Rabu, 27 Mei 2020 09:03 WITA

"Ampun, Aku Tidak Bisa Bernapas," Pria Ini Meninggal Usai Polisi Berlutut di Lehernya

Editor: Abu Asyraf
Seorang perwira kulit putih tampak berlutut di leher pria kulit hitam.

RAKYATKU.COM - Seorang pria kulit hitam meninggal di tahanan polisi Minneapolis, Senin malam (25/5/2020). Sebelumnya, videonya viral saat ditekan lutut oleh polisi di jalanan beraspal.

Dalam video itu, seorang perwira kulit putih tampak berlutut di leher pria kulit hitam tersebut. Dia memohon-mohon agar polisi melepas lututnya karena tidak bisa bernapas, namun diabaikan.

Kematian pria itu dibandingkan dengan kasus Eric Garner, seorang pria kulit hitam New York yang tidak bersenjata yang meninggal pada tahun 2014. Dia juga sempat meronta-ronta karena tidak bisa bernapas.

Pada hari Selasa pagi, Wali Kota Minneapolis, Jacob Frey meminta maaf kepada komunitas kulit hitam dalam sebuah posting di halaman Facebook-nya.

"Menjadi hitam di Amerika seharusnya bukan hukuman mati. Selama lima menit, kami menyaksikan seorang perwira kulit putih menekan lututnya ke leher lelaki berkulit hitam. Lima menit. Ketika Anda mendengar seseorang memanggil bantuan, Anda seharusnya membantu. Petugas ini gagal dalam pengertian yang paling mendasar, manusia," tulis Frey.

Polisi Minneapolis mengatakan pria itu cocok dengan deskripsi tersangka dalam kasus pemalsuan. Dia melawan saat akan ditangkap.

Video itu memperlihatkan seorang petugas tak dikenal berlutut di lehernya dan mengabaikan permintaannya.

"Tolong, tolong, tolong saya tidak bisa bernapas. Tolong, Bung," lelaki itu terdengar memberi tahu petugas itu.

Setelah beberapa menit, salah satu petugas terdengar menyuruh pria itu untuk diam. 

"Ya ampun, aku tidak bisa bernapas," jawab pria itu. 

Beberapa menit berlalu dan lelaki itu menjadi tidak bergerak di bawah kendali petugas.

Beberapa saksi berkumpul di trotoar dekat tempat lelaki itu berbaring. Merekam dengan ponsel mereka. 

Kepala Kepolisian Minneapolis, Medaria Arradondo, berbicara kepada wartawan Selasa pagi. Dia ditanya tentang penggunaan lutut di leher pria itu selama penangkapan.

"Kami jelas memiliki kebijakan menempatkan seseorang di bawah kendali," kata Arradondo.

Namun, dia berjanji akan melakukan penyelidikan secara internal terhadap insiden tersebut.

Nekima Levy-Armstrong, seorang aktivis lokal terkemuka, mengaku muak. Dia mengingatkan kasus Garner yang memicu protes di seluruh negeri beberapa tahun silam.

Sebelum insiden lutut itu, polisi Minneapolis mendapat pengaduan pemalsuan di sebuah bisnis. Juru bicara kepolisian, John Elder mengatakan, pihaknya menemukan pria itu, yang diyakini berusia 40-an. Cocok dengan deskripsi tersangka.

"Dia diperintahkan untuk keluar dari mobilnya. Setelah keluar, dia melawan para perwira," katanya.

Para petugas lalu memborgol tersangka yang tampaknya menderita tekanan medis.

Pria itu, yang tidak diidentifikasi, dibawa dengan ambulans ke Pusat Medis Kabupaten Hennepin. Dia meninggal beberapa saat kemudian.

Biro Penahanan Pidana Minnesota telah bergabung dengan FBI dalam penyelidikannya. Semua rekaman kamera tubuh telah diserahkan kepada BCA. Para petugas yang terlibat telah diberikan cuti administratif, sesuai protokol departemen.

Polisi di Minneapolis telah mendapat sorotan dalam beberapa tahun terakhir karena perselisihan mematikan dengan warga. Seorang pria kulit hitam berusia 24 tahun, Jamar Clark, ditembak di kepala dan meninggal pada 2015 setelah konfrontasi dengan dua petugas kulit putih menanggapi serangan yang dilaporkan. 
 

Loading...
Loading...

Berita Terkait