Senin, 25 Mei 2020 15:02 WITA

Pembangunan Perumahan Gepeng di Jeneponto Bergulir di Kejaksaan, Ternyata Begini Masalahnya

Penulis: Samsul Lallo
Editor: Abu Asyraf
Pembangunan Perumahan Gepeng di Jeneponto Bergulir di Kejaksaan, Ternyata Begini Masalahnya
Perumahan gepeng di Jeneponto.

RAKYATKU.COM,JENEPONTO - Pembangunan Perumahan gelandangan dan pengemis (gepeng) "Desaku Menanti" bergulir di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jeneponto. Lokasinya di Desa Garassikang, Kecamatan Bangkala, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. 

Kepala Bidang Aset Pemkab Jeneponto, Dahlia mengatakan, tanah di atas bangunan rumah gepeng tidak tercatat di aset. Bahkan, kata dia, sudah pernah memberikan kesaksian di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jeneponto, terkait dengan pembangunan rumah gepeng tersebut.

"Intinya tidak tercatat, dipaksaki untuk dicatat. Bagaimana caranya na tidak proses. Saya diminta keterangan di Kejaksaan," ujar Dahlia kepada Rakyatku.com, Senin (25/5/2020).

Dia menjelaskan, surat hibah yang dikirim melalui staf Desa Garassikang itu ditujukan ke bidang aset Pemkab Jeneponto, belum mendapat respons karena diragukan keasliannya.

"Surat hibah yang dikirim itu belum diketahui kebenarannya, apakah asli atau tidak. Belum diyakini karena hanya bukti fotokopi yang diperlihatkan. Bukan aslinya," sebutnya. 

Terpisah, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Pemkab Jeneponto, Armawi A Paki mengatakan, bidang aset sudah mengeceknya. Ternyata tanah itu belum tercatat sebagai aset Pemda Jeneponto.

"Setelah kami konfirmasi kepada kepala bidang aset, dia bilang, kita tidak masukkan di neraca karena penyerahan tanah itu belum diterima pemerintah daerah. Jadi secara otomatis kita tidak bisa mengakui sebagai aset pemda," lanjut Armawi.

Pembangunan Perumahan Gepeng di Jeneponto Bergulir di Kejaksaan, Ternyata Begini Masalahnya

"Kalau memang mau melihat itu ada tanah hibah misalnya, apakah dalam bentuk akte hibah betul yang melalui proses sesuai regulasi. Akte hibah, apakah notaris menyerahkan atau bagaimana seperti itu," lanjutnya.

"Secara fisik, saya belum pernah lihat itu surat. Kalau misal ada surat dan berbeda saya kira keaslian dan motif dari surat yang berbeda perlu ditelusuri ulang kembali. Kenapa bisa berbeda begitu," tambah Armawi.

Ditemui Rakyatku.com, Kepala Desa Garassikang, Andi Rajadeng mengatakan, tanah tersebut dihibahkan kepada Bupati Jeneponto, Iksan Iskandar. Kata dia, tanah itu, mereka atas namakan tanah miliknya supaya bisa dibangun. 

"Masyarakat yang hibahkan kepada Pak Bupati. Saya atas namakan tanahku supaya bisa dibangun. Orang-orang itu kalang kabut saja karena semua orang yang tinggal di sana sudah mendapatkan apa yang ada," ujarnya.

loading...

"Dulu hanya surat keterangan penyerahan lahan kepada pak bupati," tambahnya.

Saat itu, luas lahan disebut dua hektare tanpa mengukurnya terlebih dahulu. Itu dilakukan agar proyek bisa segera turun dari Kementerian Sosial.

"Setelah proyek turun dan sudah dibangun, dibikin mi surat keterangan hibahnya. Itu hanya keterlambatan mengurus, lambat ka mengurusnya," katanya.

Terkait anggaran pembangunan perumahan gepeng tersebut, Andi Rajadeng mengaku tidak tahu persis. 

"Kalau saya yang anunyaji, rumahnya Rp30 juta rupiah per satu rumah. Lima puluh unit bangunan. Keseluruhan saya tidak tahu berapa," katanya.

Mereka juga mengaku sudah pernah dipanggil pihak Kejaksaan Negeri Jeneponto untuk memberikan kesaksian. Dia sudah tidak ingin berapa kali dipanggil. 

"Mungkin saja ada kesalahan tapi bukan kerugian negara, karena saya bukan kontraktornya itu," sebutnya. 

Terkait aset yang belum tercatat, dia bilang sejauh ini memang belum pernah didaftarkan.

"Sudah pernah ke aset, tapi tidak ada yang mendaftar. Jadi saya bilang iya pale, hari Kamis pi," tuturnya.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Jeneponto, Saut Mulatua membenarkan sudah memeriksa beberapa saksi terkait dengan pembangunan rumah gepeng di Jeneponto

Informasi dihimpun, Kementerian Sosial menyalurkan bantuan senilai Rp2,2 miliar ke Kabupaten Jeneponto untuk mengatasi gepeng di daerah tersebut lewat program "Desaku Menanti".
 

Loading...
Loading...