Jumat, 22 Mei 2020 17:03 WITA

Kisah Janda di Jeneponto yang Hidup Sebatangkara di Gubuk Reyot

Penulis: Samsul Lallo
Editor: Abu Asyraf
Kisah Janda di Jeneponto yang Hidup Sebatangkara di Gubuk Reyot
Sada dan gubuk reyotnya.

RAKYATKU.COM,JENEPONTO - Gubuk itu nyaris tak terlihat. Berjarak sekitar 400 meter dari jalan poros Jeneponto-Bantaeng, bangunan tertutup rumah tinggi di depannya.

Di gubuk rata tanah berdinding seng itu, tinggal Sada (51). Sudah delapan tahun dia hidup sebatangkara di sana. Lima anaknya hidup berpencar di tempat lain.

Gubuknya yang berukuran sekitar 4x5 meter berlokasi di Taipalampang, Lingkungan Sangingloe, Kelurahan Bontotanganga, Kecamatan Tamalatea, Jeneponto. 

Sada menjanda sejak 10 tahun lalu. Ditinggal mati suaminya, Sanja. Sementara lima anaknya merantau ke sejumlah daerah.

Si sulung, Sanusi tinggal di Makassar. Dua anak yang lain di Kalimantan, yakni Herman dan Midung. Lalu, Taring di Jayapura dan Seha' tinggal di Kabupaten Pangkep. Anaknya juga hidup pas-pasan di rantau sehingga tak bisa mengirim uang.

Sada sendiri hidup dengan bekerja serabutan. Dia biasanya mendapat uang dari jasa memetik bawang di kebun tetangga. Dalam sehari, dia biasanya memperoleh Rp5.000 hingga Rp15.000. 

"Biasa juga ada yang kasih ka tetanggaku, sembako, mi, minuman berupa sirup dan uang," tutur Sada kepada Rakyatku.com, Jumat (22/5/2020).

Gubuknya yang tak layak huni itu dibangun di atas tanah milik orang lain. Dia hanya meminjam lahan warga bernama Ancu.

Kisah Janda di Jeneponto yang Hidup Sebatangkara di Gubuk Reyot

loading...

Saat gubuk itu dibangun, Sada mengaku mendapat bantuan semen dari tetangganya bernama Ibu Lisda. Semen digunakan sebagai lantai.

Selama ini Sada nyaris luput dari bantuan pemerintah. Seingatnya, dia hanya pernah mendapat beras lima liter dan berlangsung beberapa bulan. 

"Setelah itu sampai sekarang sudah tidak dapat lagi," ujar Sada. 

Tetangga Sada, Ambo dan Karaeng Caddi membenarkan bahwa gubuk itu dibangun di atas lahan orang lain. 

Camat Tamalatea, Haeruddin Limpo mengaku sudah mengunjungi rumah Sada. 

"Pengajuan untuk mendapatkan bantuan itu harus tanah bersertifikat. Di situ persoalannya. Di sisi lain, dia layak dapat bantuan. Namun, pemerintahan juga diikat aturan. Meskipun demikian, tetap kita upayakan pada program lain," lanjut Haeruddin. 

Haeruddin mengatakan, pemerintah setempat seharusnya aktif melaporkan ke pemerintah kecamatan. Lalu, diteruskan ke Dinas Sosial untuk dilakukan bedah rumah atau bantuan lainnya.

"Sangat prihatin. Di dalam, berantakan sekali. Di sana dia makan, tidur. Kondisinya memang sangat tidak layak. Kasihan sekali dengan ekonominya," ungkapnya 
 

Loading...
Loading...