Sabtu, 02 Mei 2020 15:33 WITA

Bayangkan Rasa Takut di Dalam Penjara, Seorang Ibu Minta Pembunuh Putranya Dibebaskan

Editor: Nur Hidayat Said
Bayangkan Rasa Takut di Dalam Penjara, Seorang Ibu Minta Pembunuh Putranya Dibebaskan
Alejo Hunau dibunuh di apartemennya pada 2004. (Foto: ALEJO HUNAU)

RAKYATKU.COM - Seorang perempuan di Argentina menulis surat kepada pihak berwenang untuk membantu membebaskan pembunuh putranya dari penjara selama pandemi virus corona (Covid-19). 

Si pembunuh diketahui memiliki penyakit asma yang bisa membahayakan nyawanya selama masa pandemi.

Februari lalu, Silvia Ontivero, menghubungi beberapa pejabat pengadilan, mendesak permintaan pembebasan bersyarat si pembunuh ditolak. Dia mengatakan krisis yang terjadi belakangan ini membuatnya berpikir ulang.

"Saya memang marah. Saya memang menyimpan kebencian. Namun, saya tidak pernah berharap dia mati," tulisnya dalam sebuah surat terbuka.

Selasa (28/4/2020), Presiden Argentina Alberto Fernández mendukung rencana untuk melindungi para tahanan dengan memindahkan mereka menjadi tahanan rumah jika memungkinkan.

Kerusuhan terjadi di penjara-penjara di seluruh negara tersebut dalam beberapa pekan terakhir, di tengah kekhawatiran bahwa virus itu dapat menyebar dengan cepat di dalam ruang-ruang yang penuh sesak dan sanitasi yang buruk.

Keputusan presiden tersebut telah menimbulkan kontroversi, beberapa kalangan khawatir peradilan dibatalkan, sementara yang lain bersikeras harus lebuh banyak lagi napi yang dibebaskan.

Putra Silvia Ontivero, Alejo Hunau, dibunuh di kota Andean, Mendoza pada tahun 2004.

Diego Arduino dijatuhi hukuman 16 tahun karena tindak kejahatan tersebut.

loading...

Dalam surat terbuka yang dirilis kepada pers setempat, Ontivero mengatakan setelah berpikir keras dan panjang, akhirnya dia mendukung gagasan soal tahanan rumah.

"Kami bicara tentang sesuatu yang berbeda sekarang. Pandemi. Ada banyak penjara yang sesak dipenuhi orang-orang dan saya dapat membayangkan ketakutan yang dirasakan para penghuni di dalamnya," tulisnya.

Dia juga mengatakan kepada situs berita TN bahwa membiarkan si pembunuh berada dalam penjara akan menjadi sebuah hukuman mati, yang selalu dia tentang.

Ontivero sendiri pernah menjadi seorang tahanan politik selama tujuh tahun selama kediktatoran militer negara itu, yang berlangsung dari tahun 1976 hingga 1983.

Sebelumnya dia mengatakan selama ditahan dia banyak waktu untuk merenung dan dia ingin memastikan Arduino punya cukup waktu untuk melakukan hal yang sama, dan menjadikan dirinya pria yang lebih baik, itulah sebabnya dari awal dia menentang Arduino dibebaskan lebih awal.

Putranya adalah seorang jurnalis dan penasihat pemerintah Mendoza.

Sumber: BBC Indonesia

Loading...
Loading...