut akan reaksi keras dari ayahnya.

Kisah tersebut jadi trending topic di Twitter lewat tagar #RominaAshrafi. Sebagian besar pengguna mengutuk pembunuhan tersebut.

Pada hari Rabu, Presiden Iran Hassan Rouhani mendesak kabinetnya untuk mempercepat undang-undang yang lebih keras terhadap pembunuhan semacam itu. Dia mendorong untuk adopsi cepat undang-undang yang relevan.

loading...

Dalam aturan, anak perempuan dapat menikah setelah usia 13 tahun, meskipun usia rata-rata pernikahan untuk wanita Iran adalah 23 tahun. 

Tidak diketahui berapa banyak wanita dan gadis muda dibunuh oleh anggota keluarga atau kerabat dekat karena tindakan mereka dianggap sebagai melanggar norma konservatif tentang cinta dan pernikahan.

Pengadilan Iran mengatakan kasus Romina akan diadili di pengadilan khusus. Di bawah undang-undang saat ini, ayahnya menghadapi hukuman penjara hingga 10 tahun.

Wakil presiden Iran yang bertanggung jawab atas urusan keluarga, Masoumeh Ebtekar, menyatakan harapannya bahwa RUU dengan hukuman yang lebih keras akan segera berada di tahap akhir persetujuan.

"Kita harus merevisi gagasan bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk anak-anak dan perempuan," komentar Shahnaz Sajjadi, seorang pembantu presiden urusan hak asasi manusia, Rabu (27/5/2020) seperti dikutip dari khabaronline.ir.
 

Loading...
Loading...