Sabtu, 16 Mei 2020 10:01 WITA

Diserang Trump, China Singgung Utang AS Sebesar Rp29,7 Triliun kepada PBB

Editor: Abu Asyraf
Diserang Trump, China Singgung Utang AS Sebesar Rp29,7 Triliun kepada PBB

RAKYATKU.COM - Presiden AS, Donald Trump terus menyalahkan China dalam wabah virus corona. Negara komunis itu membalas dengan menyinggung utang AS kepada PBB.

Pada Jumat (15/5/2020), China mengeluarkan pernyataan yang menyerukan semua negara anggota PBB agar aktif memenuhi kewajiban keuangan mereka.

China menyebut bahwa Washington berutang lebih dari $ 2 miliar atau sekitar Rp29,7 triliun kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

"Pada 14 Mei, total anggaran rutin PBB dan anggaran pemeliharaan perdamaian yang belum dibayar masing-masing berjumlah 1,63 miliar dan 2,14 miliar dolar AS," kata pernyataan China mengutip laporan dari kantor Sekretaris Jenderal PBB dan pertemuan yang diadakan Kamis (14/5/2020).

"Amerika Serikat adalah debitor terbesar, masing-masing memiliki 1,165 miliar dan 1,332 miliar dolar AS," tambah China.

AS adalah kontributor terbesar untuk anggaran PBB. Membayar 22 persen dari biaya operasional tahunannya. Tagihannya berjumlah sekitar $ 3 miliar dan 25 persen dari operasi pemeliharaan perdamaiannya yang berjumlah sekitar $ 6 miliar per tahun.

Secara resmi, Washington harus membayar 27,89 persen dari anggaran pemeliharaan perdamaian. Tetapi keputusan yang dibuat oleh Kongres dan dilaksanakan Presiden Donald Trump pada 2017 memotong pembayaran itu menjadi 25 persen. Artinya Washington mengalami kekurangan tahunan $ 200 juta per tahun.

loading...

Amerika Serikat juga memiliki tahun fiskal yang berjalan dari Oktober hingga Oktober, yang dapat membuatnya tampak seperti debitur yang bahkan lebih besar pada waktu-waktu tertentu dalam setahun.

Tidak ada tanggapan langsung dari misi AS terhadap pernyataan China.

Pembayaran kontribusi oleh negara-negara anggota untuk operasi penjaga perdamaian memiliki dampak langsung pada penggantian yang dibayarkan PBB kepada negara-negara yang berkontribusi pasukan ke 15 atau lebih misi di seluruh dunia.

Dalam sebuah laporan pada 11 Mei, Sekretaris Jenderal Antonio Guterres memperingatkan bahwa mungkin ada penundaan yang signifikan menjelang pertengahan tahun. Kecuali posisi uang tunai di berbagai misi meningkat secara signifikan.

Pada hari Kamis, sekitar 50 dari 193 negara anggota, termasuk China, membayar kontribusi mereka sepenuhnya, yang dicatat Beijing dalam pernyataannya.

China membayar sekitar 12 persen dari biaya operasional PBB dan sekitar 15 persen dari anggaran pemeliharaan perdamaian.

Tags
Loading...
Loading...